Menangis, Bharada E Ceritakan Penembakan Brigadir J

POLKAM  RABU, 30 NOVEMBER 2022 | 17:15 WIB

Menangis, Bharada E Ceritakan Penembakan Brigadir J

Di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan hari ini, Rabu (30/11/2022), Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E memberikan kesaksian untuk terdakwa lainnya atas pembunuhan berencana terhadap Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J), Ricky Rizal atau Bripka RR dan Kuat Ma'ruf.

Saat memberikan kesaksiannya, Richard berkali-kali tak kuasa menahan tangisnya. Terutama ketika menceritakan bagaimana ia mendapat perintah untuk menghabisi Brigadir J. Juga saat dia memejamkan mata ketika melepas tembakan kepada rekan sekaligus seniornya dalam jarak hanya 2 meter itu.

Dalam kerangannya hari ini, Richard memberikan beberapa fakta baru. Termasuk ada fakta di mana seorang perempuan menangis keluar dari kediaman Ferdy Sambo. Putri Chandrawati sangat marah ketika itu, dan sejak itulah Sambo lebih banyak tinggal di rumah di Jalan Bangka sementara Putri dan anak-anak di Jalan Saguling.

Ia juga mengungkap bahwa Putri dan mendiang Brigadir J sering pergi berdua dalam berbagai kesempatan. Termasuk pergi ke Malang, untuk menengok anak Putri. Jika ke Malang, Putri dan Brigadir J selama 3-4 hari.

Terdakwa kasus dugaan pembunuhan berencana Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E menangis saat menceritakan detik-detik penembakan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J.

Mengenai kejadian di hari tewasnya Brigadir J, Richard mengaku saat di rumah Saguling ia diminta menemui Sambo di ruang keluarga. Di sana ia melihat Sambo menangis.

Lalu, Sambo bertanya kepadanya mengenai peristiwa di Magelang, Jawa Tengah. Namun, Richard mengatakan, dirinya tidak mengetahui peristiwa tersebut.

Saat itulah, Putri Candrawathi datang dan duduk di samping suaminya. Saat itulah Sambo menceritakan peristiwa yang menimpa Putri sembari menangis. Sambo menyebut Brigadir J telah melecehkan Putri di Magelang.

"Baru dia bilang, nangis yang mulia: 'Yosua sudah melecehkan ibu'," lanjutnya. .

"Saya kaget Yang Mulia. Saya ketakutan karena berada di Magelang saat itu. Berarti tidak bisa menjaga Ibu,"  kata Richard seraya bertanya-tanya dalam hati apa benar peristiwa itu ada.

"'Kurang ajar ini, kurang ajar, dia sudah tidak menghargai saya. Dia menghina martabat saya. Memang dia harus dihabisi,'" kata Richard menirukan Sambo.

"Dia bicara sambil emosi, mukanya merah. Jadi setiap habis bicara, dia ada sisi diam untuk nangis dan bilang 'memang harus dikasih mati anak itu'," imbuhnya.

"Kamu tembak dia," kata Sambo yang membuat Richard sangat terkejut dan merasa benar-benar tertekan.

"Aduh. Saya takut, bagaimana ini, mesti bunuh orang," kenang Richard.

Sambo membaca kegalauan Richard lalu memenangkan,"Kamu aman, nanti saya jaga dan bela kamu. Kalau saya yang tembak, tidak ada yang bela kita," ujarnya.

Mendengar itu, Richard makin kalut. Ia benar-benar ketakutan untuk melakukan pembunuhan itu. Tapi Sambo terus-terus mengulang-ulang skenario yang telah disusunnya.

"Dia bilang 'Jadi gini Chard, skenarionya', dia langsung jelaskan skenarionya di situ di Duren Tiga. Kita bilang di 46 ibu dilecehkan Yosua, baru ibu teriak. Kamu dengar kamu respons, Yosua ketahuan, Yosua tembak, kamu tembak'," sambungnya.

"Kamu aman. Posisinya, pertama kamu bela ibu. Kedua membela diri karena Yosua menembak duluan," kata Sambo.

Berulang-ulang Sambo menyebutkan skenario itu, tapi Richard tetap gelisah dan takut.

Setelahnya, Sambo dan Putri tampak berbincang. Namun, Richard yang tengah kacau pikirannya tak dapat mendengar secara detail percakapan keduanya lantaran suara Putri sangat pelan.

"Di samping itu dia ngobrol sama ibu karena ibu suaranya pelan, Yang Mulia, tidak dengar secara detail. Tapi ibu bahas CCTV Duren Tiga dan sarung tangan. Ibu sempat bisik pakai sarung tangan," imbuhnya.

Ketika Sambo kembali mengulangi skenario, Richard menjawab sekenanya,"Siap Bapak."

Kemudian, Sambo memberinya amunisi. Sambo juga disebut memerintah Richard untuk mengambil senjata Brigadir J yang berada di mobil dan menyerahkan kepada Sambo.

"Chard, kalau ada yang nanya bilang mau isolasi," katanya menirukan Sambo.

Richard bergegas mengambil senjata Brigadir J di mobil. Senjata jenis HS itu ia simpan di dalam tasnya. Lalu diserahkan kepada Sambo.

"Saya kasih senjata HS itu, saya kasih ke bapak, saya mau makan tapi pikiran sudah tidak fokus, rencana mau makan tidak jadi makan," katanya.

"Turun, saya ke toilet saya berdoa, Tuhan kalau bisa ubah pikiran Pak Sambo, ubah pikiran ya Tuhan biar enggak jadi karena saya takut, saya enggak tahu mau cerita ke siapa, saya berdoa saya keluar," katanya dengan suara bergetar karena menangis.

Richard kembali menangis saat menceritakan dia diteraki Sambo agar menembak Brigadir J. "Saat melepas tembakan pertama, saya pejamkan mata Yang Mulia," ujarnya terbata-bata dengan wajah memerah.

Ditanya hakim berapa kali dia menembak, Richard tidak yakin namun seingatnya 3-4 kali.

Pembunuhan terhadap Brigadir J terjadi pada Jumat, 8 Juli 2022 di rumah dinas Sambo di Kompleks Polri, Duren Tiga, Jakarta Selatan. Dalam surat dakwaan, Bharada E dan Sambo disebut menembak Brigadir J.

Latar belakang pembunuhan diduga karena istri Sambo yaitu Putri telah dilecehkan Brigadir J saat berada di Magelang pada Kamis, 7 Juli 2022.[ros]


Komentar Pembaca