Apapun Dalihnya, Muslimah Terlarang Nikah Beda Agama

Inspirasi Islam  SENIN, 14 MARET 2022 | 17:55 WIB

 Apapun Dalihnya, Muslimah Terlarang Nikah Beda Agama

Belakangan timbul anggapan (seolah) Muslimah boleh menikahi pria non Muslim kalau pernikahan itu dilakukan lewat jasa Konsul Pernikahan Beda Agama. Mereka berdali, dilakukan dua kali pernikahan yaitu Aqad Nikah karena si perempuan beragama Islam, lalu menikah kembali di tempat ibadah si pria yang non Muslim.

Padahal sudah ditegaskan dalam Kitab Suci Al Quran, wanita Islam haram menikah beda agama. Tidak ada satu alasan pun yang dapat menjadi pengecualian dalam hal ini.

Jika pun sepasang suami-istri yang sama-sama non Muslim. Pernikahan yang sudah mereka jalani tersebut menjadi batal seketika apabila si istri masuk Islam. Istri yang mualaf itu harus bercerai dari suaminya yang non Muslim.

Di Makkah al Mukarramah di zaman awal Islam, lazim terjadi pernikahan beda agama. Pasangan suami istri tersebut hidup harmonis, hingga turunya Ayat 10 Surah Al Mumtahana.  

Dilansir dari nu.or.id, Senin (14/3/2022), tiga wanita Islam generasi sahabat Rasulullah Muhammad SAW yang bercerai karena suami mereka beda agama. Ketiga Muslimah itu adalah:

1. Subai’ah bintil Harits al-Aslami
PERJANJIAN Hudaibiyah, Tahun Ke-6 Hijrah saat itu baru saja usai. Rasulullah SAW beserta 1.400 kaum Muslimin pulang ke Madinah, mengurungkan niat umrah karena perjanjian tersebut.

Di tengah perjalanan pulang itulah Suabi’ah bin al-Harits istri Musafir al-Makhzumi, versi riwayat lain istri Shaifi bin ar-Rahib, menyusul rombongan kaum Muslimin. Ia pun menyatakan dirinya masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW.

Mengetahui istrinya lari menyusul kaum Muslimin, sang suami yang masih dalam kekufuran bersama serombongan kaum musyrikin menyusulnya, segera menemui Rasulullah saw.

 “Hai Muhammad, kembalikan istriku. Sungguh dalam perjanjian tadi kamu telah sepakat untuk mengembalikan siapa saja dari golongan kami yang mendatangimu. Tinta perjanjian ini pun belum kering,” protesnya kepada Rasulullah SAW.

 Sebenarnya Rasulullah SAW hendak mengembalikan Subai’ah kepada suaminya. Namun saat itu pula turun Ayat 10 Surah Al Mumtahanah yang berbunyi:  “Lâ hunna hillul lahum wa lâ hum yahillûna lahunn."
Artinya: Muslimah tidak halal bagi lelaki kafir dan lelaki kafir tidak boleh menikahi Muslimah.

Sebab keislamannya Subai’ah tidak lagi halal menjadi istri sehingga otomatis terceraikan dari suaminya yang masih dalam kekufuran.

Akhirnya Subai’ah ikut rombongan kaum muslimin dan tinggal di Madinah. Kelak di Madinah menikah dengan Sa’d bin Khaulah. (Mar’i bin Yusuf al-Karami, Qalâidul Marjân fi Bayânil Nâsikh wal Mansûkh fil Qur’ân, [Kuwait, Dârul Qur’ânil Karîm, 1400 H], halaman 207-208), Ibnu Hajar al-Asqalani, al-Ishâbah fî Tamyîzis Shahâbah, [Beirut: Dârul Jîl, 1412 H], juz VII, halaman 690).

2. Ummu Kultsum binti Uqbah bin Abu Mu’aith
UMMU Kultsum sebagaimana diriwayatkan Imam al-Bukhari dalam Kitab Kumpulan Hadits Shahih karyanya al-Jami’ as-Shahîh. Ia melarikan diri ke Madinah dari suaminya Amru bin al-‘Ash yang masih dalam kekufuran di Makkah.

Mengetahui Ummu kultsum melarikan diri ke Madinah, kedua saudaranya yaitu al-Walid dan ‘Amarah menyusulnya. Di Madinah mereka menemui Rasulullah SAW untuk mengajak pulang Ummu Kultsum ke Makkah. Lagi-lagi Rasulullah menegaskan bahwa Ummu Kultsum tidak boleh diajak pulang, sebab ia tidak halal lagi menjadi istri bagi suaminya yang masih dalam kekufuran.

Kemudian ia menikah dengan Zaid bin Haritsah. (Fakhruddin ar-Razi, Mafâtîhul Ghaib, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 1421 H/2001 M], juz XXIX, halaman 265-264), dan (Ahmad bin Ali bin Hajar al-Asqalani, Fathul Bâri, [Beirut, Dârul Ma’rifah: 1379 H], juz VII, halaman 454), dan (al-Asqalani, al-Ishâbah, juz VIII, halaman 219).

3. Umaimah binti Bisyr
UMAIMAH binti Bisyr istri dari Hassan bin ad-Dahdahah lari dari suaminya yang saat itu masih kafir. Umaimah lari ke Madinah dan oleh Rasullullah SAW kelak ia dinikahkan dengan Sahl bin Hanif.
Umaimah termasuk wanita yang cerai karena turunnya Ayat 10 Surat Al  Mumtahanah yang mengharamkan Muslimah menjadi istri lelaki non Muslim. (Al-Asqalani, Fathul Bâri, juz V, halaman 348), dan (al-Asqalani, al-Ishâbah, juz VII, halaman 508).

JELAS sudah bahwa setelah turun Ayat 10 Surat Al Mumtahanah Kitab Suci Al Quran, wanita Islam haram atau terlarang menikah beda agama. Jika itu dilakukan maka pernikahan si Muslimah tidak sah. Hubungannya dengan pria itu adalah perzinaan.[ros]


Komentar Pembaca
Alhamdulillah Indonesia Punya Vaksin

Alhamdulillah Indonesia Punya Vaksin

Senin, 27 Juni 2022 | 21:12

Hotman Paris Sowan Ke Ketua Mui

Hotman Paris Sowan Ke Ketua Mui

Senin, 27 Juni 2022 | 13:05