Ade Armando, Kekerasan Massal dan Indeks Permusuhan Sosial

Oleh : Denny JA

Opini  SELASA, 12 APRIL 2022 | 20:40 WIB | Zulfa Fahmi

Ade Armando, Kekerasan Massal dan Indeks Permusuhan Sosial

Net

“Kebencian dan intoleransi adalah musuh terbesar masyarakat yang beragam,” ujar Mahamatma Gandhi.

Ucapan ini yang teringat ketika saya menonton lebih dari 10 video soal kekerasan yang menimpa Ade Armando.

Hari itu, 11 April 2022, di tengah riuh rendah aksi mahasiswa, Ade Armando, dianiaya. Di sana, di tengah keramaian itu, entah berapa banyak yang memukulnya beramai- ramai.

Ade terjatuh. Ia tak hanya dipukul. Juga diinjak- injak. Pakaiannya dilucuti. Di satu video itu nampak Ade terguling. Dua tangannya melindungi wajah. Celana panjangnya dilucuti. Ia nyaris ditelanjangi.

Terdengar suara yang beragam di sana. Ada yang melindungi: “Sudah cukup. Cukup.” Ada yang menyeru: “Darahnya Halal!”

Terdengar jelas suara emak- emak dan lainnya bersahutan: “"Buzzer, buzzer, bulan puasa, munafik, pengkhianat, penjilat.” 

Tak kalah mengerikan membaca komentar di luar berita, yang menanggapi berita soal peristiwa itu di media sosial.

Di samping ada yang membela Ade, jauh lebih banyak yang mensyukuri peristiwa itu.

Jelaslah Ade Armando tidak dianiaya karena isu penundaan pemilu dan presiden 3 periode. Sikapnya soal isu tersebut sama dengan arus gerakan mahasiswa saat itu. Ade juga menolak penundaan pemilu dan presiden 3 periode.

Polisi sudah menangkap para pelaku kekerasan. Akan segera diungkap polisi motif sebenarnya dari pelaku kekerasan itu.

Namun dari bahasa banyak pihak yang mengiringi kekerasan atas Ade Armando, itu bahasa dua agenda.

Pertama: kata “Buzzer, buzzer” (1). Ini kata yang acap ditujukan kepada mereka yang dianggap “The True Believer, pembela bayaran kebijakan istana/Jokowi melawan para pengeritik Jokowi sejak pemilu 2014, dan berlanjut ke pemilu 2019.

Kedua, kata: “Darahnya Halal!”  (2). Ini ungkapan yang acap ditumpahkan kepada mereka yang dianggap menyerang bahkan menista doktrin agama kaum konservatif.

Dua istilah itu, Buzer dan Darahnya Halal sudah mengundang kebencian dan kemarahan massal.

Agaknya Ade Armando dianiaya karena perannya yang dicitrakan para pembencinya untuk dua agenda itu. 

Ade, oleh pembencinya, selama ini dianggap menjadi juru bicara paling vocal, pembela Jokowi, melawan dan menyerang para pembenci Jokowi. Ade selama ini juga dianggap sangat vocal menyerang keras politisasi Islam di ruang publik.

Para pembenci Ade tak bisa mengalahkannya melalui argumen di media sosial.  Tak pula Ade bisa dikalahkan lewat jalur hukum.

Momen itu tiba. Ade dianggap nekad masuk ke dalam “sarang musuh,” yang bukan komunitasnya, sebuah kerumunan massal. Tak hanya ada mahasiswa di sana yang murni untuk isu anti penundaan pemilu dan presiden 3 periode. Tapi bergabung pula “the Jokowi haters,” para pembenci Jokowi.  

Juga bergabung di sana segmen yang sejak lama mendendam dan marah kepada Ade Armando dan tak terlampiaskan.

Polisi mencatat ada akun media sosial yang mengumunkan kepada massa soal keberadaan Ade Armando di lokasi demo.

Terjadilah peristiwa itu. Entah berapa lama pemukulan massal terjadi. Ada saksi mata yang menyatakan polisi datang 20 menit kemudian.

Selama itu pula Ade Armando dianiaya. Ia sendirian. Terkulai. Tak berdaya. Ia hanya mampu melindungi wajah dengan dua tangannya.

Terasa tindakan kekerasan itu tak hanya ingin menganiaya Ade. Tapi juga ingin membuatnya malu dengan cara hampir menelanjangi Ade.

Ilmu sosial memiliki dua terminologi untuk peristiwa kekerasan bagi perbedaan sikap politik ataupun agama di kalangan masyarakat.

Pertama adalah social trust. Itu mengacu pada sentimen saling percaya antar warga negara. Atau keakraban warga negara.  Lawannya adalah social distrust: permusuhan, saling tak percaya, dan saling benci antar warga negara.

Kedua: social hostility index. Ini index untuk mengukur seberapa gawat permusuhan antar kelompok di masyarakat akibat sikap keagamaan.

Negara yang bahagia, negara yang makmur, negara yang maju, acapkali ditandai oleh tingginya social trust. Juga negara bahagia itu diwarnai oleh rendahnya social hostility.

Sebaliknya, negara yang terbelah, negara yang sentimen agamanya sangat komunal, acapkali juga itu negara yang ekonominya menengah ke bawah, ditandai oleh rendahnya social trust, dan tingginya social hostility Index.

Pew Research Center mengelompokkan Indonesia sebagai negara dengan social hostility yang tinggi. Indonesia disamakan dengan India, Pakistan,  Irak, Iran, bahkan Afganistan.

Kasus perusakan mesjid Ahmadiyah di berbagai wilayah Indonesia menambah buruknya level social hostility di Indonesia di mata dunia.

Sikap permusuhan atas pandangan politik ataupun agama selalu potensial tersimpan dalam batin setiap individu. Namun dua hal yang membedakan hasil akhirnya.

Pertama: hadirnya pemerintah yang kuat sekali membela keberagaman. Pemerintah menegakkan hukum. Pemerintah melindungi perbedaan paham agama. Juga perbedaan politik.

Pemerintah juga menghukum mereka yang mengumbar ujaran kebencian. Pemerintah bergerak cepat memberantas kekerasan, termasuk yang bernuansa agama.

Kedua, hadirnya civil society, individu, tokoh berpengaruh, yang terus menerus menumbuhkan social trust, kebersamaan dalam masyarakat. 

Selalu dipompakan sikap agree to disagree. Perbedaan pandangan bahkan soal agama, juga politik, hal biasa. Seruan melihat perbedaan politik  dan sikap agama  secara rileks saja, sering dikumandangkan.

Semakin sejahtera sebuah negara, semakin tinggi pendidikan masyarakat, semakin terbiasa hidup dalam perbedaan, semakin semua itu menambah kuat kultur social trust.

Peristiwa yang menimpa Ade Armando bisa menimpa siapa saja.

Apa nyamannya hidup di masyarakat yang sangat terbelah? Lalu perbedaan pandangan diselesaikan dengan kekerasan?

Berkaca dari kasus Ade Armando, di samping kita memberikan rasa simpati kita pada Ade Armando selaku korban. Di samping kita menyerukan pemerintah untuk lebih hadir dan tegas melindungi keberagaman. 

Di samping kita berharap lebih banyak civil society menyebarkan pandangan toleransi.

Kita juga menyerukan kepada diri kita masing- masing. Masukkan ke batin kita dalam- dalam:  ini era ketika perbedaan politik dan perbedaan paham agama sesuatu justru harus dirayakan!. [Irm]


Komentar Pembaca