Soal Tragedi Kanjuruhan, Ini 6 Pernyataan Sikap Jaringan Gusdurian

BERITA  SELASA, 04 OKTOBER 2022 | 21:15 WIB

Soal Tragedi Kanjuruhan, Ini 6 Pernyataan Sikap Jaringan Gusdurian

Alissa Wahid/foto:net

Jaringan Gusdurian mendorong langkah konkret dari berbagai pihak untuk menyelesaikan tragedi kemanusiaan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan dilansir  Malang, Jawa Timur, yang menewaskan ratusan korban, angka resmi menyebut 125 orang meninggal dunia. 

Pada Sabtu (1/10/2022) publik dikejutkan dengan peristiwa kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan. Peristiwa itu terjadi sesaat setelah pertandingan Liga 1 antara Arema Malang vs Persebaya Surabaya usai.

Tragedi Kanjuruhan menjadi tragedi terbesar kedua dalam sejarah sepak bola dunia. Tragedi paling dahsyat terjadi di Estadio National, Peru pada 1964, dan juga terjadi karena penembakan gas air mata di dalam stadion. 

"Hal ini tentu menjadi pertanyaan mengingat tidak ada potensi bentrok antarsuporter karena hanya pendukung Arema yang diperbolehkan masuk ke stadion," kata Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, seperti dilansir dari NU Online, Senin (3/10/2022).  

"Berbagai spekulasi pun muncul, salah satunya mengenai penyebab meninggalnya ratusan korban karena sesak napas akibat gas air mata yang ditembakkan aparat kepolisian ke kerumunan penonton di berbagai titik," tambah Alissa. 

Sementara FIFA melalui peraturan FIFA Stadium Safety and Security Regulations dengan tegas melarang penggunaan gas air mata untuk mengendalikan massa. Pada pasal 19 b tertulis, "No firearms or 'crowd control gas' shall be carried or used".

"Dari berbagai sumber, juga didapat informasi bahwa kepolisian setempat dan panitia pelaksana sudah meminta untuk mengubah jadwal pertandingan menjadi sore hari, namun permintaan ini ditolak PT Liga Indonesia Baru sebagai penyelenggara kompetisi. Diinformasikan pula bahwa panitia mencetak tiket melebihi kapasitas tempat duduk di stadion," ungkap Alissa. 

Jaringan Gusdurian pun memberikan 6 poin sebagai pernyataan sikap terhadap kasus tersebut:  Pertama, berduka cita kepada korban dan keluarganya atas tragedi kemanusiaan yang terjadi. Kedua, mengecam dan menyesalkan tindakan aparat yang represif dan menembakkan gas air mata ke tribun penonton. 

Diduga ratusan korban meninggal dunia karena tindakan tersebut. Kepolisian harus melakukan evaluasi total terhadap protap keamanan pertandingan sepak bola. 

Ketiga, meminta Pemerintah Indonesia untuk mengusut tuntas tragedi kemanusiaan ini dengan membentuk tim investigasi independen dan menghukum siapa pun yang bersalah. Keempat, meminta Komnas HAM untuk mengusut dugaan pelanggaran HAM yang dilakukan aparat dalam penanganan keamanan di stadion. 

Kelima, mendesak PSSI untuk membekukan segala aktivitas sepak bola sampai ada evaluasi yang menyeluruh terhadap penyelenggaraan pertandingan sepak bola. Keenam, mengimbau kepada masyarakat untuk memperkuat solidaritas dan melawan segala bentuk fanatisme buta. Tidak ada sepak bola yang lebih berharga daripada nyawa. [mt]


Komentar Pembaca
Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Rabu, 30 November 2022 | 18:10

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Selasa, 29 November 2022 | 18:55