Pemuka Agama Konsumsi Sabu, Tempat Ibadah Kosong Melompong

Internasional  RABU, 30 NOVEMBER 2022 | 12:40 WIB

Pemuka Agama Konsumsi Sabu, Tempat Ibadah Kosong Melompong

Miris.Pemimpin agama menjadi pemuja sabu-sabu. Lalu, kini tempat ibadah yang mereka pimpin jadi kosong melompong. Peristiwa ini terjadi di sebuah wihara di Distrik Bung Sam Phan, Provinsi Phetchabun, Thailand.

Pejabat bernama Boonlert Thintapthai dilansir BBC, Rabu (30/11/2022), mengatakan bahwa empat biksu, termasuk kepala biara, dinyatakan positif menggunakan metamfetamin--zat yang terkandung dalam narkotika jenis sabu-sabu. Kuil yang mereka pimpin itu berada di Provinsi Phetchabun di bagian utara Thailand.

Boonlert Thintapthai mengatakan, setelah dinyatakan positif menggunakan sabu maka para biksu itu dikirim ke fasilitas kesehatan untuk menjalani rehabilitasi narkoba.

Tes massal narkotika, termasuk kepada para biksu, dilakukan di tengah kampanye nasional untuk memberantas perdagangan narkotika.

Para biksu dilaporkan dikeluarkan dari wihara setelah kepolisian melakukan tes urine pada Senin (28/11/2022). Pihak berwenang tidak menjelaskan rincian kenapa wihara tersebut menjadi sasaran polisi.

Thintapthai mengatakan kepada AFP, "kuil sekarang sudah kosong karena tak ada lagi biksunya dan penduduk desa terdekat khawatir tak bisa berderma".

Derma adalah praktik penting dalam ajaran Buddha. Dalam praktik ini, umat akan mendapatkan kekuatan perlindungan melalui perbuatan baik - termasuk memberikan makanan kepada para biksu.

Namun, Thintapthai mengatakan bahwa pemerintah daerah telah meminta bantuan kepada kepala biara di kawasan itu, yang berjanji untuk untuk menugaskan beberapa biksu baru ke wihara di Distrik Bung Sam Phan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, sabu menjadi masalah besar di Thailand. Penyitaan narkotika tersebut mencapai rekor tertinggi pada 2021, menurut lembaga PBB yang menangani narkotika dan kriminalitas (UNODC).

Negara ini merupakan titik transit utama untuk peredaran sabu. Narkotika ini membanjiri Thailand dari Myanmar - negara produsen terbesar sabu - melalui Laos.

Metamfetamin dalam bentuk pil tersebut kemudian dijual di jalan-jalan dengan harga sekitar 50 Baht atau setara Rp22.000.

Bulan lalu, PM Thailand Prayuth Chan-ocha mendeklarasikan perang terhadap obat-obatan terlarang, setelah kasus petugas kepolisian yang dipecat dari kesatuannya karena penggunaan metamfetamin.

Mantan anggota polisi ini juga yang melakukan pembantaian di sebuah PAUD yang menewaskan 37 anak.

Thailand merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang melegalkan penanaman dan industri, dan konsumsi ganja. Makanan dan obat-obatan berbahan ganja dapat dibeli dengan mudah di semua tempat di Thailand.

Banyak jajanan pasar seperti kue-kue dan es krim berbahan ganja dijajakan di pinggir-pinggir jalan, dengan harga sangat terjangkau. Karena itu Thailand menjadi surga bagi para pecandu ganja cari berbagai belahan dunia.[ros]


Komentar Pembaca