Opini

Muhasabah Keberpihakan Pada Kebenaran Atau Kebatilan

Opini  JUMAT, 21 OKTOBER 2022 | 12:30 WIB

Muhasabah Keberpihakan Pada Kebenaran Atau Kebatilan

foto/net

Saudaraku,

Kebenaran dan kebatilan selamanya tidak akan pernah bisa dipertemukan dan dikompromikan. Setiap orang harus memiliki sikap yang tegas terhadap salah satu dari kedua hal tersebut, berpihak pada kebenaran atau kebatilan. Orang yang berakal tentu akan berpihak pada sebuah kebenaran....

Ada sebuah pelajaran yang bisa kita ambil dari sikap seekor burung pipit ketika melihat Nabi Ibrahim 'alaihi sallam dibakar oleh Raja Namrud. Si burung ini segera mengambil sikap untuk menolong Nabi Ibrahim 'alaihi sallam yang dianggapnya sebagai pihak yang benar. 

Dia bolak-balik mengambil air dan meneteskannya di atas api yang membakar Nabi Ibrahim 'alaihi sallam.

Melihat hal tersebut, seekor cicak menertawakannya. Si cicak berkata, "Hai pipit! Bodohnya yang kau lakukan itu. Paruhmu yang kecil hanya bisa menghasilkan beberapa tetes air saja. Mana mungkin bisa memadamkan api itu?"  

Pipit pun menjawab, "Wahai cicak! Memang tak mungkin aku bisa memadamkan api yang besar itu. Tapi aku tak mau jika Allah Azza wa Jalla melihatku diam saja, saat sesuatu yang dicintai oleh Allah Azza wa Jalla itu didzalimi. 

Allah Azza wa Jalla tak akan melihat hasilnya, apakah aku berhasil memadamkan api itu atau tidak. Tapi Allah Azza wa Jalla akan melihat di mana aku berpihak?"
 
Cicak terus tertawa. Lantas sambil menjulurkan lidahnya, ia berusaha meniup api yang membakar Nabi Ibrahim 'alaihi sallam. Memang tiupan cicak tak ada artinya, tak akan menambah besar api yang membakar Nabi Ibrahim 'alaihi sallam. Tapi Allah Azza wa Jalla melihat di mana ia berpihak...

Saudaraku,

Apa yang dilakukan burung pipit dan cicak merupakan bukti keberpihakan keduanya terhadap sebuah masalah. Burung pipit berpihak pada kebenaran sedang cicak berpihak pada kebatilan...

Burung pipit memilih membantu Nabi Ibrahim 'alaihi sallam meski dia tahu bantuannya tidak akan bisa memadamkan api. Namun ia yakin, bahwa ini adalah bentuk keberpihakan terhadap kebenaran...

Hal yang sama juga dilakukan oleh seorang sahabat Rasulullah yaitu Abu Dzar Al Ghifari. Setelah melihat ajaran yang dibawa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sebuah kebenaran, maka ia mengajak kaumnya untuk masuk Islam. 

Untuk meyakinkan mereka, Adu Dzar membawa kabilahnya menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam...

Melihat kehadiran rombongan tersebut Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pun menyambut mereka dengan menyatakan: "Suku Ghifar telah diampuni oleh Allah" dan "Suku Aslam telah diberi keselamatan dan kesejahteraan oleh Allah".

Sedangkan secara khusus kepada Abu Dzar, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan: "Tidak akan pernah diketemukan di kolong langit ini seorang manusia yang sangat benar ucapannya, sangat tajam dan sangat tegas dalam hal mengucapkan kebenaran kecuali Abu Dzar."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan secara khusus tentang Abu Dzar karena dia memiliki prinsip bahwa setiap orang harus berpihak pada kebenaran dan melakukan sesuatu untuk menunjukkan keberpihakan pada kebenaran tersebut...

Dari kisah tersebut bisa kita ambil pelajaran yang sangat berharga bahwa setiap orang yang mengaku beriman, harus memiliki keberpihakan yang jelas terhadap sebuah kebenaran yang kini sudah mulai pudar, lentur dan luntur. 

Sangat sedikit orang yang tegas berpihak pada kebenaran. Kebanyakan hanya diam membisu...

Memang, keberpihakan tidak akan merubah takdir Allah Azza wa Jalla. Namun sikap tersebut akan menentukan posisi keberpihakan kita ada di mana. 

Allah Azza wa Jalla berfirman:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۖاِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا

"Dan katakanlah, kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap. Sungguh, yang batil itu pasti lenyap."(QS. Al Isra': 81)

ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ 

ٱلۡمُمۡتَرِينَ ١٤٧

"Kebenaran itu adalah dari Rabbmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu." (QS. Al-Baqarah: 147)

وَقُلِ ٱلۡحَقُّ مِن رَّبِّكُمۡۖ

"Dan katakanlah, kebenaran itu datangnya dari Rabbmu." (QS. Al-Kahfi: 29)

ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّهُۥ يُحۡيِ ٱلۡمَوۡتَىٰ وَأَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٦

"Hal itu karena sesungguhnya Allah sajalah yang haq dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Hajj: 6)

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah senantiasa berpihak pada kebenaran untuk meraih ridha-Nya... Aamiin Ya Rabb. Wallahua'lam bishawab.**

Oleh: Ustadz H. Bagya Agung Prabowo, S.H., M.Hum., Ph.D

Dosen Tetap Fakultas Hukum UII, Sekjen BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional) MUI Propinsi DIY, Wakil Ketua APPHEISI (Asosiasi Pengajar dan Peneliti Hukum Ekonomi Islam Indonesia), Pengurus AMSI (Asosiasi Mediator Syariah Indonesia).


Komentar Pembaca