Kini, Banyak Lajang Singapura Meninggalkan Rumah Orangtua

Internasional  MINGGU, 03 JULI 2022 | 09:30 WIB

Kini, Banyak Lajang Singapura Meninggalkan Rumah Orangtua

Dulu sebagaimana keluarga Asia, anak-anak muda lajang Singapura tinggal di rumah-rumah orangtua mereka. Namun kini terjadi pergeseran. Banyak anak-anak muda lajang di Singapura memilih keluar dari rumah orangtua mereka dan tinggal sendiri. Belajar hidup mandiri, itu alasan umum mereka.

Dilansir dari BBC, Ahad (3/6/2022), Alan, seorang pegawai negeri, memutuskan untuk pindah dari rumah keluarganya di Singapura. Pria berusia 27 tahun itu membutuhkan waktu satu bulan untuk mendiskusikan rencana tersebut dengan orangtuanya. Dia takut mereka tidak akan mengerti atau, lebih bahkan, menjadi marah.

Bagaimanapun, rumah keluarga Alan adalah tempat tinggal yang menyenangkan. Kondominium dengan tiga kamar tidur itu, di mana adik laki-lakinya juga tinggal, terletak tidak jauh dari kawasan pusat bisnis dan tempat-tempat hiburan.

Makan malam selalu tersedia di rumah dan dia juga tidak perlu mencuci bajunya sendiri.

"Tidak ada faktor pendorong, hanya faktor penarik," kata Alan. "Saya tinggal bersama orangtua saya seumur hidup saya, jadi saya hanya ingin merasakan bagaimana rasanya sendirian."

Di Barat, meninggalkan rumah orangtua merupakan hal yang biasa dilakukan kaum muda ketika beranjak dewasa. Namun di sebagian besar masyarakat Asia, hal itu tidak diterima secara budaya; pindah rumah terkadang dianggap menunjukkan rasa tidak hormat kepada orangtua.

Di Singapura, tinggal di rumah sampai menikah adalah sesuatu yang umum; diperkirakan 97% individu yang belum menikah antara usia 15 dan 34 tahun tinggal bersama orangtua mereka, menurut data tahun 2013.

Kebiasaan ini sebagian dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah terkait tempat tinggal bagi kaum muda.

Sebagian besar warga Singapura - lebih dari 80% pada tahun 2022 - tinggal di unit-unit perumahan rakyat, di gedung apartemen yang disubsidi oleh negara yang dikenal sebagai HDB (Housing Development Board). Sekitar 90% dari mereka yang tinggal di HDB memiliki rumah mereka sendiri.

Namun, penting juga dicatat, hanya pasangan heteroseksual yang sudah menikah - Singapura tidak mengakui pernikahan sesama jenis - dan individu lajang yang berusia lebih dari 35 tahun yang dapat membeli unit tempat tinggal ini.

Mereka yang tidak dapat membeli HDB dapat menyewa (atau bahkan membeli) melalui pasar properti pribadi - tetapi biayanya jauh lebih tinggi. Perhitungan oleh lembaga riset ValueChampion menunjukkan harga rata-rata per kaki persegi kondominium sektor swasta lebih dari tiga kali lipat dari unit HDB.

Kendala biaya ini, kata Dr Chua Beng Huat, seorang profesor sosiologi di National University of Singapore (NUS), "secara efektif membuat sebagian besar orang muda yang belum menikah tinggal di rumah bersama orang tua mereka".

Namun Alan, yang sekarang menyewa sebuah flat di Hougang, sebuah lingkungan di timur laut Singapura yang jauh dari pusat bisnis, bersama dua temannya, termasuk di antara sekian banyak kaum milenial dan Gen Z Singapura yang menentang norma budaya lama. Sebagian anak muda, karena berbagai alasan, memutuskan bahwa harga kemerdekaan itu sepadan - dan memilih berjuang sendiri.

