Bahasa Lematang, Masuk Daftar Bahasa Daerah Terancam Punah

- Sabtu, 19 Februari 2022 | 16:28 WIB
Penggunaan bahasa dalam sehari-hari/ moeslimchoice
Penggunaan bahasa dalam sehari-hari/ moeslimchoice

MoeslimChoice. Berdasarkan hasil penelitian untuk pemetaan dan pelindungan bahasa daerah yang dilaksanakan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1991-2017, ada 18 bahasa daerah yang berada dalam kondisi terancam punah. Bahkan empat bahasa daerah sudah dinyatakan kritis.

Bahasa daerah yang masuk terancam punah itu yakni  9 bahasa daerah di Papua terdiri Bahasa Mander, Namla, Usku, Maklew/Makleu, Bku, Mansim Borai, Dubu, Irarutu, Podena). Empat bahasa daerah di Sulawesi yakni Ponosakan/Ponosokan, Konjo, Sangihe Talaud, Minahasa/Gorontalo).

Kemudian ada 2 bahasa daerah di Sumatera yang berada dalam kondisi terancam punah yakni Bahasa Bajau Tungkal Provinsi Jambi, dan Bahasa Lematang di Sumatera Selatan (Sumsel).

Berikutnya ada juga 2 bahasa daerah di Maluku yang terancam punah yaitu Bahasa Hulung, serta Bahasa Samasuru. Kemudian Bahasa Nedebang di Nusa Tenggara Timur.

Sedangkan terdapat 4 bahasa daerah di Indonesia yang kondisinya kritis atau sangat terancam punah yakni Bahasa Reta di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lalu Bahasa Saponi di Kabupaten Waropen, Papua. Kemudian Bahasa Ibo di Kabupaten Halmahera Barat, serta Bahasa Meher di Pulau Kisar, Maluku.

Dari semua bahasa yang masuk terancam punah itu, ada bahasa daerah Lematang. Bahasa daerah ini banyak digunakan masyarakat di sepanjang aliran Sungai Lematang yang membentang dari Kabupaten Lahat hingga Kabupaten Muara Enim, Provinsi  Sumatera Selatan (Sumsel). Hingga saat ini penuturnya masih sangat banyak. Namun masuk dalam daftar terancam punah dari Badan Bahasa Kemendikbud.

“Bahasa daerah Lematang itu masuk dalam bagian dari bahasa  Basemah yang daerah cakupannya mulai dari Kabupaten Empat Lawang, Kota Pagaralam, Lahat hingga Kabupaten Muara Enim. Nah bahasa daerah itu kemudian terpecah-pecah lagi dan penutur aslinya bisa saja berkurang. Bisa jadi bahasa daerah Lematang masuk daftar terancam punah dalam hal penuturan aslinya. Saat ini banyak bahasa daerah yang  bercampur-campur atau istilahnya bahasa pasar, sehingga bahasa aslinya malah menghilang,” terang Noperman Subhi, salah satu pecinta budaya daerah Sumatera Selatan ini.

Penggiat budaya daerah yang kini menjadi Camat Pasemah Air Keruh (Paiker) Kabupaten  Empat Lawang ini menjelaskan, bahasa daerah Basemah di Kabupaten Empat Lawang sendiri terbagi dalam empat dialek utama yakni Basemah Saling, Basemah Cul, Basemah Lintang dan bahasa daerah Basemah Talang Padang.

“Ada banyak persamaan tapi ada juga banyak perbedaan, bahkan kita sendiri yang satu daerah kadang tidak mengerti. Sehingga terkadang menggunakan bahasa campuran keempatnya. Misalnya kata tidak, ada yang menggunakannya dengan kata Nedo, Nede dan lainnya. Banyaknya percampuran bahasa itu membuat penuturan bahasa asli juga semakin berkurang.  Itulah yang mungkin terjadi di bahasa daerah Lematang,” jelas Noperman.

Halaman:

Editor: Romli

Terkini

Feby Deru Sukses Peragakan Busana Khas Sumsel

Jumat, 23 September 2022 | 09:30 WIB

Orang Kaya Pencuri Cokelat Itu Kena Batunya

Selasa, 16 Agustus 2022 | 13:30 WIB

Inilah Jenis Dukun Spesialis Yang Ada Di Masyarakat

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 16:10 WIB

Sepi Job, Para Dukun Mulai Resah dan Gelisah

Sabtu, 13 Agustus 2022 | 15:27 WIB

Enam Perempuan Ini Perintis Polisi Wanita Indonesia

Selasa, 9 Agustus 2022 | 16:46 WIB

Ini Besaran Gaji Bharada E dan Irjen Ferdy Sambo

Selasa, 9 Agustus 2022 | 16:15 WIB

Begini Cara Masuk Anggota Polri Berikut Syaratnya

Selasa, 9 Agustus 2022 | 15:55 WIB
X