Inilah Nilai Keskralan Tanah dan Air dari Bumi Sriwijaya untuk IKN Nusantara

Kajian  RABU, 16 MARET 2022 | 13:32 WIB | Rahmad Romli

Inilah Nilai Keskralan Tanah dan Air dari Bumi Sriwijaya untuk IKN Nusantara

moeslimchoice

MoeslimChoice. Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) H. Herman Deru bersama seluruh Gubernur Provinsi di Indonesia mengikuti prosesi penyerahan penyatuan tanah dan air di titik  nol kilometer Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur yang dilakukan langsung Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (14/3) lalu.

Untuk diketahui tanah yang dibawa oleh Gubernur Herman Deru ke ke titik nol Ibu Kota Negara atau IKN Nusantara  diambil dari tanah Bumi Sriwijaya  tepatnya di  Bukit Siguntang Mahameru yang  merupakan situs sejarah dimasa Kerajaan Sriwijaya.

Sedangkan air sebanyak 2 liter  yang juga dibawa serta ke IKN  air yang bersumber dari Sungai Musi  yang merupakan muara dari sembilan sungai atau  Batanghari Sembilan yang ada di Sumsel. Dimana filosofinya adalah sungai  merupakan urat nadi masyarakat Bumi Sriwijaya.

Bukit Siguntang. Bukit setinggi 27 meter ini  merupakan tempat yang dianggap suci dan penuh kharisma sejak abad 14-17. Di tempat ini terdapat makam para tokoh keturunan Kerajaan Srwijaya. Tidak heran jika kawasan Bukit Siguntang menjadi salah satu destinasi wisata sejarah, terutama mengenai sejarah Kerajaan Sriwijaya yang pernah menjadi pusat kegiatan agama Buddha di nusantara.

Di masa lampau, Bukit Siguntang menjadi daratan tertinggi di wilayah Palembang yang saat itu hampir 70 persen daerah rawa.

Bukit yang memiliki luas sekitar 12,8 hektar ini berlokasi di Jalan Srijaya Negara, Keluruhan Bukit Lama, Kecamatan Ilir Barat I, Palembang.

Pada masa kolonial Belanda, Bukit Siguntang dianggap sebagai tempat yang paling indah di Palembang. Di bukit ini terdapat makam keturunan Kerajaan Sriwijaya, antara lain Segentar Alam, Puteri Kembang Dadar, Puteri Kembang Selako, Panglima Bagus Kuning, Panglima Bagus karang, Panglima Tuan Junjungan, Pangeran Raja Batu Api, dan Panglima Jago Lawang.

Segentar Alam merupakan sosok yang dianggap perkasa keturunan Iskandar Zulkarnain. Dirinya merupakan pembawa petuah yang berhasil membawa kemakmuran dan kejayaan bagi wilayahnya. Tidak jauh dari makam Segentar Alam terdapat makam Puteri Kembang Dadar.

Secara etimologi, nama Puteri Kembang Dadar berasal dari tiga kata, yaitu puteri yang dapat diartikan sebagai panggilan kehormatan bagi seorang perempuan. Sementara kembang dapat diartikan sebagai bunga, yaitu karunia alam yang gemari dan dikagumi banyak orang. Sedangkan dadar bermakna ujian. Jadi secara harfiah, Puteri Kembang Dadar merupakan gelar yang dapat diartikan sebagai puteri yang dimuliakan dan dikagumi karena mampu menahan ujian dan segala macam cobaan.

Selain menjadi tempat pemakaman bagi para keturunan Kerajaan Sriwijaya, menurut catatan sejarah, Bukit Siguntang sejak abad ke-7 telah menjadi tempat ibadah penganut Buddha. Hal tersebut dibuktikan dengan ditemukannya arca Buddha dengan tinggi mencapai 2,77 meter yang terbuat dari batu granit.

Benda bersejarah lain yang ditemukan di sekitar Bukit Siguntang adalah pecahan-pecahan tembikar dan keramik peninggalan Dinasti Tang. Penemuan pecahan keramik dan tembikar di kawasan Bukit Siguntang juga membuktikan bahwa, selain digunakan sebagai pusat kegiatan agama Buddha yang dilakukan oleh para Bikshu dan Sanggha, di pemukiman ini juga diyakini terdapat pemukiman warga.

Di masa Kesultanan Palembang, Bukit Siguntang juga menjadi salah satu kawasan sacral. Bahkan konon Sultan Mahmud Badaruddin II pernah mengajak para pemimpin yang ada di pedalaman Palembang untuk bersumpah setia kepada kesultanan di atas Bukit Siguntang.

