Telanjang

Oleh:Akmal Nasery Basral/Sosiolog, Penulis

Opini  SELASA, 12 APRIL 2022 | 19:45 WIB | Zulfa Fahmi

Telanjang

Net

SEMUA manusia lahir telanjang. Tak pernah ada yang nyinyir dan mempersoalkan, sampai kemudian orang tua sibuk memilihkan pakaian. Dari popok kain blacu sampai bahan sutera kelas satu tergantung latar belakang kekayaan. 

Semakin besar sang bocah, semakin dilimpahi aneka jenis busana agar ketelanjangannya dicegah. Bagaimana pun lucu-menggemaskannya seorang balita, tak ada orang tua yang membiarkan buah hati mereka telanjang 24/7 meski hanya di dalam rumah.

Sayangnya, begitu anak-anak memasuki masa remaja tak semua orang tua serius menyiapkan pakaian adab dan busana tata krama bagi darah daging mereka. Sebagian remaja tetap telanjang dalam akhlak suka merisak ( bully) orang lain, atau manja tanpa batas akibat didikan ibu yang telanjang dalam arus hedonisme dan ayah yang telanjang dalam kobaran syahwat gratifikasi dan koncoisme.

Telanjang juga menyangkut perangai orang dewasa dengan moral bangkrut. Anggota DPR yang menyimak film biru saat sidang membahas vaksin untuk masyarakat sejatinya bukan dibakar nafsu memelototi tubuh-tubuh bebas aurat, melainkan sedang memproklamirkan dirinya telanjang etika sehingga lupa dirinya penyanyi terkenal dan sedang bertugas sebagai wakil rakyat. Bahkan dari parpol terbesar yang hebat.

Pejabat negara yang berapi-api mengampanyekan masa jabatan sebuah tugas publik bisa diperpanjang meski harus mengakali amanat undang-undang dengan alasan rakyat menginginkan berdasarkan big data yang dia pegang sesungguhnya juga tengah bertelanjang bulat dalam berahi kekuasaan. Sebuah pornografi otoritarian yang merangsang pecandu “Dear (Power, oh, Absolute Power) Onlyfans”.

Selain ketelanjangan sukarela, ada juga kondisi telanjang akibat paksaan. Hari Minggu (10/4/2022) lalu, contohnya, Perdana Menteri Imran Khan ditelanjangi kekuasaannya hingga tak bersisa oleh mayoritas anggota Parlemen Pakistan melalui sebuah mosi tak percaya. Ini lebih menyakitkan bagi politisi yang pernah menjadi atlet kriket sohor dan wajah ikonik negerinya. Untungnya dia tak sampai ditelanjangi yang membuat auratnya terbuka disantap kamera.

Penelanjangan paksa yang memperlihatkan aurat biasanya dilakukan masyarakat terhadap pelaku kejahatan kelas teri, bukan bandit berdasi dengan parfum wangi. Seorang pencuri motor di Cakung di awal Januari, atau dua warga Garut penggasak tromol uang jamaah yang tertangkap basah, selain dipermak oleh warga yang murka juga ditelanjangi sebagai bagian efek jera.

Mengapa warga negeri gemah ripah loh jinawi yang terkenal lemah lembut, ramah dan santun bisa mendadak angkara dalam sekedipan mata? Muasalnya terkait dengan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem hukum yang berlaku. Jika massa melihat keadilan tak pernah berpihak kepada yang lemah, atau proses penegakan hukum hanya formalitas yang bertele-tele, tebang pilih dan berat sebelah, akan membuat mereka lampiaskan aksi massa penghakiman sebagai cara protes terbuka untuk menunjukkan ketidakpercayaan terhadap sistem hukum yang tak ditegakkan secara adil dan transparan.  

Mengapa korban harus ditelanjangi? Apakah dibuat babak belur saja tidak cukup? Jika kita teroka dengan pendekatan sosiologis-antropologis, hal ini berkaitan dengan pemaknaan konsep “malu” sebagai variabel kontrol dalam menimbang pengaruh sebuah tindakan.

