Hukum Menindik Telinga Bayi

Kajian  JUMAT, 19 AGUSTUS 2022 | 10:30 WIB

Hukum Menindik Telinga Bayi

Para orangtua biasanya menindik telinga bayi perempuan mereka beberapa hari setelah si anak dilahirkan. Bagaimana hukumnya dalam Islam?

Menjawab pertanyaan ini, di lansir dari laman NU.or.id, Jumat (19/8/2022), ada penjelasan bahwa persoalan hukum menindik daun telinga bayi perempuan, mayoritas ulama Mazhab Syafi’i, Hanbali, Maliki,  dan Mazhab Hanafi memperbolehkannya apabila tujuan menindik untuk menghias diri.

Salah seorang ulama Mazhab Hanafi, yakni Imam Syalbi dalam kitab Tabyin al-Haqa’iq, juz VI, halaman 227 (Kairo: Dar al-Kutub al-Islamy, 1313 H), menyatakan:
يجوز ثقبُ آذانِ البنات لا الأطفال؛ لأنَّ فيه منفعةً وزينةً، وكان يُفعَلُ في زمنه صلى الله عليه وسلم إلى يومِنا هذا من غير نكير

Artinya: “Dibolehkan menindik telinga anak perempuan, bukan laki-laki karena di dalamnya terdapat tujuan untuk berhias. Tindik telinga juga dilakukan (oleh para perempuan) di zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini dan tidak dibantah”.

Para ulama yang memutuskan diperbolehkannya menindik telinga, melandaskan pendapat mereka pada hadits Nabi riwayat ‘Aisyah Ra., di mana dalam hadits tersebut dikisahkan ada sebelas wanita yang berkumpul membicarakan perihal suami-suami mereka. Lantas Ummu Zar’in berkata;
 أَنَاسَ مِنْ حُلِيٍّ أُذُنَيَّ

Artinya: “Suamiku memberikanku perhiasan pada telingaku”

Selanjutnya, pada akhir hadits, Rasulullah SAW berkata kepada ‘Aisyah ra:
 فَكُنْتُ لَكَ كَأَبِي زَرْعٍ لِأُمِّ زَرْعٍ

Artinya: “Bagimu, aku bagaikan Abu Zar’in bagi Ummu Zar’in” (HR. Al Bukhari no. 5189 dan Muslim no. 2448).

Pernyataan Nabi di atas mengindikasikan bahwa Nabi tidak melarang perempuan-perempuan menggunakan perhiasan di telinga mereka.

Berikutnya, terdapat pula hadis yang diriwayatkan oleh Jabir bin ‘Abdillah dalam kisah Shalat Hari Raya di mana pada saat itu Rasulullah SAW mengkritik perempuan-perempuan yang enggan bersedekah, kemudian:
 فجعلْنَ يتصدقْنَ من حليِّهِنَّ . يُلقِين في ثوبِ بلالٍ من أقرطتهِنَّ وخواتمهِنَّ

Artinya: “.. maka para wanita menyedekahkan perhiasan-perhiasannya, mereka meletakkan anting-anting dan cincinnya pada baju Bilal” (HR. Al Bukhari no. 964, dan Muslim no. 885)

Anting-anting tersebut diterima sebagai bagian dari sedekah. Hal tersebut menunjukkan bahwa anting-anting merupakan barang yang tidak dilarang dalam Islam. Karena kalau misalkan dilarang, tentunya Nabi tidak akan menerimanya sebagai bagian dari sedekah. Berarti dari sini kita bisa menyepakati bahwa menindik daun telinga perempuan untuk tujuan berhias, memasang anting-anting, hukumnya adalah diperbolehkan.

Lantas bagaimana jika tindak penindikan tersebut dilakukan saat perempuan itu masih bayi? Dalam kitab Mughni al-Muhtaj disebutkan bahwa Imam al-Ghazali termasuk ulama yang tidak memperbolehkannya dengan alasan bahwa hal tersebut merupakan perbuatan yang bisa menyakiti si bayi sehingga haram untuk dilakukan:
 فَائِدَة : قَالَ فِي اْلإِحْيَاءِ لاَ أَدْرِيْ رُخْصَةً فِي تَثْقِيْبِ أُذُنِ الصَّبِيَّةِ لأَجْلِ تَعْلِيْقِ حُلِيِّ الذَّهَبِ أَيْ أَوْ نَحْوِهِ فِيْهَا، فَإِنَّ ذَلِكَ جُرْحٌ مُؤْلِمٌ، وَمِثْلُهُ مُوْجِبٌ لِلْقِصَاصِ، فَلاَ يَجُوْزُ إلاَّ لِحَاجَةٍ مُهِمَّةٍ كَالْفَصْدِ وَالْحِجَامَةِ وَالْخِتَانِ. وَالتَّزَيُّنُ بِالْحُلِيِّ غَيْرُ مُهِمٍّ، فَهَذَا وَإِنْ كَانَ مُعْتَادًا فَهُوَ حَرَامٌ، وَالْمَنْعُ مِنْهُ وَاجِبٌ، وَاْلإِسْتِئْجَارُ عَلَيْهِ غَيْرُ صَحِيْحٍ، وَاْلأُجْرَةُ الْمَأْخُوْذَةُ عَلَيْهِ حَرَامٌ

Artinya: “Faidah; Imam Al-Ghazali berkata dalam kitab Ihya; Aku belum tahu keterangan yang memberikan kelonggaran hukum dalam melubangi telinga perempuan kecil untuk dibuat menggantungkan perhiasan emas (anting-anting). Sesungguhnya hal itu adalah melukai yang sangat menyakitkan. Dan seperti itu bisa menetapkan qishas. Hal itu tidak boleh dilakukan kecuali untuk kebutuhan yang sangat mendasar, seperti untuk pengobatan bekam atau khitan. Sementara berhias dengan emas itu bukanlah hal penting. Melubangi telinga karena untuk menggantungkan perhiasan walaupun ini telah umum itu hukumnya haram dan mencegahnya hukumnya wajib. Menyewa seseorang untuk hal itu atau bekerja untuk hal itu hukumnya tidak sah dan ongkos yang diterimanya hukumnya haram”.

Berbeda halnya dengan Imam al-Zarkasyi dan ulama Hanabilah. Mereka beranggapan bahwa hal tersebut boleh saja dilakukan karena sudah jamak dilakukan oleh orang-orang sejak zaman jahiliyah dan Rasulullah tidak mengingkarinya. Penjelasan mengenai hal ini bisa kita simak dalam kitab Fathul Muin:
 وجوزه الزركشي واستدل بما في حديث أم زرع في الصحيح، وفي فتاوى قاضي خان من الحنفية أنه لا بأس به لانهم كانوا يفعلونه في الجاهلية فلم ينكر عليهم رسول الله

Artinya: “Imam Al-Zarkasyi membolehkan menindik telinga bayi perempuan berdasarkan hadits shahih yang bersumber dari Ummu Zar’in. Di dalam kitab Fatawa Qadhi Khan dari kalangan ulama Hanafiyah disebutkan bahwa tidak masalah menindik telinga bayi perempuan karena bangsa Arab di zaman Jahiliyah sudah terbiasa melakukan dan Rasulullah SAW tidak mengingkarinya”.[ros]

 


Komentar Pembaca
Herman Deru Dapat Reward Did Rp10,32 Miliar

Herman Deru Dapat Reward Did Rp10,32 Miliar

Ahad, 02 Oktober 2022 | 09:05

Hukum Kdrt Menurut Islam

Hukum Kdrt Menurut Islam

Jumat, 30 September 2022 | 13:05