21 Tewas Akibat Kebakaran Rumah di Jalur Gaza, Palestina Berkabung

Internasional  SABTU, 19 NOVEMBER 2022 | 21:00 WIB

21 Tewas Akibat Kebakaran Rumah di Jalur Gaza, Palestina Berkabung

foto/Arab News

Puluhan ribu orang pada Jumat (18/11/2022) berkumpul untuk berkabung atas kematian 21 warga Palestina yang tewas dalam kebakaran tragis di apartemen mereka di kamp pengungsi Jabalia pada Kamis (17/11/2022) malam.

Puluhan ribu orang tersebut berkumpul, sekaligus untuk menghadiri pemakaman para korban, yang kebanyakan adalah wanita dan anak-anak, dari kebakaran rumah yang menimpa keluarga Abu Raya di Jalur Gaza utara.

Kamp Jabalia adalah yang terbesar dari delapan kamp di Jalur Gaza, dengan populasi lebih dari 2 juta warga Palestina, yang hidup dalam kondisi ekonomi yang sulit. 

Salah satu keluarga yang terdiri dari seorang kakek dan nenek, dua putra dan dua putri, istri, suami, dan anak mereka meninggal dalam kecelakaan paling tragis di Jalur Gaza pada tahun 2022. 

Pertahanan Sipil tidak dapat menyelamatkan salah satu korban, sebelum tubuh mereka dilalap api di lantai tiga apartemen yang mereka tempati, tempat keluarga berkumpul.

Sang tetangga, menuduh bahwa petugas pemadam kebakaran datang terlambat sekitar 40 menit ke lokasi kebakaran, yang berlangsung selama kurang lebih dua jam.

Salah satu saksi mata yang ikut serta dalam upaya memadamkan api sebelum kedatangan tim penyelamat mengatakan: "Ketika kami mendengar panggilan darurat dari keluarga dan melihat api, kami naik ke lantai tiga, yang dikunci dengan sebuah pintu besi."

"Setelah membuka pintu dengan bantuan polisi, kami tidak bisa masuk karena asap tebal akibat kebakaran itu," tambah sang saksi mata.

"Petugas pemadam kebakaran tiba di tempat kejadian tidak kurang dari 40 menit setelah kebakaran terjadi," tambahnya.

"Ketika truk pemadam kebakaran tiba, mereka tidak memiliki peralatan yang diperlukan untuk mencapai lantai tiga, dan sebuah mobil derek tiba sekitar satu jam kemudian," tambah saksi lain, seperti dilansir dari Arab News.

Saksi juga mengatakan, "Petugas pemadam kebakaran mengarahkan selang air ke jendela dari tanah menuju apartemen yang terbakar, yang membutuhkan waktu lama untuk memadamkan api."

Otoritas lokal, yang dipimpin oleh Hamas, menuduh Israel mencegah masuknya peralatan yang diperlukan untuk Pertahanan Sipil akibat blokade Jalur Gaza, yang telah berlangsung selama lebih dari 17 tahun.

Kantor media pemerintah di Gaza meminta masyarakat internasional untuk mendesak pencabutan blokade untuk membantu Pertahanan Sipil, 'yang menderita kekurangan pasokan.'

Investigasi awal oleh Kementerian Dalam Negeri, menunjukkan bahwa keluarga tersebut menyimpan bensin, yang menyebabkan api membesar dan cepat menyebar.

Sebuah komite khusus dibentuk untuk menyelidiki penyebab kebakaran tersebut. 

Kesaksian tetangga berbeda tentang kemungkinan penyebab terjadinya kebakaran tersebut. 

Ada yang mengatakan, ada kebocoran gas di apartemen saat keluarga merayakan ulang tahun seorang anaknya.

Sementara yang lain mengatakan, bahwa keluarga berkumpul untuk merayakan kembalinya putra tertua mereka dari luar negeri yang baru saja meraih gelar doktor.

Palestina pun mengumumkan peristiwa tersebut sebagai hari berkabung Nasional. Hal itu diumumkan langsung oleh Presiden Palestina, Mahmoud Abbas.

Warga Palestina mengungkapkan kesedihan yang mendalam atas kematian seluruh keluarga dalam kebakaran itu.

"Gaza ditakdirkan untuk berduka setiap saat dan dengan berbagai cara, baik dengan api, perang, atau blokade. Hati kami tidak dapat lagi menanggung lebih dari rasa sakit ini," ujar Fatima Al-Sinwar, warga Kamp Jabalia.

Seorang juru bicara Kementerian Dalam Negeri mengatakan dalam pernyataan pers, bahwa semua orang yang berada dalam satu rumah meninggal. PBB, Mesir, Yordania, AS, dan negara-negara lain menyampaikan belasungkawa kepada para korban kebakaran.

Jalur Gaza telah menyaksikan insiden kebakaran serupa yang merenggut nyawa sejumlah warga Palestina, yang paling menonjol disebabkan oleh kebocoran gas di sebuah toko roti di kamp pengungsi Nuseirat di Jalur Gaza tengah pada tahun 2020, yang menyebabkan 25 orang meninggal dunia. [mt]


Komentar Pembaca