Sungai Musi. Menjadi sungai yang terbesar dan terpanjang di Pulau Sumatera yang membentang dari hulu di Bukit Barisan hingga bermuara di Selat Bangka Provinsi Sumatera Selatan. Sungai Musi memiliki panjang sekitar 720 kilometer lebih dengan lebar hingga mencapai 150 meter.

Sungai ini membelah Kota Palembang menjadi dua bagian, Ilir dan Ulu. Kedua bagian tersebut dihubungkan oleh Jembatan Ampera yang merupakan ikon Palembang dan tiga jembatan lainnya.

Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, sungai ini terkenal sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat.

Sungai Musi disebut juga Batanghari Sembilan yang berarti pertemuan sembilan anak sungai besar. Dimana Sungai Musi adalah menjadi induk muara bagi sungai-sungai yang ada di wilayah Sumatera Selatan.

Pertemuan anak-anak sungai besar yakni Sungai Komering yang membentang di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ulu, Ogan Komering Ilir (OKI) hingga Ogan Ilir (OI).

Sungai Rawas yang membentang di wilayah Kabupaten Musi Rawas dan beberapa wilayah lainnya.

Sungai Leko atau Sungai Batanghari Leko yang membentang di Kabupaten Mura, Musi Banyuasin dan Banyuasin.

Sungai Lakitan yang membentang dari Kabupaten Mura dan sekitarnya.

Sungai Kelingi, memiliki panjang 70 kilometer.  Sungai ini berhulu di Bukit Barisan yaitu di Rejang Lebong, Bengkulu menyusuri wilayah Kota Lubuklinggau, Kabupaten Musirawas kemudian mengalir ke Sungai Musi.

Sungai Lematang mengalir melewati lima kota/kabupaten, antara lain Kota Pagar Alam, Kabupaten Lahat, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Kota Prabumulih, dan Kabupaten Muara Enim. Hulu Sungai Lematang berada di kaki Gunung Patah yang masuk dalam rangkaian Pegunungan Bukit Barisan.

Sungai Rupit yang membentang di wilayah Kabupaten Musi Rawas dan Musi Rawas Utara (Muratara) dan bermuara ke Sungai Musi.

Sungai Ogan merupakan sungai terpanjang ketiga di Sumatra Selatan setelah Sungai Musi dan Komering). Sungai ini mengalir di perbatasan atau memotong melalui kabupaten OKU Selatan, OKU, OKI, dan Ogan Ilir.

Semua unsur tanah dan air dari Bumi Sriwijaya ini kemudian dibawa ke Kalimantan Timur untuk mengalami penyatuan tanah dan air dari  33 provinsi  sebagai bentuk titik nol atau IKN Nusantara  yang tepatnya terletak di Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kaltim tersebut.

Pada kesempatan itu Gubernur  Herman Deru  menyerahkan kendi  berisikan 1 kologram tanah dan 2 liter air  yang dibawanya  dari Bumi Sriwijaya dengan menggunakan  tempayan dan kendi  ukuran kecil tersebut diserahkan Herman Deru kepada  Presiden RI Jokowi.

Selanjutnya  air dan tanah yang diserahkan Gubernur Herman Deru tersebut dimasukan Presiden Jokowi ke dalam tempayan ukuran besar  yang ada dihadapannya bercampur dengan tanah dan air yang dibawa oleh para Gubernur se Indonesia lainnya.  Dimana sebelumnya  yang mendapatkan kesempatan pertama kali menyerahkan air dan tanah kepada presiden adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan diakhiri oleh Gubernur Kalimantan Timur H. Isran Noor.

Presiden Joko Widodo mengatakan mewujudkan IKN sdalah sebuah cita-cita yang besar. 

"Pada hari ini Senin 14 Maret 2022, kita hadir bersama-sama di sini dalam rangka sebuah cita-cita besar dan pekerjaan besar yang akan kita segera mulai yaitu pembangunan Ibu Kota Nusantara,” kata Jokowi dalam sambutannya usai prosesi penyerahan tanah dan air dari para gubernur se Indonesia.

Presiden pun menyampaikan ucapan terima kasihnya kepada seluruh gubernur yang telah membawa tanah dan air dari masing-masing daerahnya untuk disatukan di lokasi yang akan dibangun sebagai Ibu Kota Nusantara.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para gubernur. Ini merupakan bentuk dari kebhinekaan kita dan persatuan yang kuat di antara kita dalam rangka membangun Ibu Kota Nusantara ini,” ujar Jokowi. [rhd]


Komentar Pembaca
Tragedi Tersengat Listrik Saat Pengajian

Tragedi Tersengat Listrik Saat Pengajian

Selasa, 09 Agustus 2022 | 13:10

Paylater Haram!!!

Paylater Haram!!!

Selasa, 09 Agustus 2022 | 13:08