Mampu Tekan Inflasi, Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Terbaik di Sumatera

Ekonomi  KAMIS, 18 AGUSTUS 2022 | 17:22 WIB | Rahmad Romli

Mampu Tekan Inflasi,  Pertumbuhan Ekonomi Sumsel Terbaik di Sumatera

moeslimchoice

MoeslimChoice. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Sumatera Selatan menjadi yang terbaik di Sumatera. Selain mampu menekan inflasi, pertumbuhan ekonominya juga cukup baik.  Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengumumkan Ekonomi Provinsi Sumsel triwulan II-2022 mengalami pertumbuhan sebesar 5,18 persen secara tahunan (year on year/yoy). 

Seperti diketahui Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) pada pembukaan Rakornas Pengendalian Inflasi 2022 di Istana Merdeka Jakarta, Kamis (18/8/22) meminta masing-masing kepala daerah dengan inflasi tertinggi ini memerhatikan daerahnya dengan sungguh-sungguh.

Presiden menyebut kelima provinsi dengan tingkat inflasi tertinggi adalah Provinsi Jambi berada di 8,55 persen, Sumatra Barat 8,01 persen, Bangka Belitung 7,77 persen, Riau 7,04 persen dan Aceh 6,97 persen.

BPS mengungkapkan jika Indeks Harga Konsumen (IHK) Provinsi Sumatera Selatan pada bulan Juli mengalami inflasi sebesar 0,76 persen. Kondisi ini dinilai lebih rendah dibandingkan pada bulan Juni lalu.  Pada Juni lalu, Sumsel mencatat inflasi sebesar 0,89 persen. 

“Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 18,61 persen. Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Luar Negeri yaitu sebesar 12,32 persen,” kata Kepala BPS Sumsel Zulkipli, MSi, dalam rilis resmi statistik. 

Zulkipli mengatakan, perekonomian Provinsi Sumsel berdasarkan besaran Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku triwulan II-2022, mencapai Rp 142,81 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp 86,04 triliun.

Zulkipli melanjutkan, ekonomi Provinsi Sumsel triwulan II-2022 tumbuh sebesar 4,37 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, Lapangan Usaha Administrasi Pemerintahan Pertahanan dan Jaminan Sosial mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 20,96 persen. Sementara dari sisi Pengeluaran, Komponen Pengeluaran Pemerintah (PK-P)mengalami pertumbuhan sebesar 20,83 persen. 

“Ekonomi Provinsi Sumatera Selatan semester I-2022 terhadap semester I-2021 mengalami pertumbuhan sebesar 5,17 persen (c-to-c),” terangnya.

 “Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 14,68 persen. Sementara dari sisi pengeluaran semua komponen tumbuh, pertumbuhan tertinggi terjadi pada Komponen Ekspor Luar Negeri sebesar 13,48 persen,” pungkasnya.

Sementara Bank Indonesia memprediksi inflasi Provinsi Sumatera Selatan diperkirakan lebih tinggi dari tahun tahun lalu, namun masih terkendali. Pada Juli, inflasi disebut lebih rendah dibandingkan inflasii regional Sumatera.

Direktur BI Provinsi Sumsel, Erwin Soeriadimadja mengungkapkan inflasi disebabkan oleh beberapa faktor di antaranya makanan, minuman, tembakau dan transportasi.

“Inflasi didorong oleh peningkatan harga subkelompok makanan seperti cabai merah, bawang merah, daging ayam ras dan tomat. Peningkatan harga komoditas hortikultura dipengaruhi oleh kondisi cuaca dengan curah hujan yang cukup tinggi di beberapa daerah sentra produksi mengakibatkan hasil panen tidak optimal,” kata Direktur BI Provinsi Sumsel, Erwin Soeriadimadja dalam keterangan persnya, Kamis (4/8/2022).

Selain itu, juga terjadi peningkatan biaya input produksi seperti pupuk turut mendorong kenaikan harga komoditas sedangkan kenaikan harga daging ayam ras disebabkan oleh kenaikan harga pakan yang didorong oleh kenaikan harga jagung secara global.

Untuk kelompok transportasi juga mengalami inflasi sebesar 1,35% dengan andil sebesar 0,14% dibandingkan bulan lalu. Inflasi kelompok ini terutama bersumber dari kenaikan tarif angkutan udara yang naik rata-rata sebesar 17,54% dibandingkan bulan lalu dengan andil inflasi sebesar 0,135%.

“Inflasi angkutan udara didorong oleh peningkatan permintaan masyarakat ditengah libur sekolah serta HBKN Idul Adha, supply armada yang masih terbatas, serta kenaikan harga bahan bakar pesawat. Sedangkan kenaikan harga bensin dan solar terjadi seiring adanya penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non subsidi oleh Pertamina pada Juli 2022,” terang Erwin.

Pengendalian inflasi terus dilakukan bersama TPID Provinsi Sumatera Selatan dan Kabupaten dan Kota dengan pedoman pada strategi pengendalian inflasi 4K yakni ketersediaan pasokan, keterjangkauan harga, kelancaran distribusi dan komunikasi efektif.

“TPID Provinsi Sumatera Selatan bersama Satgas Pangan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan guna menjaga inflasi tetap stabil,” ujar Erwin. [rhd/***]


Komentar Pembaca