'Ruang untuk tumbuh dewasa'

Dalam beberapa tahun terakhir, budaya menyewa di Singapura, yang sebelumnya sebagian besar terbatas pada ekspatriat, telah mengakar di kalangan penduduk setempat.

Meskipun harga sewa naik, jumlah penduduk lajang Singapura di bawah usia 35 tahun yang tinggal sendiri atau jauh dari orang tua mereka meningkat lebih dari dua kali lipat dari 2015 hingga 2020.

Banyak lagi yang mungkin berpikir untuk pindah. Satu survei tahun 2021 oleh portal properti lokal PropertyGuru menunjukkan tujuh dari 10 responden berusia antara 22 dan 39 tahun sedang mempertimbangkan untuk pindah.

"Setelah Anda melewati usia tertentu, itu bisa menjadi tidak nyaman [tinggal bersama orang tua Anda] karena kebebasan untuk melakukan apa yang ingin Anda lakukan di rumah dibatasi," kata Chua.

Brenda Tan mengatakan hidup sendiri telah memberinya ruang untuk dewasa. Seperti Alan, Brenda Tan tidak merasakan adanya faktor pendorong ketika dia pindah dari rumah keluarganya pada usia 22 tahun - tetapi dia jelas menginginkan lebih banyak kebebasan.

Dia tinggal di asrama saat kuliah dan sempat menyewa rumah bersama temannya selama satu semester di luar negeri di New York, AS. Dia lalu merasa bahwa untuk langkah selanjutnya dia harus tinggal sendirian.

"[Tinggal bersama orang tua Anda bisa terasa seperti] semuanya berjalan secara autopilot dan semua dilakukan untuk Anda," kata pembuat konten itu dalam sebuah video saat menceritakan momen ketika dia pindah ke apartemen.

"Anda tidak sepenuhnya dapat mengontrol lingkungan Anda, atau terkadang diet Anda… Anda hanya makan apa yang ada di atas meja."

Tinggal seorang diri memungkinkan Tan, yang sekarang berusia 26 tahun, untuk mengontrol setiap aspek kehidupannya, mulai dari memilih merek perabot rumah yang disukainya hingga dapat bekerja secara lebih kreatif.

"Pindah rumah telah membuat saya tumbuh dengan cara yang benar-benar saya nikmati. Saya merasa seperti saya telah berkembang menjadi diri saya sendiri. Saya memiliki ruang untuk tumbuh dewasa."

Tentu saja, tantangan yang terkait dengan hidup bersama orang tua selalu ada, seperti halnya aspirasi kaum muda untuk mandiri.

Chua mengatakan bahwa generasi muda ini rata-rata berpendidikan lebih baik dan dengan demikian berpenghasilan lebih tinggi daripada generasi sebelumnya. Kondisi ini memainkan peran penting.

Data sensus dari tahun 2020 menunjukkan bahwa 57% penduduk antara 25 dan 34 adalah lulusan universitas, naik dari 46,5% satu dekade lalu, atau hampir dua kali lipat dari 24,4% pada tahun 2000.

Peningkatan daya penghasilan, serta perubahan prioritas pengeluaran, menjadikan anak muda Singapura lebih mudah untuk pindah rumah dan mampu membayar sewa.

Faktor lain adalah lebih banyak warga Singapura menikah lebih tua. "Sebelumnya, banyak, bahkan sebagian besar, dari kelompok usia ini yang sudah menikah," kata Chua, yang berarti bahwa mereka akan memenuhi syarat untuk membeli HDB. Namun, kini para kaum muda mulai kurang rela menunggu sampai menikah dulu demi dapat merasakan hidup mandiri.

Ini tidak berarti ketaatan anak terkikis, kata Chua. Namun, cara menunjukkannyalah yang berubah.

Rekan sosiolog NUS, Dr Tan Ern Ser setuju, dengan mengatakan bahwa sementara kaum muda "mengikuti gaya hidup menurut pilihan mereka sendiri, yang melibatkan pindah dari rumah orang tua mereka untuk hidup sendiri atau beberapa pengaturan lain", itu tidak berarti mereka tidak peduli dengan orang tua mereka.