Luka bonyok akibat babak belur bisa sembuh dalam hitungan pekan, membuat mereka yang bermental begal-begundal sejati  bisa kembali menjalankan aksi lancungnya lagi dan lagi. Tetapi dengan memberi pelajaran tentang pentingnya “ke-malu-an”, ada pesan gamblang dari sebuah aksi massa yang meradang agar pelaku tak mengulangi lagi kriminalitasnya di masa depan karena sudah “diper-malu-kan”. Sebuah rekam jejak yang akan hidup pada ingatan kolektif massa dan anak keturunan pelaku kejahatan. Penelanjangan menjadi instrumen penting pembelajaran.

Di sinilah pentingnya sensitivitas rasa “malu” sebagai jaring-jaring pengaman perbuatan manusia, sehingga Nabi Muhammad s.a.w. ( peace be upon him) dengan jelas mengingatkan, “Jika kamu tidak punya malu, maka berbuatlah sesuka hatimu.” (HR Bukhari).

Itu berarti semakin tinggi kadar dan kualitas rasa malu seseorang, akan semakin hati-hati dan seksama dirinya dalam berucap dan bersikap. Sebaliknya, kian rendah dan tipis rasa malu yang dimiliki, kian besar juga rem blong dalam jiwa-tanpa-malunya dalam melakukan ucapan lisan dan aktivitas perbuatan yang menyakiti hati.

Apa pentingnya membahas telanjang dan ketelanjangan di bulan suci? Apakah justru tidak mencederai pahala berpuasa? Tergantung cara melihatnya.

Senyampang hari ini memasuki 10 Ramadan, hari terakhir dari fase pertama yang penuh rahmat sebelum masuk fase kedua, selama sepuluh hari berikutnya yang penuh pengampunan ( maghfirah), memahami ketelanjangan spiritualitas diri sendiri di hadapan Allah Yang Maha Melihat justru akan menjadi gerbang awal memasuki Taman Ihsan (ihsan adalah kondisi di mana “seakan-akan dirimu melihat-Nya, namun jika kau tak bisa melihat-Nya yakinlah bahwa Dia selalu melihatmu.”)

Seluruh busana fisik yang membungkus tubuh—titel pendidikan, pangkat militer, status kepegawaian, citra ketokohan, dan sebagainya—hanya bisa dipamerkan kepada sesama manusia tetapi tidak membungkus sempurna ketelanjangan hakikat seorang hamba yang bergelimang aib dan dosa di mata Allah Azza wa Jalla.  

Mereka yang sadar dirinya sedang dan selalu telanjang di depan Zat Mulia Maha Pencipta, akan memilih sibukkan diri membasuh lidah yang kerap salah ucap, dengan mendaras ayat-ayat suci ilahi sesering mungkin dengan abaikan lelah dan godaan malas.

Mereka yang paham dirinya telanjang dalam puncak gunung dosa akan meningkatkan kekhusyukan pada setiap ibadah wajib dan memperbanyak ibadah sunnah agar menjadi anak-anak tangga yang terhampar menuju keluasan langit bertabur rahmat.  

Mereka yang mengerti dirinya telanjang dalam gelombang samudera egoisme dan ketamakan, di bulan ini mendapat kesempatan istimewa mengikis keserakahan dengan mencontoh perilaku Nabi yang melakukan ‘kedermawanan lebih cepat dari tiupan angin ( ajwadu bil khair min rihil mursalat)”.

Maka, sejauh mana ketelanjangan diri kita membuat Ramadan yang sudah berlalu sepertiga akan memberikan sebesar-sebesar manfaat dan sebanyak-banyak maslahat?

“ _Iqra’ kitabaka_,” bunyi firman Allah di QS 17:14. _Bacalah kitab(diri)mu_.
Tak perlu sibuk telanjangi dan habiskan waktu bicarakan ketelanjangan orang lain. Perhatikan ketelanjangan diri kita sendiri untuk secepatnya diperbaiki, mumpung Allah masih izinkan ruh bersemayam di dalam tubuh kita yang rapuh. [Irm]


Komentar Pembaca