Raja Salman dan Raja Charles III Sampaikan Belasungkawa atas Tragedi Kanjuruhan

Internasional  KAMIS, 06 OKTOBER 2022 | 19:30 WIB

Raja Salman dan Raja Charles III Sampaikan Belasungkawa atas Tragedi Kanjuruhan

foto/net

Tragedi memilukan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur yang menewaskan sebanyak 131 korban meninggal mendapat sorotan luas. Ungkapan belasungkawa pun berdatangan dari sejumlah tokoh dunia. Di antaranya Raja dan Putra Mahkota Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz dan Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) menyampaikan pesan belasungkawa atas insiden yang menewaskan ratusan korban jiwa itu kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Kami telah mengetahui berita tentang korban kerusuhan yang terjadi selama pertandingan sepak bola dan mengakibatkan kematian dan cedera," kata Raja Salman, seperti dilansir dari Arab News, Kamis, (6/10/2022).   

"Kami menyampaikan kepada Anda, keluarga almarhum, dan masyarakat Indonesia, duka cita yang sedalam-dalamnya," lanjutnya.  

Dia berharap, proses pemulihan bagi seluruh korban terdampak bisa berjalan cepat. Selain itu, dia pun mendoakan agar Indonesia senantiasa terhindar dari hal-hal buruk yang tidak diinginkan.   

"Semoga Tuhan memberikan pemulihan yang cepat bagi yang terluka, dan melindungi Anda dan masyarakat Indonesia dari semua hal buruk," katanya.   

Tak hanya Raja Arab Saudi, Pemimpin baru Kerajaan Inggris, Raja Charles III, juga turut menyampaikan duka mendalam atas tragedi Kanjuruhan. Ungkapan duka disampaikannya melalui pernyataan tertulis di akun media sosial Twitter Royal Family.

"Saya dan istri saya, sangat sedih mendengar hilangnya nyawa dan cedera pada pertandingan sepak bola di Malang pada 1 Oktober 2022," tulis @RoyalFamily.   

"Saya menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada Anda, keluarga yang terkena dampak dan masyarakat Republik Indonesia di masa sulit ini," tambah pernyataan itu.   

Insiden di Malang itu menjadi catatan kelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Beberapa media asing juga turut menyoroti tragedi kemanusiaan Kanjuruhan.   

Sementara itu, The Guardian dalam laporannya menyebut, bahwa insiden itu sebagai tragedi paling mematikan dalam sejarah olahraga stadion di dunia. 

Penembakan gas air mata oleh polisi sebagai tanggapan atas invasi lapangan oleh penggemar yang membuat kerusuhan menyebabkan kepanikan di antara para penonton.   

Selain itu, The New York Times Times juga menyoroti metode yang digunakan kepolisian dalam menghadapi kerusuhan Kanjuruhan. [mt]


Komentar Pembaca