Mengunjungi Ka'bah dan Masjidil Aqsa via Virtual Reality

Wisata  SENIN, 12 SEPTEMBER 2022 | 07:33 WIB

Mengunjungi Ka'bah dan Masjidil Aqsa via Virtual Reality

Subhanallah..kini umat beragma bisa mengunjungi tempat-tempat suci agama mereka tanpa beranjak dari tempat duduk, cukup via teknologi virtual reality (VR=realitas maya). Umat Islam bisa mengunjungi Ka'bah di Masjidil Haram, Arab Saudi, dan Masjidil Aqsa di Palestina.

Beberapa pengembang platform VR fokus mereka ulang suasana Ka’bah di Mekah hingga Tembok Ratapan di Yerusalem untuk dinikmati para pengguna Teknologi VR. Dari tur kota suci Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa, hingga ziarah ke Tembok Ratapan dan Ka’bah di Mekah, jemaah dan wisatawan dari seluruh dunia bisa bisa bergabung dalam perjalanan spiritual dalam realitas maya, alias virtual reality, ke beberapa situs paling suci di Bumi.

Eksplorasi realitas maya dengan tema keagamaan merupakan satu di antara banyak ruang virtual yang berkembang dalam dunia virtual yang disebut metaverse.

“Kami percaya realitas maya adalah bentuk internet yang baru, cara baru orang-orang untuk tidak hanya menonton layar secara pasif dan hanya mengklik foto dan video, tetapi juga untuk benar-benar menteleportasi diri mereka dan menjalani elemen telekolektivisme dan telepresence, di mana mereka bisa bepergian, menjelajah dan merasakan perbedaan ritual, budaya, arsitektur... mencicipi dunia tanpa benar-benar harus mengeluarkan uang," ujar Nimrod Shanit, produser dan direktur platform realitas maya The Holy City virtual reality dilansir dari VOA, Senin (12/9/2022).

Telepresence adalah sistem komunikasi interaktif audio-video dalam ruangan virtual, seolah-olah seluruh peserta berada di ruangan yang sama.

Pada tahun 2015, Shanit mulai membangun The Holy City, platform realitas maya yang memungkinkan orang-orang ‘mengunjungi’ situs-situs paling suci di Yerusalem. Peziarah virtual dapat mengikuti ulama Ortodoks secara virtual ketika mereka muncul dari Gereja Makam Suci dalam upacara Api Kudus, menyelipkan catatan doa ke celah Tembok Ratapan, atau mengikuti langkah ribuan jemaah di Masjid Al-Aqsa saat bulan Ramadan.

“Kami menangkap suasana tempat-tempat ini, sehingga ketika Anda mengenakan headset, Anda bisa benar-benar merasa seperti sedang ada di sana." “Anda bisa berjalan-jalan jika Anda berada di tempat yang besar, seolah-olah Anda sedang berada di dalam Makam Suci atau di halaman Tembok Ratapan atau halaman Masjid Al-Aqsa," kata Nimrod Shanit.

Pada tahun yang sama, Ehab Fares, kepala eksekutif agensi digital BSocial, mulai menciptakan pengalaman virtual yang memungkinkan pengunjung realitas maya, alias VR, untuk berziarah dan menjelajahi beberapa situs paling suci dalam agama Islam, termasuk Mekah. Ia menyebut platformnya Experience Makkah.

“Generasi muda terpaku pada gawai. Saya ingin menjangkau generasi itu dan memperkenalkan Islam melalui teknologi," kata Ehab Fares.

Meski demikian, Fares mengatakan, pengalaman dalam realitas maya tidak serta-merta menghilangkan ritual keagamaan di dunia nyata.

“Dalam hal pengalaman spiritual, teknologi ini membuat Anda hampir merasakan pengalaman yang sesungguhnya. Tapi ia tidak menggantikan pengalaman tersebut," katanya.

Versi terbaru platform VR itu bisa dijelajahi dengan menggunakan Google Cardboard, alat peneropong realitas maya yang terbuat dari kardus dengan harga terjangkau, yang mengubah telepon pintar menjadi medium untuk menyelami dunia VR.

Proyek realitas maya berbasis agama juga membuat terobosan di dunia akademis.

Pada musim semi lalu di Universitas Miami, para mahasiswa mencoba mengenakan headset VR untuk menyaksikan video 360 derajat upacara Voodoo Haiti, upacara pemakaman Hindu dan pembaptisan Kristen, dalam mata kuliah Agama dan Ruang Suci di Era Realitas Maya dan Kecerdasan Buatan. Para mahasiswa juga dapat menciptakan ruang sakral virtual mereka sendiri.

“Di titik tertentu, agama melibatkan pikiran sekaligus raga Anda, dan Anda tidak bisa melakukannya dalam format dua dimensi. Meski demikian, Anda bisa melakukannya dalam metaverse," kata William Green, dosen Studi Keagamaan di Universitas Miami. [ros]


Komentar Pembaca
Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Suporter Asal Meksiko Menjadi Mualaf

Rabu, 30 November 2022 | 18:10

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Lebih Memilih Al-quran Daripada Hp

Selasa, 29 November 2022 | 18:55

PC Sering Pergi dengan Brigadir J, Sambo Selalu Pulang Malam
Makkah dan Madinah akan Diguyur Hujan Deras pada Selasa-Rabu

Makkah dan Madinah akan Diguyur Hujan Deras pada Selasa-Rabu

Kabar Tanah SuciMinggu, 27 November 2022 | 19:43

Anne Ratna Mustika Sebut Dedi Mulyadi Masih Punya Hutang Miliaran
Lho... Komaruddin Tidak Ingin Ferdy Sambo Dihukum Mat

Lho... Komaruddin Tidak Ingin Ferdy Sambo Dihukum Mat

HukumMinggu, 27 November 2022 | 12:05

 Mauna Loa, Gunung Api Terbesar di Dunia Meletus

Mauna Loa, Gunung Api Terbesar di Dunia Meletus

InternasionalKamis, 01 Desember 2022 | 12:50

Menguatkan Dua Sisi Iman

Menguatkan Dua Sisi Iman

KajianJumat, 02 Desember 2022 | 19:00

OJK: Jaminan Kesejahteraan Masyarakat di Perbankan Syariah Lebih Baik

OJK: Jaminan Kesejahteraan Masyarakat di Perbankan Syariah Lebih Baik

Ekonomi SyariahJumat, 02 Desember 2022 | 18:30

Ditolak RS Inggris, Bocah Muslim Meninggal 10 Hari Kemudian

Ditolak RS Inggris, Bocah Muslim Meninggal 10 Hari Kemudian

InternasionalJumat, 02 Desember 2022 | 18:00

Innalillahi..Mantan Menteri ATR Meninggal di Basement Hotel Bidakara
Laksamana Yudo: 1991 Saya Sudah Bersatu dan Solid dengan Polri