Hakim Selundupkan Fakta agar Jadi Pembenar-Pemaaf Pembantaian 6 Pengawal HRS

oleh Eggi Sudjana Sukarna, Ketua Umum TPUA

Opini  KAMIS, 24 MARET 2022 | 15:55 WIB

Hakim Selundupkan Fakta agar Jadi Pembenar-Pemaaf Pembantaian 6 Pengawal HRS

Saat adinda Ahmad Khozinudin mengundang saya untuk mengadakan press conference menanggapi putusan sesat majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (19/3/2022), kebetulan saya sudah ada jadwal agenda bersama Bung Tamsil Linrung sehingga tak dapat bergabung. Namun, saya sependapat dengan sikap yang ditempuh sejumlah tokoh dan aktivis dalam acara tersebut, yang meminta agar seluruh rakyat tidak percaya dengan sidang dagelan KM 50.

Putusan onslag pada kasus KM 50, benar-benar mencederai rasa keadilan dan nihilkan intelektual ,  dengan entengnya, hakim menyatakan peristiwa pembantaian terbukti, namun melepaskan pembantai dengan dalih alasan pembenar dan pemaaf, " membela diri " yang menyebabkan hilangnya unsur melawan hukum perbuatan.

Semua versi pembelaan terpaksa (noodweer) sebagaimana diatur dalam pasal 49 KUHP, hanya diadopsi dan dipertimbangkan dari keterangan terdakwa dan petunjuk yang yang disimpulkan dari keterangan sejumlah saksi dari pihak kepolisian. Sulit untuk memberikan penilaian, peradilan seperti ini bersifat objektif , hal ini jelas sekali subyektivitasnya majelis Hakim yang amat di haramkan dalam ambil putusannya , lagi pula tak ada keterangan pembanding dari pihak korban.

Alasan membela diri, juga tak logis karena sebelumnya polisi yang melakukan pengintaian, penguntitan, pengejaran hingga penangkapan. Saat melakukan penangkapan saja, peristiwa ini sudah merupakan pelanggaran hukum.

Apa kesalahan 6 pengawal HRS sehingga harus ditangkap ? jangankan bersatus tersangka, sebagai saksi dalam proses pidana juga tidak. Tertangkap tangan sedang melakukan tindak pidana juga tidak.

Mengawal HRS dan keluarganya, juga bukan perbuatan melawan hukum. HRS sendiri baru berstatus saksi. Saksi jika dipanggil tidak memenuhi panggilan penyidik, dapat dilakukan upaya panggilan ulang. Bukan dikuntit, sudah seperti penjahat saja perlakuan polisi kepada orang yang baru berstatus saksi, dalam perkara ecek-ecek lagi, hanya soal kerumunan di Petamburan.

Kalau dilihat konstruksi peristiwanya, justru 6 pengawal HRS yang berusaha membela diri dan menyelamatkan HRS, dengan mengalihkan laju kendaraan menuju ke tol Jakarta Cikampek. Padahal, tidak ada kepentingan untuk melaju ke arah Cikampek.  Acara di Megamendung, kediaman HRS di Jakarta (Petamburan).

Dengan terpaksa, pengalihan dilakukan karena kondisi 6 pengawal HRS menyadari keselamatan HRS terancam. Posisi pengawal HRS mengambil alih ancaman, dan berusaha juga mengamankan diri dari ancaman dari kejaran gerombolan orang-orang jahat, yang baru kemudian diketahui adalah anggota Polda Metro Jaya.

Posisinya, 6 pengawal HRS yang terancam dan melakukan pembelaan diri. Mereka yang dikejar dan diburu, hingga akhirnya ditembak di KM 50.

Karena itu, saya berkesimpulan majelis hakim telah melakukan penyelundupan fakta hukum untuk dijadikan dalih adanya keadaan yang terpaksa untuk melakukan pembelaan terpaksa (noodweer) , bagaimana pengetahuan Majelis Hakim nya terhadap Ayat Suci Qur'an dalam Surat An Nisa ( 4 ) ayat 135 ;
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّا مِيْنَ بِا لْقِسْطِ شُهَدَآءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰۤى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَا لِدَيْنِ وَا لْاَ قْرَبِيْنَ ۗ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَا للّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَا ۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰۤى اَنْ تَعْدِلُوْا ۚ وَاِ نْ تَلْوٗۤا اَوْ تُعْرِضُوْا فَاِ نَّ اللّٰهَ كَا نَ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرًا
"Wahai orang-orang yang beriman! Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia (yang terdakwa) kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatan (kebaikannya). Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutarbalikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka ketahuilah Allah Maha Mengetahui terhadap segala apa yang kamu kerjakan."
(QS. An-Nisa' ( 4 ) : Ayat 135) . Jika di pahami dan ditaati Ayat Qur'an  tersebut , bagaimana mungkin
sehingga, akhirnya terdakwa dilepaskan ????? . Sepanjang saya eksis di dunia advokat selama lebih dari 30 tahun, sebagai penegak hukum, baru kali ini ada kasus pembunuhan sadis terbukti di persidangan tetapi pelakunya dilepaskan.

Siapapun pasti tidak percaya putusan seperti ini. Hanya orang zalim atau bagian dari yang menyetujui kezaliman, yang mendukung dan Sujud Syukur atau  bersyukur atas putusan ngaco / ngawur ini , bersyukur pada Siapa ? Sementara ALLOH SUBHANNAHU WA TA ALA MEWAHYUKAN DALAM SURAT AL MAIDAH ( 5 ) ayat 32 :  
مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ ۛ كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِۢغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَا دٍ فِى الْاَ رْضِ فَكَاَ نَّمَا قَتَلَ النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَ نَّمَاۤ اَحْيَا النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَلَـقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِا لْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَ رْضِ لَمُسْرِفُوْنَ
"Oleh karena itu, Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi."
( QS. Al-Ma'idah 5 : Ayat 32 ) .
Saya menyarankan, semua akademisi dan praktisi hukum bersuara menolak putusan ini. Rendah sekali intelektual kita alias Oon , jika dipaksa percaya pada satu sandiwara yang dipenuhi dengan kebodohan yang nyata ini .

Hukum telah mati, keadilan telah pergi. Rasanya, negeri ini tinggal jargon saja negara hukum. Praktiknya, benar-benar telah menjadi negara kekuasaan. Negara suka-suka pihak yang punya kewenangan persis gaya kepemimpinan nya Firaun lihat Surat Al Qosas ( 28 Ayat 4 dan 39 nya ) . [ros]


Komentar Pembaca