Kenyataannya, "tinggal jauh dari orang tua dapat dirasakan tidak terlalu menyesakkan, dan secara paradoks dapat memperkuat ikatan antara anak yang sudah dewasa dengan orang tua".

Adanya faktor pendorong bagi sebagian orang

Sementara banyak anak muda yang pindah demi mencari kebebasan seperti Alan dan Brenda Tan, William Tan, seorang agen perumahan, telah melihat peningkatan sewa di antara satu kelompok tertentu: komunitas LGBTQ.

Tan mengatakan bahwa meskipun mayoritas penyewa potensial di masa lalu adalah ekspatriat, dia mengamati adanya pergeseran. Grup Facebook yang dia dirikan untuk daftar properti ramah LGBTQ melihat lebih banyak permintaan dari anak muda Singapura.

Ini tidak mengejutkan; karena kebijakan perumahan sangat membatasi pilihan bagi masyarakat, dan menyewa akomodasi kurang lebih merupakan satu-satunya pilihan bagi warga di bawah 35 tahun untuk mendapatkan tempat tinggal.

Sementara masyarakat Singapura telah mengambil langkah-langkah untuk menghilangkan stigma terhadap homoseksualitas, nilai-nilai konservatif yang dipegang oleh banyak orang masih membuat sebagian orang sulit untuk menyatakan jati diri mereka.

Sebuah survei tahun 2018 menemukan bahwa enam dari 10 responden percaya pernikahan gay selalu, atau hampir selalu, salah. Survei lain menemukan bahwa kaum muda Singapura kurang menerima anggota keluarga berada dalam hubungan sesama jenis daripada teman atau kolega.

Tan percaya bahwa pandemi Covid-19 kemungkinan mempercepat keinginan untuk pindah bagi banyak anak muda LGBTQ. "Mungkin banyak konflik terjadi [di rumah] karena dua tahun terakhir mereka bekerja dari rumah," katanya. Dalam pengalamannya, "banyak dari mereka [di masyarakat] yang mencoba pindah demi kesehatan mental mereka, karena mungkin mereka berasal dari lingkungan rumah yang sangat toxic atau tidak ramah".

Faktor pendorong seperti lingkungan rumah yang buruk tentu saja tidak terbatas pada kaum muda di komunitas LGBTQ. Bagi mereka yang tinggal di rumah berukuran kecil, atau perlu berbagi kamar tidur, rumah bisa terasa penuh tekanan.

Jia tinggal di flat HDB dengan dua kamar tidur bersama orang tua dan kakak perempuannya. Setelah lulus dari universitas di tengah pandemi, dia dengan cepat menemukan pekerjaan sebagai trainee. Tetapi bekerja dari jarak jauh adalah "mimpi buruk" baginya.

Kakaknya melakukan hal yang sama, dan pertemuan online mereka terkadang bentrok, mengakibatkan lingkungan yang mengganggu. Orang tuanya, dia mengakui, juga kurang akur - dan terjebak di dalam rumah untuk jangka waktu yang berkepanjangan selama karantina wilayah berarti pertengkaran verbal semakin sering terjadi. "Saya tidak bisa menghindari kebisingan karena ini adalah rumah yang kecil," katanya. "Kadang-kadang saya akan berbicara di telepon dan suara orang tua saya berteriak akan terdengar."

Jia berkali-kali mempertimbangkan untuk pindah. Pikiran tentang tempat kerja dan ruang hidup yang lebih tenang memang menggoda, tetapi pada akhirnya faktor kepraktisan menang. Untuk saat ini, dia memutuskan bahwa dia lebih suka menabung sebagian besar gajinya daripada menghabiskannya untuk membayar sewa rumah. Ada juga alasan lain yang menahannya: "Saya pikir saya akan merasa sangat bersalah meninggalkan orang tua saya."

