Akibat Mencari Pembenaran

Opini  SELASA, 11 OKTOBER 2022 | 15:21 WIB

Akibat Mencari Pembenaran

Foto Ilustrasi/net

BELAKANGAN ini sering kita jumpai orang yang hanya mencari pembenaran (justification), bukan mencari kebenaran (truth). Malah terkadang mencampur aduk kebenaran dan kebatilan (talbis al haq wa al bathil).

Orang yang mencari kebenaran akan mulai dengan “meragukan” apa yang ia yakini. Ia berusaha berpikir terbuka dan objektif, serta tidak bersikap defensif.

Orang yang mencari kebenaran selalu bersemangat terhadap informasi baru, berusaha memahami pendapat dan sudut pandang orang lain, serta melakukan check and recheck terhadap suatu isu. Intinya, memastikan terlebih dulu semua informasi yang ia miliki lengkap dan akurat, baru kemudian menyimpulkan dan menyampaikan pendapat. 

Ia tidak khawatir berbuat salah karena itu manusiawi, bahkan mengakuinya sebagai bagian dari introspeksi diri. Ia tidak tertarik merendahkan pendapat orang lain karena sadar dirinya belum tentu yang paling benar.

Orang yang mencari pembenaran akan mulai dengan meyakini 100% pendapatnya sendiri. Ia sesungguhnya hanya ingin mencari cara agar orang lain setuju.

Orang yang mencari pembenaran menyimak pendapat orang lain sekedar untuk tahu bagaimana membantahnya, mengajukan informasi yang mendukung keyakinannya, menyembunyikan informasi yang melawan pendapatnya, memutar opini seolah itu adalah fakta, mengaburkan fakta dengan mengajukan isu lain yang tidak relevan, dan kalau perlu, menyerang pribadi lawan berdebat seolah sang lawan tidak layak berpendapat.

Kebenaran akan menenteramkan hati, sementara pembenaran hanyalah akan membuat hati guncang dan ragu. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits diriwayatkan dari Wabishoh bin Ma’bad, “Engkau bertanya kepadaku tentang kebaikan dan dosa.” Wabishoh menjawab, “Iya wahai Rasulullah.” Lalu Rasulullah mengumpulkan tiga jarinya dan menusukkannya ke dada Wabishoh, dan bersabda, ” Wahai Wabishoh, tanyalah hatimu. Kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan jiwamu tenteram. Sedangkan dosa adalah sesuatu yang mengganjal di hatimu dan mengguncang dadamu, meskipun orang-orang sudah memberimu jawaban". (HR. Ahmad juz 37, hlm. 438 no. 17315).

Kebenaran akan bertahan lama, sementara pembenaran cepat atau lambat akan tersingkap kepalsuannya.

Kebenaran melahirkan kebaikan, sedangkan pembenaran melahirkan kerusakan. Pengguna topeng pembenaran menggunakan retorika untuk membela kepentingan diri, mempertahankan zona aman dan nyamannya.

Pencari kebenaran selalu bermuhasabah, mengintrospeksi dirinya, sedangkan pengguna pembenaran selalu menutupi cacatnya. 

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Orang yang pandai adalah yang mengekang jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang lemah adalah yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan banyak berangan-angan terhadap Allah". (HR. At-Turmudzi dan Ibnu Majah).

Kebenaran terkadang pahit dan tidak sesuai dengan hawa nafsu sedangkan pembenaran selalu mengikuti hawa nafsu. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,n“Surga itu dikelilingi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka dikelilingi oleh syahwat”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kebenaranlah yang pada akhirnya bermanfaat di akhirat, sedangkan pembenaran hanya akan mempersulit hisab seseorang.

Semoga Allah Azza wa Jalla mengaruniakan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita tetap istiqamah mencari dan mengikuti kebenaran di mana pun dan kapan pun untuk meraih ridha-Nya.Aamiin Ya Rabb. Wallahua'lam bishawab.[***]

Oleh: Ustadz H. Bagya Agung Prabowo, S.H., M.Hum., Ph.D
Dosen Tetap Fakultas Hukum UII, Sekjen BASYARNAS (Badan Arbitrase Syariah Nasional) MUI Propinsi DIY, Wakil Ketua APPHEISI (Asosiasi Pengajar dan Peneliti Hukum Ekonomi Islam Indonesia), Pengurus AMSI (Asosiasi Mediator Syariah Indonesia).



Komentar Pembaca