Ternyata Tidak Satupun Pawang Yang Mampu Menghentikan Hujan

Sosial  SENIN, 21 MARET 2022 | 17:12 WIB | Rahmad Romli

 Ternyata Tidak Satupun Pawang Yang Mampu Menghentikan Hujan

MC

  Di Indonesia, pawang hujan adalah sebutan untuk seseorang dalam masyarakat Indonesia yang dipercaya memiliki ilmu gaib dan dapat mengendalikan hujan atau cuaca. Dimana umumnya, pawang hujan mengendalikan cuaca dengan memindahkan awan. Jasa pawang hujan biasanya dipakai untuk acara-acara besar seperti perkawinan, konser musik dan banyak lagi.

Untuk upacara atau ritual yang diperlukan pawang hujan untuk mengubah cuaca berbeda-beda dari satu tradisi ke tradisi lain. Beberapa pawang hujan melakukan laku seperti puasa mutih sebelum hari penyelenggaraan acara. Sebagian yang lain melakukan prosesi mandi dari tujuh sumber mata air keramat.

Hampir semua acara yang bersifat di alam terbuka bisa dilakukan pawang hujan. Mulai dari acara khitanan hingga turnamen besar sekaliber MotoGP di Mandalika bisa diatasi semua pawang hujan.

“Saya bukan dewa juga bukan hebat.  Saya hanya mampu membantu kesulitan bidang usaha anda yang sedang anda lakukan terlebih-lebih disaat musim hujan dan cuaca mungkin kurang bersahabat pada lokasi tempat di mana yang anda inginkan agar cuaca tidak mengganggu acara anda. Saya hanya mengeser hujan tersebut agar tempat yg anda inginkan menjadi bersahabat,” demikian kata Mas Wiro, pawang hujan asal Bandung, Jawa Barat.

Mas Wiro juga menjelaskan kalau hampir semua acara  bisa dilakukannya. Mulai dari resepsi pernikahan, khitanan, pengamanan di lokasi proyek lahan pembangunan.

Lokasi pencalonan Pilkades, Pilbup, Pilgub, lokasi syuting film, garden party hingga acara karnaval atau pawai. Dia juga bisa mengamankan hujan di acara festival budaya, perayaan agama, upacara bendera, upacara adat. Pertandingan olahraga seperti kompetisi sepakbola, turnamen golf serta berbagai acara kenegaraan.

Namun dia tidak bisa menghentikan hujan itu sendiri melainkan hanya menggesernya ke tempat lain.

Pawang hujan lainnya dari Jawa Tengah, Nuryanto atau dikenal dengan Mbah Bejo mengatakan, seorang pawang bisa saja menyingkirkan hujan di sebuah acara pesta di suatu kota walau sang pawang bisa saja di kota lain.

Efeknya pun seketika dan seolah tidak berpengaruh terhadap posisi keberadaan dirinya. Kendati begitu, proses kerja jarak jauh kurang efisien dan cenderung memakan lebih banyak tenaga, upaya dan biaya.

"Secara umum yang ditahan atau digeser adalah awan penyebab hujan. Bukan hujannya," kata Mbah Bejo.

Dia menjelaskan bahwa sejatinya awan adalah sekumpulan uap air hasil evaporasi (penguapan), di mana di dalamnya terdapat muatan elektron. Muatan elektron inilah yang dimanfaatkan oleh praktisi pawang hujan untuk dimanipulasi, tentu dengan perlakuan dan ritual tertentu.

Pawang hujan memiliki tenaga dalam cukup besar dalam dirinya tentu dengan cara-cara tertentu bisa mempengaruhi medan magnetik benda lainnya (telekinesis), termasuk awan. Dengan memainkan medan magnetik, pawang hujan dapat mendorong, memindahkan, menahan, bahkan menurunkan/menyedot (menjadi hujan) atau sekedar mendatangkan awan dari daerah lain (menjadi mendung/teduh).

"Paling sulit adalah mengumpulkan awan dan membuat hujan pada suatu lokasi di musim kering. Menahan atau menggeser hujan lebih ringan karena memanfaatkan bantuan angin," kata Mbah Bejo.

Selain tenaga dalam, cara lain untuk menahan awan adalah dengan tenaga batin. Tenaga batin diperoleh melalui kekuatan doa atau rapalan mantera. Hal itu bisa diperkuat lagi dengan berbagai ritual dan lelaku prihatin, seperti puasa, mutih, ngableng, pati geni, nglowong, dan lain-lain. Ada pula yang memanfaatkan penggunaan khodam/makhluk ghaib.

"Jika ada pawang hujan menggunakan sesaji, membakar kemenyan, memasang bawang, cabe di sapu lidi, biasanya itu memanfaatkan khodam (jin pembantu)," kata Mbah Bejo.

Pawang hujan lainnya Joko Meteng mengaku sebenarnya dirinya tidak bisa menghentikan atau bahkan menolak hujan. Hujan, menurutnya hanya mampu dikendalikan oleh Sang Pencipta.

“Saya itu hanya berusaha mengendalikan awannya. Jadi kalau pas ada acara awannya terlihat mendung, saya geser ke tempat lain. Kalau menghentikan, apalagi menolak [hujan] jelas enggak bisa. Itu kuasa Gusti Allah,” jelas Joko.

Untuk acara nikahan, Joko biasanya mendapat bayaran Rp1,25 juta setiap harinya. Namun, untuk acara berskala besar, seperti konser musik atau event lainnya, Joko mematuk tarif sekitar Rp1,5 juta per bulan.

“Alhamdulillah, ini mungkin jalan rezeki saya. Kebetulan banyak kliennya yang percaya sehingga diberi kemudahan. Setiap bulan, kalau pas sepi order ya bisa dapat Rp10 juta per bulan. Kalau pas ramai seperti sekarang ini, syukur-syukur bisa mengantongi Rp20 juta per bulan,” pungkas Joko.

Kendati demikian, banyak klien yang tetap percaya dengan kemampuan Joko menghentikan hujan. Bahkan untuk menggunakan jasa Joko, mereka tak segan memberi bayaran hingga jutaan rupiah. [rhd]


Komentar Pembaca