Hukum Riba dalam Islam?

Kajian  KAMIS, 26 MEI 2022 | 15:00 WIB

Hukum Riba dalam Islam?

Ilustrasi

Bagaimana hukum riba dalam Islam dan dalilnya? Apa contoh praktik riba yang sering dijumpai di masa sekarang? Secara harfiah, riba yang diserap dari kata dalam Bahasa Arab memiliki arti ‘lebihan’ atau ‘tambahan’.

Sedangkan menurut istilah, riba merupakan segala macam tambahan dalam pertukaran sejenis tanpa adanya kompensasi atau pengganti. 

Adapun hukum riba dalam Islam dan dalilnya akan dijelaskan rinci sebagai berikut.

Hukum riba dalam Islam dan dalilnya
Dalam hukum Islam, riba merupakan perbuatan haram yang sangat dibenci oleh Allah SWT.  Sebagaimana firman Allah SWT QS Al-Baqarah ayat 275


اَلَّذِيْنَ يَأْكُلُوْنَ الرِّبٰوا لَا يَقُوْمُوْنَ اِلَّا كَمَا يَقُوْمُ الَّذِيْ يَتَخَبَّطُهُ الشَّيْطٰنُ مِنَ الْمَسِّۗ ذٰلِكَ بِاَنَّهُمْ قَالُوْٓا اِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبٰواۘ وَاَحَلَّ اللّٰهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبٰواۗ فَمَنْ جَاۤءَهٗ مَوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّهٖ فَانْتَهٰى فَلَهٗ مَا سَلَفَۗ وَاَمْرُهٗٓ اِلَى اللّٰهِ ۗ وَمَنْ عَادَ فَاُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ النَّارِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba,” (QS Al-Baqarah: 275). 

Tak hanya hartanya yang akan menjadi haram, tetapi tindakan pemberi riba maupun penerima riba akan menerima status keharaman dari riba.

Dari Jabir, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat orang yang memakan (mengambil) riba, memberikan, menuliskan, dan dua orang yang menyaksikannya.” Ia berkata: “Mereka berstatus hukum sama.” (HR. Muslim, nomor 2994). 

Pada zaman jahiliyah, praktik riba sering ditemui pada rentenir yang akan memberikan tambahan biaya jika seseorang tidak mengembalikan pinjaman sesuai dengan batas waktu yang disepakati.

Riba di masa itu juga ditemukan pada praktik jual beli dimana adanya tambahan harga ketika seseorang tidak dapat melakukan pelunasan pada barang yang ia beli sesuai batas tempo tertentu.

Syekh Wahbah Az-Zuhaily dalam kitab Al-Fiqhul Islamy wa Adillatuhû menyatakan,“riba jahiliyah adalah riba yang sangat dikenal oleh masyarakat Arab kala itu, bahkan mereka tidak pernah mengenal riba yang lainnya dalam sejarah. Riba ini dipungut karena alasan tertundanya pelunasan hutang sehingga perlu daur ulang (restrukturisasi) dengan tempo yang baru, baik itu akibat utang karena penundaan pembayaran harga barang yang dibeli atau akibat akad utang piutang.”

Lantas, mengapa Islam melarang praktik riba? Hal ini karena di dalam riba terdapat unsur penindasan (zhulm) dan eksploitasi atau pelipatgandaaan hingga dua kali lipat (adh’afan mudha’afah).

“Maka sebab penindasan yang dilakukan oleh orang Yahudi, maka kami haramkan kepada mereka harta yang baik-baik yang (sebelumnya) pernah diperbolehkan bagi mereka disebabkan tindakan mereka yang keluar dari jalan Allah, tindakan mereka dalam memungut riba padahal telah dinyatakan larangannya, dan tindakan mereka dalam memakan harta orang lain dengan jalan bathil (jalan yang tidak dibenarkan oleh syara). (Untuk itu) telah kami siapkan bagi orang-orang yang membantah perintah Allah ini (kafir) suatu azab yang pedih,” (QS. An-Nisa: 16).

Praktik riba pada masa sekarang
Saat ini, bunga bank sering dikaitkan dengan praktik riba pada zaman modern karena dianggap mengandung illat yang sama.

Dalam aktivitas perbankan konvensional, bunga bank terdiri dari dua macam, yaitu bunga simpanan dan bunga pinjaman.

Bunga simpanan merupakan bunga atau imbalan yang diberikan oleh bank kepada nasabah yang menyimpan uangnya di bank.

Sedangkan bunga pinjaman adalah imbalan yang harus diberikan oleh peminjam kepada bank yang memberikan pinjaman.

Meskipun demikian, perdebatan tentang status hukum bunga bank oleh ulama ahli fiqih nyatanya masih bermunculan hingga saat ini.

Majelis Ulama Indonesia (MUI), Majma’ al-Fiqh al-Islamy, Majma’ Fiqh Rabithah al-‘Alam al-Islamy, Yusuf Qaradhawi, Mutawalli Sya’rawi, Abu Zahrah, dan Muhammad al-Ghazali menyatakan bahwa bunga bank secara mutlak hukumnya haram.

Akan tetapi, ulama lainnya, seperti Syekh Ali Jum’ah, Muhammad Abduh, Muhammad Sayyid Thanthawi, Abdul Wahab Khalaf, dan Mahmud Syaltut menganggap bahwa bunga bank bukan termasuk riba.

Pendapat kedua ini didasarkan pada adanya keridhaan antara pemberi dan penerima bunga bank yang ditentukan di awal transaksi.

Sebagaimana firman Allah SWT yang berbunyi, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu.” (QS. An-Nisa’: 29).

Dari dalil tersebut dijelaskan bahwa tambahan harta yang disepakati di awal transaksi atas dasar ridha atau suka sama suka diperbolehkan untuk dilakukan.

Selain itu, ulama kontemporer menganggap tidak ada unsur penindasan (zhulm) pada riba, tetapi justru dapat meningkatkan perekonomian. [Irm]


Komentar Pembaca