"Taman Saqifah Bani Saidah" Saksi Bisu Pemilihan Abu Bakar Jadi Khalifah

Kabar Tanah Suci  MINGGU, 07 AGUSTUS 2022 | 23:15 WIB

foto/Kemenag

Taman Saqifah Bani Sa'idah memiliki luas dua kali lapangan futsal, yang dikelilingi pagar besi setinggi 2,5 meter bercat hitam dan putih. Jika dilihat melalui peta, maka jarak taman ini hanya 300 meter dari pintu King Saud Masjid Nabawi, Madinah.

Taman berpagar setinggi dua anak-anak ini, berisi berbagai tanaman. Namun, pohon kurma yang menjulang tinggi lebih mendominasi taman yang dulunya menjadi peristiwa penting setelah wafatnya Rasulullah SAW.

Dipetilasan yang sekarang terhimpit oleh berbagai gedung ini, 1.432 tahun silam, para sahabat Anshar berkumpul. Sedianya mereka hanya ingin memilih pemimpin Kota Madinah setelah mangkatnya Nabi Muhammad SAW. 

Namun, kehadiran beberapa sahabat Muhajirin dalam forum di Saqifah, obrolan berubah ke arah siapa yang akan memimpin ummat Islam secara umum. Bukan sekedar hanya pemimpin di kota Yatsrib (sekarang Madinah) saja. Maka setelah itu, dipilihlah Abu Bakar As Shiddiq menjadi Khalifah secara mayoritas yang hadir.

Saqifah Bani Sa'idah atau as-Saqifah pada tahun 11 Hijriah merupakan bangunan beratap yang digunakan oleh kabilah Bani Saidah, suku Khazraj, salah satu kabilah yang berasal dari Madinah, Hijaz, barat daya Jazirah Arab. 

Dulunya, Saqifah Bani Saidah yang letaknya berada di barat daya kediaman Nabi ini, merupakan pemukiman dan perkebunan milik kabilah Bani Saidah. Pada awalnya, bentuk saqifah sangat besar, dikarenakan saqifah berfungsi sebagai tempat berkumpulnya kaum Anshar. 

Karena belum banyak gedung seperti sekarang, saat itu, di depan Saqifah terdapat halaman yang luas dan lebar dan di dekatnya terdapat sumur milik Bani Saidah. Saat ini, Saqifah menjadi sebuah taman berpagar, masyarakat tidak bisa leluasa bermain atau kongkow karena pagar hampir selalu digembok setiap harinya.

Saqifah Bani Saidah, kerap kali disebut dalam buku-buku sejarah Islam, terutama ketika menceritakan peristiwa pemilihan pemimpin pasca wafatnya Rasulullah SAW pada tahun 11 Hijriyah bertepatan dengan tahun 632 M.

Pakar Sejarah Islam, Nasrullah Jasam mengungkapkan, bahwa pada peristiwa pemilihan khilafah Islamiyah, sejatinya sahabat Ansor saat itu sudah mempunyai dan sudah siap akan membaiat kandidat yang mereka usung, yaitu Saat bin Ubadah.

Namun, akhirnya, setelah terjadi berbagai diskusi, pertimbangan serta suara mayoritas forum yang hadir, terutama usulan dari Sahabat Muhajirin yang di antaranya Sahabat Umar, mengusulkan Abu Bakar

"Kaum Anshor rela menyerahkan posisi khalifah kepada Sayidana Abu Bakar Shiddiq atas usulan Sayidina Umar," kata Nasrullah Jasam, kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Saqifah Bani Saidah, Sabtu (6/8/2022).

Nasrullah menceritakan, bahwa saat itu sempat terjadi perdebatan. Bahkan kelompok Ansor sempat berujar "minna amirun wa minkum amirun" yang artinya, dari kelompok kita memilih pemimpin sendiri dan dari kelompok lain memilih ketuanya sendiri juga. 

"Kita memilih pemimpin masing-masing," kata lulusan Al Azhar Kairo ini.

Lalu, Nasrullah melanjutkan, Sahabat Umar kemudian menjawab dalam forum yang mulai menghangat tersebut dengan ucapan "minna amirun wa minkum wuzara" yang artinya pemimpin dari kami sedangkan kalian adalah para menteri. 

Dikatakan Nasrullah, bahwa pada akhirnya Sayidana Umar berhasil meyakinkan kaum Ansor, sehingga mereka membaiat Sahabat Abu Bakar. Padahal, sebetulnya sahabat Abu Bakar cenderung memilih satu di antara dua orang, yaitu Abu Ubaidillah bin al Jarrah dan Umar bin Khottob, untuk menjadi khalifah. 


Akan tetapi, Sayyidana Umar menolak dan berujar, "Bagaimana mungkin aku menjadi pemimpin umat yang di dalamnya terdapat Abu bakar". Dan Umar pun mengulurkan tangannya membaiat Sahabat Abu Bakar begitu juga dengan sahabat yang lainnya.

Nasrullah Jasam mengungkapkan, dari kejadian di atas dapat dipetik sebuah nilai positif. Para sahabat menyadari betul bahwa adanya seorang pemimpin sangat penting di tengah-tengah umat.

 Oleh karena itu, ketika Rasulullah SAW wafat, para sahabat segera berkumpul untuk memilih sosok yang menggantikan Rasulullah SAW sebagai pemimpin ummat.

"Perbedaan pandangan dalam memilih pemimpin adalah hal yang lumrah, dan ini terjadi antara sahabat dari kalangan Anshor dan Muhajirin. Bahkan kalangan bani Hasyim memiliki pandangan lain yang karena beberapa alasan cenderung memilih Sahabat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah," terang Nasrullah Jasam.

Sehingga, hal-hal yang sudah diputuskan akan menjadi keputusan bersama dan harus ditaati. 

"Demi kesejahteraan dan kedamaian ummat. Hendaknya setiap orang menyadari dan mengukur diri akan kemampuannya," tambahnya.

 Dalam hal ini, sikap Sayidana Umar patut dijadikan contoh. Ketika Abu Bakar memintanya untuk menjadi khalifah, dengan rendah hati, Umar berkata, "Bagaimana mungkin aku menjadi pemimpin ummat yang di dalamnya terdapat Abu Bakar."

Umar merasa bahwa sosok Abu Bakar, saat itu lebih layak menjadi khalifah dari dirinya. Semoga peristiwa Saqifah Bani Sa'idah bisa menjadi renungan bagi calon-calon pemimpin kita, yang sebentar lagi akan kita pilih pada momen pemilihan umum di Indonesia. [mt/mch]


Komentar Pembaca