Menghidupkan Bahasa Palembang Yang Terancam Punah Lewat Terjemahan Al Quran

Islamtainment  KAMIS, 27 JANUARI 2022 | 12:36 WIB | Rahmad Romli

 Menghidupkan Bahasa Palembang Yang Terancam Punah Lewat Terjemahan Al Quran

MC

MoeslimChoice. Setelah menjalani proses selama dua tahun lebih, Al-Quran dengan terjemahan bahasa daerah Palembang terlah berhasil dirampungkan Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang bersama akademisi, ulama serta tokoh masyarakat di Palembang. Terjemahan berbahasa Palembang ini sendiri sebagai salah satu upaya bahasa asli masyarakat Ibukota Sumatera Selatan yang penuturnya kian langka.

Dalam proses penerjamah tersebut, sebanyak 20 orang dilibatkan yang diketuai oleh Alfin Julizun Azwar Dosen UIN Raden Fatah. Bahasa Palembang yang dimasukkan dalam Al-Quran juga merupakan bahasa asli atau halus dari nenek moyang yang hampir jarang digunakan sekarang.

"Hanya ada 70 eksemplar atau kurang lebih 15 Juz pada cetakan awal, pada peluncuran hari ini Al-Quran hanya dibagikan kepada beberapa institusi dan masyarakat. Alhamdulillah selesai.” ujar Rektor UIN Raden Fatah Prof. Dr. Nyayu Khodijah, M.Si usai Desiminasi dan menerima langsung terjemahan Al Quran dalam bahasa Palembang, di Kampus B Jakabaring UIN Raden Fatah, Rabu (26/1/2022).

Untuk diketahui meski lazim digunakan sebagai bahasa sehari-hari ternyata tidak semua paham dengan tuturan Bahasa Palembang halus (Baso Palembang).

Bahasa Palembang sendiri terdiri dari bahasa Palembang halus atau Melayu Palembang dan bahasa Palembang sehari-hari.

Bahasa Palembang halus ini sangat jarang dipakai karena tidak banyak penuturnya. Bahasa tersebut hanya digunakan di kalangan keluarga Kesultanan Palembang sehingga sulit beradaptasi dengan bahasa-bahasa daerah lain di Sumsel.

Bahasa Melayu Palembang sangat mirip dengan bahasa Jawa. Hal ini karena Kesultanan Palembang memiliki kaitan erat dengan kerajaan-kerajaan di Jawa. Sayangnya meski cukup akrab di telinga namun tuturannya sendiri jarang dilakukan.

Selain terjemahan Al Quran bahasa Melayu Palembang, sebelumnya juga sudah dibuat kamusnya. Namun tetap saja pelestariannya semakin berkurang.

 Dalam kamus tersebut banyak sekali kata dalam bahasa Melayu Palembang yang sangat mirip dengan bahasa Jawa, baik pengucapan maupun maknanya. Ali mengungkapkan, bahasa Melayu Palembang semakin sedikit dipahami karena tidak diajarkan di sekolah-sekolah.

Menurut penyusun kamus bahasa Palembang halus yang dikutip dari Kompas edisi April 2009, RHM Ali Masri, pelestarian bahasa Melayu Palembang semakin sedikit karena tidak diajarkan di sekolah dan masuk kurikulum.

 “Kondisi ini sangat berbeda dengan di Jawa, di mana bahasa Jawa diajarkan di sekolah dan sudah ada kurikulumnya. Hambatan lain dalam melestarikan bahasa Melayu Palembang. Kemudian juga disebabkan sikap masyarakat yang berpikir pragmatis. Masyarakat menganggap mempelajari bahasa Melayu Palembang tidak terlalu penting bagi masa depan anak-anaknya,” ungkap dosen FKIP Universitas Sriwijaya ini. [rhd]


Komentar Pembaca
Alhamdulillah Indonesia Punya Vaksin

Alhamdulillah Indonesia Punya Vaksin

Senin, 27 Juni 2022 | 21:12

Hotman Paris Sowan Ke Ketua Mui

Hotman Paris Sowan Ke Ketua Mui

Senin, 27 Juni 2022 | 13:05