Ini tidak berarti dia mengesampingkan kemungkinan itu, terutama karena dia telah mulai bekerja penuh waktu dan pendapatannya meningkat sekitar 50%. Tapi, pada akhirnya, faktor penentunya tetap orang tuanya.

"Sekarang kami semua lebih sering keluar rumah, suasana hati semua orang lebih baik, sehingga suasana rumah juga lebih nyaman," katanya. "Tetapi jika situasi [di antara mereka] menjadi sangat buruk lagi seperti dua tahun lalu, saya pikir saya akan mengutamakan diri saya kali ini."
Singapura

Sumber gambar, Getty Images
Keterangan gambar,

Singapura telah menarik perhatian global untuk program perumahan umum yang inovatif dan komprehensif.

'Pengeluaran dana yang setimpal'

Singapura telah membangun model perumahan yang sukses - model yang secara luas dan sering dipuji. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh pergeseran halus baru-baru ini, kebutuhan dan aspirasi beberapa anak muda tampak berubah.

Mengubah aturan perumahan rakyat untuk membuat lebih banyak akomodasi murah tersedia bagi kaum muda dapat memberikan bantuan bagi banyak orang, terutama kelompok yang terpinggirkan.

Sosiolog NUS Tan Ern Ser menyarankan dewan perumahan rakyat untuk mempertimbangkan menyewakan flat yang tidak terjual atau membangun flat sewaan yang dirancang khusus "untuk melayani kaum muda yang dinilai membutuhkan rumah mereka sendiri", dengan alasan bahwa kebijakan saat ini harus "mempertimbangkan untuk mengakomodasi pola pilihan gaya hidup yang muncul di kalangan anak muda Singapura… dan berusaha untuk mengakomodasi bahkan mereka yang berada di luar aturan".

Jika tren saat ini berlanjut, anak muda Singapura yang meninggalkan rumah orang tua mereka akan menjadi semaking diterima dan tidak lagi menjadi tabu, didorong oleh prioritas kemandirian dan kesejahteraan mereka, dan dimungkinkan oleh peningkatan pendapatan yang dapat dibelanjakan. Mengubah pemahaman seputar apa artinya berbakti pada orang tua juga akan membantu kaum dewasa muda untuk meninggalkan rumah keluarga mereka.

Brenda Tan tentu saja tidak menyesali keputusannya - bahkan, dia merasa lebih yakin tentang hal itu daripada sebelumnya. Menengok ke belakang, kelebihan yang dia alami tidak hanya berakar pada rasa kebebasan, tetapi rasa tanggung jawab. "Ini merupakan pengeluaran dana yang sangat setimpal," katanya. "Hidup sendirian membuat saya mengkalibrasi ulang emosi saya. Itu sangat berharga bagi saya."

Alan juga mengatakan hal yang senada, meskipun orang tuanya tidak senang dengan keputusannya. "Saya pikir mereka mengambil hati, seolah-olah saya mengatakan saya benci tinggal bersama mereka," kenangnya. Mereka mencoba untuk mencegahnya - tetapi menyerah ketika tekad Alan sudah jelas.

Sejak pindah, biaya yang harus Alan keluarkan meningkat secara signifikan. Dia masih memberi orang tuanya "tunjangan" bulanan sebesar $287 (Rp 4,2 juta), sesuatu yang dia lakukan sejak mendapatkan gaji pertamanya.

Dia juga membayar lebih banyak tagihan dari sebelumnya - seperti belanjaan, utilitas dan pembayaran asuransi yang sebelumnya ditanggung oleh orang tuanya - serta membayar sewa di tempat tinggalnya sendiri. Tapi dia menganggap biaya tambahan ini layak untuk kemerdekaan yang dia peroleh.

"Saya jauh lebih bisa mengendalikan hidup saya sendiri sekarang," katanya. "Anda tidak bisa memasang harga untuk itu."

Alan dan Jia hanya menggunakan satu nama untuk alasan privasi.[ros]


Komentar Pembaca