Jawab BKKBN, Rumah Zakat Siap Berperan Wujudkan Indonesia Bebas Stunting

Kesehatan  SENIN, 28 NOVEMBER 2022 | 19:30 WIB

Jawab BKKBN, Rumah Zakat Siap Berperan Wujudkan Indonesia Bebas Stunting

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Hasto Wardoyo mengajak seluruh masyarakat Indonesia, mendukung percepatan penurunan stunting. Atas ajakan ini, Rumah Zakat Indonesia menyatakan siap berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia bebas stunting.

“Maka dari itu stunting ini bisa turun jika kita saling bahu membahu,” kata dia dalam Workshop Stunting “Keluarga Sehat Islami dalam Membentuk Generasi Kuat Sejahtera”, dilansir dari MUIDigital, Senin (28/11/2022).

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa program percepatan penurunan stunting merupakan program yang paling penting, karena terkait pertumbuhan masyarakat Indonesia yang lebih berdaya dan unggul di masa yang akan datang.

Stunting ini, menurut dia, membuat masyarakat Indonesia literasinya rendah. Sebagaimana data yang tercatat bahwa highskill kita sangatlah rendah dibandingkan negara lain, sedangkan mediumskill kita sangatlah tinggi.

“Selain itu orang yang terkena stunting itu kemampuan intelektualnya berbeda dari manusia biasa,”ujar dia.

Da juga setuju dengan apa yang disampaikan Ketua Bidang Peremuan, Remaja, dan Keluarga (PRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Amani Lubis, bahwasannya stunting ini juga bisa terjadi dari faktor lingkungan hidup, misalnya dari jambannya, air kurang bersih, makanan yang tidak sehat, dan lain sebagainya.

“Ciri orang yang terkena stunting ada tiga yaitu pendek, intelektual kurang, dan nanti ketika tuanya mudah penyakitan,”kata dia sembari mengonfirmasi lebih jauh bahwa stunting itu pendek, akan tetapi yang pendek itu belum tentu stunting.

“Penyakit ketika tuanya nanti, yaitu kencing manis, darah tinggi, dan lain sebagainya,” kata dia menambahkan.

Dia juga memaparkan data 4 tahun lalu masyarakat Indonesia yang terkena stunting itu sebanyak 30 persen, dan alhamdulillah pada akhir pada 2021 ini mengalami penurunan yang cukup signifikan.

Terdata akhir pada 2021 lalul, 24,4 persen saja masyarakat Indonesia yang terkena stunting. “Bapak Presiden juga menegaskan stunting ini harus turun menjadi 14 persen,” lanjutnya.

Dia mengimbau jika ada pasangan yang ingin menikah dan tidak ingin terkena stunting, maka harus periksa terlebih dahulu, mengkonsumsi banyak vitamin, dan menjaga pola hidup sehat.

“Pola hidup sehat laki-laki dilihat dari 75 hari sebelum menikah, sedangkan perempuan dilihat dari 90 hari sebelum menikah,” jelasnya.

Workshop ini terselenggara berkat kerja sama KPRK Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), dan CEO Rumah Zakat. Selain dilaksanakan secara offline, workshop stunting dengan tajuk “Keluarga Sehat Islami, Generasi Kuat Sejahatera” ini juga dilaksanakan secara virtual via zoom meeting.

Dalam kesempatan ini, CEO Rumah Zakat Nur Efendi mengungkapkan, peran Rumah Zakat dalam meningkatkan kualitas gizi balita di Indonesia ini melalui program Desa Bebas Stunting.

Menurut Nur, daerah pedesaan memiliki peluang yang besar terhadap stunting. Salah satunya disebabkan minimnya edukasi kepada ibu hamil dan menyusui.

Dia menyebutkan berdasarkan data dari Kementrian Kesehatan melalui Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, angka stunting di Indonesia menurun.

Hal ini bisa dilihat dari data tersebut, pada 2013 angka stunting di Indonesia turun menjadi 37,2 persen. Sementara pada 2018, turun menjadi 30,8 persen.

Meski begitu, menurutnya, jumlah anak stunting di Indonesia masih tergolong tinggi. Meskipun data dari Survey Status Gizi Indonesia (SSGI) 2021 menunjukkan angka prevelensi stunting sebesar 24,4 persen.

“Dalam rangka mengurangi tingkat stunting di Indonesia Rumah Zakat turut berperan dalam meningkatkan kualitas gizi balita di Indonesia,” ujar dia.

Rumah Zakat mengajak kolaborasi pada KPRK MUI, IPB dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) untuk berkolaborasi menurunkan stunting di Indonesia.[ros]

 


Komentar Pembaca