Setelah Menghujat Rasulullah, Salman Rushdie Tak Pernah Tenang

Internasional  SABTU, 13 AGUSTUS 2022 | 20:10 WIB

Setelah Menghujat Rasulullah, Salman Rushdie Tak Pernah Tenang

Salman Rushdie (75) menghabiskan waktu berdekade-dekade dalam kecemasan. Dia menghadapi ancaman pembunuhan selama lebih 30 tahun setelah merilis novel The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan) yang isinya menghujat Islam dan Nabi Muhammad SAW. Kemarin ia diserang dengan sebilah pisau oleh seorang pemuda berusia 24 tahun di sebuah panggung di Negara Bagian New Jersey, Amerika Serikat.

Selama tiga dekade lebih, Rushdie hidup dalam persembunyian 24 jam dalam sehari. Ia hanya sesekali keluar dan dalam pengamanan luar biasa. Dikabarkan selama bertahun-tahun, ia hidup dalam ketakutan..namun ada pihak-pihak yang mengabarkan seolah-olah Rushdie begitu tegar dan hidup tenang.

Saat diserang, Pemenang Booker Prize itu hadir dalam suatu acara di Chautauqua Institution, Negara Bagian New Jersey. Agen Salman Rushdie mengatakan sang penulis kini dirawat dengan ventilator dan tidak bisa bicara. Ia menambahkan bahwa Rushdie mungkin akan kehilangan satu matanya.

"Salman kemungkinan akan kehilangan satu mata; syaraf di tangannya putus; dan livernya ditikam dan rusak," kata Andrew Wylie dalam sebuah pernyataan.

Dilansir BBC, Sabtu (13/8/2022), Polisi Negara Bagian New York mengatakan tersangka seorang pria naik ke panggung dan menyerang Rushdie dan orang yang mewawancara.

Polisi mengatakan telah menahan tersangka namun belum mengonfirmasi motif dan dakwaannya. Mereka masih dalam proses mendapatkan izin untuk menggeledah tas dan sejumlah perangkat elektronik yang ditemukan di lokasi.

Rushdie ditikam setidaknya satu kali di bagian leher dan abdomen, kata pihak berwenang. Ia dibawa ke rumah sakit di Erie, Pennsylvania, dengan helikopter.

Para saksi mata mengatakan Rushdie ditikam berkali-kali oleh orang bertopeng ketika novelis itu akan memberikan ceramah.

Pewawancara Rushdie, Henry Reese, juga mengalami luka ringan di kepala. Reese adalah pendiri lembaga nirlaba yang didirikan untuk para penulis yang menghadapi ancaman atau persekusi.

Dewan Muslim Inggris mengecam serangan itu dan mengatakan "kekerasan seperti itu salah dan pelakunya harus diadili."

Salman Rushdie merupakan penulis kelahiran India. Dalam kariernya selama lima dekade banyak mendapat ancaman pembunuhan karena novel-novelnya.

Banyak bukunya sangat berhasil, dan novel keduanya Midnight's Children (Anak-Anak Tengah Malam), meraih Booker Prize pada 1981.

Namun novel keempatnya, The Satanic Verses (Ayat-ayat Setan), yang diterbitkan pada 1988 adalah karya Rushdie yang paling kontroversial.

Akibat berbagai ancaman terhadap nyawanya, Rushdie terpaksa bersembunyi dan pemerintah Inggris menempatkannya di bawah perlindungan polisi.

Pemerintah Inggris dan Iran memutus hubungan diplomatik namun para penulis Barat mengecam ancaman kebebasan berekspresi.

Bahkan, Pemimpin Spiritual Iran Ayatollah Ruhollah Khomeini, pernah mengeluarkan fatwa yang menyerukan pembunuhan Rushdie pada 1989 - satu tahun setelah novel diterbitkan. The Satanic Verses, diterbitkan pada 1988, dan menimbulkan kontroversi sekala besar.

Salman Rushdie lahir di Bombay, dua bulan sebelum kemerdekaan India dari Inggris. Ia berasal dari keluarga Muslim namun kemudian menyebut dirinya "ateis garis keras".

Pada usia 14 tahun, ia dikirim ke Inggris dan mendapatkan gelar sarjana sejarah di Kings College, Cambridge. Ia kemudian menjadi warga negara Inggris.

Di Inggris, dia sempat menjadi aktor dan kemudian menjadi penulis iklan sambil menulis novel.

Ketika Ayat-Ayat Setan diterbitkan dan menimbulkan kecaman dari dunia Muslim karena dianggap sebagai penistaan agama, India adalah negara pertama yang melarang novel tersebut, diikuti dengan Pakistan dan berbagai negara Muslim lain.

Novel ini dipuji sejumlah pihak dan memenangkan penghargaan Whitbread. Namun kecaman terhadap buku ini semakin meningkat dan dua bulan kemudian setelah penerbitan, banyak aksi protes di jalan-jalan.

Salah satu hal yang dianggap penghujatan adalah karakter dua perempuan penghibur dalam buku itu dinamai sesuai dengan nama istri-istri Nabi Muhammad.

Pada Januari 1989, warga Muslim di Bradford, Inggris membakar buku tersebut dan toko buku WHSmith menghentikan pajangan buku.

Rushdie sendiri menolak tudingan bahwa buku itu penghujatan. Pada bulan Februari 1989, sejumlah orang meninggal dalam kerusuhan anti-Rushdie. Di Teheran, Kedutaan Inggris dilempari batu.

Di Inggris sendiri, sejumlah pemuka Muslim mendesak warga menahan diri sementara yang lainnya mendukung Ayatollah.

Amerika Serikat, Prancis dan negara-negara Barat lain mengecam ancaman hukuman mati itu.

Rushdie sendiri - yang saat ini masih dalam persembunyian bersama istrinya dan dilindungi polisi - menyatakan penyesalan mendalam karena menyebabkan kemarahan. Namun Ayatollah kembali menyerukan agar penulis ini pantas mati.

Tetapi novel ini laris dibeli di Inggris dan Amerika.

Bukan Rushdie saja yang mendapatkan ancaman karena novel kontroversial itu. Penerjemah Ayat-Ayat Setan dalam bahasa Jepang ditemukan meninggal di universitasnya pada Juli 1991.

Polisi mengatakan penerjemah Hitoshi Igarashi, yang bekerja sebagai asisten profesor perbandingan budaya, ditusuk beberapa kali di luar kantornya di Universitas Tsukuba.

Pada bulan yang sama, penerjemah Italia, Ettore Capriolo, ditikam di apartemennya di Milan, namun selamat.

Fatwa hukuman mati terhadap Rushdie dihentikan secara resmi oleh Iran pada 1998.

Rushdie harus bersembunyi dan mendapat perlindungan polisi setelah menerbitkan The Satanic Verses

Buku-buku Rushdie lain mencakup novel untuk anak-anak Haroun and the Sea of Stories (1990), buku tentang esai, Imaginary Homelands (1991). Kemudian novel, East, West (1994), The Moor's Last Sigh (1995), The Ground Beneath Her Feet (1999), dan Fury (2001).

Dalam dua dekade terakhir ia telah menerbitkan Shalimar the Clown, The Enchantress of Florence, Two Years Eight Monthsand Twenty-Eight Nights, The Golden House, serta Quichotte.

Rushdie telah menikah empat kali dan memiliki dua anak. Ia kini tinggal di AS dan mendapat gelar pada 2007 karena jasanya dalam bidang kesusasteraan.

Pada 2012, ia menerbitkan Joseph Anton: A Memoir, buku tentang kehidupannya setelah terbitnya The Satanic Verses.[ros]


Komentar Pembaca