Inilah Bahasa Daerah Yang Telah dan Terancam Punah

Sosial  SABTU, 19 FEBRUARI 2022 | 14:53 WIB | Rahmad Romli

Inilah Bahasa Daerah Yang Telah dan Terancam Punah

bahasa daerah sebagai alat komunikasi/ moeslimchoice

MoeslimChoice. Wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau, ratusan suku serta ratusan ragam budaya menjadikan Indonesia juga kaya akan ragam bahasa daerah. Sayangnya dari ratusan bahasa daerah tersebut, ada yang punah dan terancam punah karena sudah tidak dituturkan lagi.

Berdasarkan hasil penelitian untuk pemetaan dan pelindungan bahasa daerah di Indonesia yang dilaksanakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sejak 1991-2017, setidaknya terdapat 4 bahasa daerah di Indonesia yang kondisinya kritis atau sangat terancam punah.

Keempat bahasa tersebut adalah Bahasa Reta di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur. Lalu Bahasa Saponi di Kabupaten Waropen, Papua. Kemudian Bahasa Ibo di Kabupaten Halmahera Barat, serta Bahasa Meher di Pulau Kisar, Maluku.

Kemudian ada 18 bahasa daerah yang berada dalam kondisi terancam punah. Pembagiannya yaitu sebanyak 9 bahasa daerah di Papua (Mander, Namla, Usku, Maklew/Makleu, Bku, Mansim Borai, Dubu, Irarutu, Podena), 4 bahasa daerah di Sulawesi (Ponosakan/Ponosokan, Konjo, Sangihe Talaud, Minahasa/Gorontalo).

Kemudian ada 2 bahasa daerah di Sumatera yang berada dalam kondisi terancam punah yakni Bahasa Bajau Tungkal Provinsi Jambi, dan Bahasa Lematang di Sumatera Selatan (Sumsel).

Berikutnya ada juga 2 bahasa daerah di Maluku yang terancam punah yaitu Bahasa Hulung, serta Bahasa Samasuru. Kemudian Bahasa Nedebang di Nusa Tenggara Timur.

Seperti dikutip dari Indonesia Baik, keterancaman bahasa, yaitu jumlah penutur yang menggunakan bahasanya serta jumlah dan sifat penggunaan atau fungsi penggunaan bahasa. Suatu bahasa dikatakan terancam apabila semakin sedikit masyarakat yang mengakui bahasanya dan, oleh karena itu, bahasa itu tidak pernah digunakan ataupun diajarkan kepada anak-anak mereka. Selain itu, suatu bahasa dikategorikan terancam punah jika bahasa itu semakin sedikit digunakan dalam kegiatan sehari-hari sehingga kehilangan fungsi sosial atau komunikatifnya.

Sementara hasil penelitian vitalitas bahasa yang dilakukan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa) dalam rentang tahun 2011-2019, ternyata 8 bahasa daerah di Indonesia telah punah. Bahasa-bahasa ini berada di bagian timur Indonesia yakni di Maluku dan Papua.

Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Endang Aminudin Aziz menyebut bahasa yang punah di Maluku ada bahasa Kaiely, Moksela, Piru, Palumata, Hukumina.

 "Sementara di Papua ada bahasa Tandia dan Mawes," ujar Aminudin dalam Forum Diskusi Redaktur Media, Jumat (18/2/2022).

Saat ini jumlah bahasa daerah yang berhasil dipetakan mencapai 718 bahasa daerah. Dari jumlah tersebut baru 94 bahasa yang diteliti dan diketahui ada 8 bahasa yang telah punah.

Selain punah, didapatkan pula 5 bahasa dalam keadaan kritis, 24 bahasa terancam punah, 12 bahasa dalam kondisi rentan, dan 21 lainnya berstatus aman.

Sementara berdasarkan penelitian UNESCO 2003,  ada enam  tingkat keadaan bahasa berdasarkan penilaian vitalitas atau daya hidup bahasa. Dua diantara tingkatan itu adalah terancam dan sangat terancam.

Bahasa yang terancam disebut akibat anak-anak tidak lagi menggunakan bahasanya di rumah sebagai bahasa ibu. Sedangkan bahasa yang sangat terancam karena bahasa itu hanya digunakan antargenerasi tua, tetapi tidak kepada anak-anak.

Sedangkan menurut Aminudin, kepunahan bahasa terjadi terutama karena para penuturnya tidak lagi menggunakan atau mewariskan bahasa tersebut kepada generasi berikutnya.

"Kepunahannya bahasa umumnya karena sikap penuturnya merasa tidak penting lagi menggunakan bahasa daerah," ujarnya.

Bahasa yang punah tersebut dapat saja dihidupkan kembali. Salah satu contoh Bahasa Maori di Selandia Baru.

"Di Selandia Baru bahasa Maori sudah mati, tidak dituturkan lagi para pemakainya. Sebuah tim dari sebuah universitas kemudian menginvestigasi kembali struktur bahasa Maori. Setelah itu, tata bahasanya disusun kembali. Kini bahasa Maori diajarkan dan hidup lagi," ujar Aminudin. [rhd]


Komentar Pembaca