Kisah Pengasingan Bung Karno di Ende NTT

Nasional  RABU, 01 JUNI 2022 | 21:15 WIB

Kisah Pengasingan Bung Karno di Ende NTT

Net

Peringatan hari lahirnya Pancasila bermula dari pidato yang dilakukan oleh Presiden pertama Indonesia, Soekarno pada 1 Juni 1945.

Saat itu Soekarno membacakan pidatonya dalam sidang Dokuritsu Junbi Cosakai (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan).

Pidatonya pertama kali mengemukakan konsep awal Pancasila yang menjadi dasar negara Indonesia.

Soekarno menyampaikan ide serta gagasannya terkait dasar negara Indonesia, yang dinamai “Pancasila” yang berartikan Panca adalah lima, sedangkan sila artinya prinsip atau asas.

Dilansir laman BPIP, pada saat itu Bung Karno menyebutkan lima dasar untuk negara Indonesia, yakni Sila pertama “Kebangsaan”, sila kedua “Internasionalisme atau Perikemanusiaan”, sila ketiga “Demokrasi”, sila keempat “Keadilan sosial”, dan sila kelima “Ketuhanan yang Maha Esa”.

Satu hal menarik dari Pancasila yang dikemukakan Bung Karno adalah mengenai cikal bakal pemikirannya.

Cikal bakal lahirnya gagasan pemikiran tentang Pancasila ini tercipta saat Bung Karno diasingkan di Ende, Nusa Tenggara Timur.

Dikutip dari laman Kemdikbud, kisah pengasingan Bung Karno bermula ketika ia ditangkap oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Sebelum diasingkan ke Ende, Soekarno terlebih dulu ditangkap oleh Komisaris Polisi ketika keluar dari rumah Muhammad Husni Thamrin, di Jakarta setelah menghadiri pertemuan politik pada 1 Agustus 1933.

Setelah ditangkap, Bung Karno kemudian dipenjarakan selama delapan bulan tanpa proses pengadilan.

Kemudian pada 28 Desember 1933 ia dibuang ke Ende atas dasar tuduhan kegiatan politik yang membahayakan.

Soekarno yang saat itu berusia 32 tahun, bersama keluarganya bertolak dari Surabaya menuju Flores dengan kapal barang KM van Riebeeck.

Bung Karno berlayar selama delapan hari menuju Ende, dan setelah tiba disana kemudian dibawa ke rumah pengasingan yang terletak di Kampung Ambugaga, Kelurahan Kotaraja.

Di rumah pengasingan inilah Ir. Soekarno berserta istrinya, Inggit Garnasih; mertuanya, Ibu Amsi; dan kedua anak angkatnya, Ratna Juami dan Kartika menghabiskan waktu mereka selama empat tahun.

Ir. Soekarno dan keluarganya menempati rumah milik Haji Abdullah Ambuwaru.

Pada tanggal 18 Oktober 1938 (tepat empat tahun, sembilan bulan dan empat hari), Ir. Soekarno dipindah dari Ende ke Bengkulu.

Setelah Indonesia merdeka, pada tahun 1951, Ir. Soekarno (saat itu sudah menjadi Presiden Republik Indonesia) mengunjungi Ende untuk pertama kalinya.

Bung Karno bertemu Haji Abdullah Ambuwaru dan menyatakan keinginannya agar rumah tersebut dijadikan museum.

Pada kesempatan kunjungan kedua tahun 1954, Ir. Soekarno meresmikan rumah itu sebagai “Rumah Museum” pada tanggal 16 Mei 1954.

Selama di Ende dari tahun 1934-1938 salah satu hal yang paling penting adalah ketika Ir. Soekarno di tengah keterasingannya di bawah pohon sukun.

Menurut pengakuan Bung Karno dalam otobiografinya, di bawah pohon sukun ini Soekarno mendapatkan inspirasi tentang Pancasila yang kemudian diusulkan menjadi dasar bagi negara Indonesia merdeka.

Tempat pohon sukun itu berdiri saat ini dikenal sebagai Taman Perenungan Bung Karno.

Ada satu cerita menarik mengenai keberadaan pohon sukun ini.

Seperti dikutip dari laman Setkab.go.id, saat Bung Karno pernah berpesan bahwa apabila di suatu masa pohon sukun tersebut mati, hendaklah ditanam kembali dengan pohon sukun yang baru.

Dalam sejarahnya, pohon sukun yang pertama itu mati pada tahun 1972. Pemerintah ketika itu sudah mencoba untuk menanam, tetapi tidak tumbuh.

Selanjutnya, pada masa kepemimpinan Bupati Ende periode 1973-1983, Herman Joseph Gadi Djou, ia meminta kepada sahabat-sahabat Bung Karno yang masih hidup ketika itu untuk menanam kembali pohon sukun tersebut.

Peristiwa penanaman kembali itu terjadi pada tanggal 17 Agustus 1980 dan pohon sukun itu pun tumbuh hingga saat ini. [Irm]


Komentar Pembaca