Di Era Media Sosial, Agama Jadi Penyelamat

POLKAM  RABU, 28 SEPTEMBER 2022 | 10:30 WIB

Di Era Media Sosial, Agama Jadi Penyelamat

Di tengah perubahan kehidupan yang luar biasa, termasuk kehadiran media sosial, banyak nilai positif tetapi juga masalah dan ancamannya juga tidak kalah. Dengan teknologi informasi yang canggih, orang bisa belajar dengan mudah. Tetapi orang bisa menemukan hal-hal yang buruk.

“Bahkan menurut temuan Kementerian Agama setelah medsos berkembang, Hp berkembang itu katanya tingkat perceraian juga tinggi. Saya tidak tahu hubungannya apa, jadi gara-gara Hp itu kemudian retak keluarga. Bukan karena Hp nya sebenarnya itu, tapi yang menggunakan Hp nya itu. Maka penting sekali diajari agama, diajari iman dan taqwa, dan tauhid agar punya basic yang kuat,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Haedar Nashir ini saat mengisi Pengajian Akbar Muhammadiyah Malang yang dilansir dari laman Muhammadiyah.or.id, Rabu (28/9/2022).

Haedar melanjutkan di surat Fathir itu ada pertanyaan Allah, kamu mau kemana? Ini sebenarnya semacam kritik terhadap orang Quraisy yang tidak percaya terhadap risalah Nabi, tidak percaya ada hari akhirat. Lalu muncul kritik itu, kamu mau kemana. “Dalam hidup orang islam itu jelas tujuan hidupnya bahwa hidup kita ini tugasnya untuk ibadah, yang kedua menjalankan fungsi kekhalifahan, tujuan lebih jauhnya meraih ridha dan karunia Allah di dunia dan akhirat. Disitulah pentingnya mendidik anak-anak bangsa dengan agama, maka para tokoh bangsa pendiri Republik ini juga arif, bijaksana,” jelas Haedar.

“Ketika merumuskan Pancasila sila pertamanya, Ketuhanan yang Maha Esa. Ketika merumuskan pembukaan Undang-Undang Dasar 45 ada kalimat dengan rahmat Allah yang Maha Kuasa, bahkan di pasal 29 itu jelas-jelas disebutkan tentang agama, juga di pasal 31 tentang pendidikan bahwa pendidikan itu kita harus dasarnya iman, taqwa, akhlak mulia, nilai agama,” sambungnya.

Jadi, kata Haedar, agama inilah yang akan menyelamatkan bangsa ini, menyelamatkan generasi ini, menyelamatkan keluarga kita, menyelamat kehidupan kita, karena agama akan selalu membingkai tentang mana yang benar mana yang salah, mana yang baik mana yang buruk, mana yang pantas dan mana yang tidak pantas, dengan dasar-dasar agama yang kuat.

Maka, menurutnya, Muhammadiyah pun terus menggelorakan semangat keIslaman sebagai dasar hidup. “Alhamdulilah Muhammadiyah ini banyak kiai, kemudian di daerah sampai cabang dan ranting yang ikut mewarnai bahkan menjadi kekuatan rohani kita di dalam persyarikatan,” tuturnya.

Agama, lanjut Haedar, harus menjadi pondasi di manapun termasuk di Sekolah. Tetapi jangan lupa, tugas mengajarkan agama itu bukan hanya tugas Sekolah tetapi juga tugas keluarga. “Bagaimana Lukman mendidik anaknya itu kan contoh buat kita, do’a itu sebenarnya doa mengingatkan yang kita semua agar anak kita itu menjadi generasi qurrata ayun, maka kerja sama orang tua dengan sekolah menjadi penting. Kalau sekolah ada kekurangan beri masukan, sebaliknya juga sekolah memberi masukan pada orang tua agar setelah dan dari luar sekolah tugas mendidik ada pada anak,” terangnya.

“Ketika musim pandemi kemarin itu banyak orang tua, tidak banyak, muncul di media itu orang-orang tua segera meminta sekolah dibuka. Ternyata usut punya usut dia sudah kewalahan didik anaknya di rumah. Sampai ada Gubernur, Bupati yang bilang daripada anak pergi istilahnya itu keluyuran katanya kemudian juga ke tempat-tempat yang tidak perlu lebih baik sekolah dibuka, itu cara yang tidak pas sebenarnya. Pertanyaan kenapa keluarga-keluarga itu kok kewalahan menghadapi anaknya sendiri. Itu menjadi tugas kita bersama mendidik qurrota ayun. Tentu agama itu juga harus agama yang tadi mencerdaskan, mencerahkan, dan memandu kehidupan kita,” ungkap Haedar.[ros]


Komentar Pembaca
Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Rabu, 30 November 2022 | 18:10

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Selasa, 29 November 2022 | 18:55