MUI: Syaikh Qaradawi Mengajak Melihat Sejarah Islam Secara Proporsional

Nasional  SELASA, 04 OKTOBER 2022 | 06:19 WIB

MUI: Syaikh Qaradawi Mengajak Melihat Sejarah Islam Secara Proporsional

Syaikh Yusuf Al Qaradhawi wafat dalam usia 96 tahun dan dimakamkan di Doha, Qatar, Selasa (27/9/2022), dengan dihadiri banyak tokoh terkemuka. Sementara di negeri asaalnya, Mesir, Syaikh Yusuf Al Qaradhawi telah dijatuhi hukuman mati. Padahal dia merupakan ulama menawarkan pemikiran untuk meletakkan sejarah Islam lebih proporsional.

Qaradhawi yang merupakan pemimpin spiritual Ikhwanul Muslimin, meninggal di Qatar Senin lalu pada usia 96 tahun. Dia salah satu ulama paling terkenal di dunia namun dianggap kontroversial. Dia intelektual publik dan merupakan salah satu dari sedikit ulama Muslim yang secara terbuka mendukung Pemberontakan Musim Semi Arab di Mesir dan di seluruh dunia Arab pada 2011.

Pemakamannya dihadiri antara lain Emir Qatar Sheikh Abdullah bin Hamad Al Thani, perwakilannya Sheikh Jassim bin Hamad Al Thani, Perdana Menteri dan Menteri Dalam Negeri Khalid bin Khalifa Al Thani, dan Menteri Wakaf Ghanem bin Shaheen al-Ghanim menghadiri pemakaman.

Ismail Haniyeh, Kepala Biro Politik Hamas Palestina yang didukung Qaradhawi, Khaled Meshaal, yang mengepalai Kantor Diaspora Hamas, dan Kepala Urusan Agama Turki Ali Erbash juga hadir.

Haniyeh mengatakan bahwa dunia Arab dan Muslim telah kehilangan salah satu ulama paling terkemuka yang mendedikasikan hidupnya untuk melayani masalah Arab dan Muslim, khususnya masalah Palestina.

Sementara itu Sekretaris Lembaga Seni, Budaya, dan Peradaban Islam (LSBPI) MUI Tiar Anwar Bachtiar menyebut, Syaikh Yusuf Qaradawi menawarkan pemikiran untuk meletakkan sejarah Islam lebih proporsional.

Dalam salah satu karyanya yang berjudul Tarikhuna al Muftaro ‘Alaih), Yusuf Al Qaradawi berupaya mengajak pembacanya agar tidak mengawali membaca sejarah Islam dengan pandangan negatif. Ia mencontohkan dalam kasus Bani Umayyah, banyak sekali narasi sejarah yang memandang buruk tentang Bani Umayyah.

“Seolah-olah sejarah Islam itu buruk sekali, seolah-olah yang namanya Bani Umayyah itu tidak ada baik-baiknya, konflik para sahabat seolah membuat kita menjadi tidak perlu lagi mengambil pelajaran dari mereka,” ungkap Tiar Anwar memaparkan pemikiran Yusuf Qaradawi dalam diskusi Historiografi Sejarah Islam dilansir laman MUIDigital, Selasa (4/10/2022).

Dalam kegiatan yang digelar LSBPI MUI itu, Tiar menambahkan, pemikiran Yusuf Qaradawi itu memiliki landasan kuat karena beliau begitu mendalami sejarah Islam. Setidaknya ada 200 buku Yusuf Qaradawi yang berisi analisis sejarah Islam.

“Ini menandakan bahwa Syaikh Yusuf Al Qaradawi adalah orang yang sangat paham dengan sejarah Islam, ” ujar Doktor Sejarah Universitas Indonesia itu.

Tiar memaparkan, pandangan Yusuf Qaradawi itu mampu menempatkan sejarah Islam secara lebih proporsional. Banyak pula kebaikan-kebaikan dalam sejarah peradaban Islam yang perlu diungkap.

“Kejelekannya ada, tapi itu tidak dominan, lebih dominan kebaikannya. Inilah maksud beliau ketika menulis buku Tarikhuna al-Muftaro Alaih yang bukunya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Distorsi Sejarah Islam, ” pungkasnya.[ros]


Komentar Pembaca
Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Rabu, 30 November 2022 | 18:10

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Selasa, 29 November 2022 | 18:55