Rudy Mas'ud Minta Polri Tindak Tegas Edy Mulyadi

POLKAM  RABU, 26 JANUARI 2022 | 01:15 WIB

Rudy Mas'ud Minta Polri Tindak Tegas Edy Mulyadi

Rudy Mas'ud/Net

MoeslimChoice. Anggota Komisi III DPR RI asal Kalimantan Timur (Kaltim), Rudy Mas'ud, meminta Polri menindak tegas dugaan ujaran kebencian yang dilontarkan terkait perpindahan Ibu Kota Negara (IKN). Rudy menyebut dugaan ujaran kebencian itu bisa merusak persatuan.

"Ini aspirasi dari masyarakat Kaltim dan seluruh Kalimantan berkaitan dengan ujaran kebencian dan propaganda untuk memecah integrasi bangsa, ini berkaitan dengan seluruh masyarakat Kalimantan Timur berbagai elemen saat ini, benar-benar saat ini saya khawatir akan terjadi permasalahan yang kita tidak inginkan bersama," kata Rudy kepada wartawan, Selasa (25/1).

Rudy mengatakan aspirasi yang dibawanya ini mewakili masyarakat Kalimantan Timur. Dia meminta orang-orang yang diduga menyebar kebencian diproses hukum sesuai aturan.

"Maka kami menegaskan, Pak, mewakili dari masyarakat Kalimantan Timur, untuk menyampaikan langsung di hadapan Pak Kapolri untuk bisa menindak tegas langsung, Pak, orang-orang begini modelnya," ucap politikus Golkar ini.

Rudy mengatakan warga Kaltim menyambut baik perpindahan IKN ke wilayahnya. Dia menyayangkan ada pihak-pihak yang mencaci penunjukan lokasi IKN di Kaltim.

"Tetapi ada orang-orang yang melakukan ujaran kebencian bahwa Kalimantan Timur masyarakatnya adalah tempatnya kuntilanak, genderuwo, ini menjadi permasalahan yang bahaya, Pak. Perlu diantisipasi, karena ini sudah berkembang suku-suku di sana sudah repot kami antisipasinya," ujarnya.

Dia mewanti-wanti jangan sampai persoalan dugaan ujaran kebencian ini mengganggu suasana kondusif di Kaltim. Dia melihat ada potensi bahaya.

"Kami beragam etnis agama, jangan mengundang berkaitan dengan SARA, ini berbahaya, jangan sampai terjadi sesuatu permasalahan yang sangat kondusif di Kalimantan Timur," tuturnya.

Sebelumnya diketahui puluhan warga Kaltim dari sejumlah kelompok telah membuat laporan terkait dugaan ujaran kebencian di Polda Kaltim. Pihak yang dilaporkan adalah Edy Mulyadi.

Edy dilaporkan karena pernyataannya dalam jumpa pers yang ditayangkan di BANG EDY CHANNEL.

"Ini ada sebuah tempat elit punya sendiri, yang harganya mahal, punya gedung sendiri, lalu dijual pindah ke tempat jin buang anak. Pasarnya siapa? Kalau pasarnya kuntilanak, genderuwo, nggak apa-apa bangun di sana," kata Edy dalam jumpa pers tersebut. Jumpa pers itu intinya mengkritik pemindahan IKN ke Kaltim.

Edy Mulyadi telah meminta maaf atas ucapannya berkaitan dengan pernyataan Kalimantan sebagai tempat jin membuang anak. Dia mengaku pernyataan itu sebetulnya untuk menggambarkan lokasi yang jauh.

Permintaan maaf itu disampaikan oleh Edy melalui akun YouTubenya, BANG EDY CHANNEL. Dalam video klarifikasi itu, dia awalnya menyinggung kembali pernyataannya.

"Kalimatnya gini lengkapnya... 'kita ini punya tempat bagus mahal di Jakarta, tiba-tiba kita jual kita pindah tempat ke tempat jin buang anak', kalimatnya kurang-lebih gitu, 'lalu kita pindah ke tempat jin buang anak'," kata Edy seperti dilihat detikcom melalui channel YouTube-nya, Senin (24/1).

Edy lantas menjelaskan maksud pernyataan tempat jin buang anak, yakni untuk menggambarkan istilah lokasi yang jauh. Dia lantas menyebut Monas hingga BSD juga dulu disebut sebagai tempat jin buang anak.

"Di Jakarta, tempat jin buang anak itu untuk menggambarkan tempat yang jauh, jangankan Kalimantan, istilah kita mohon maaf ya, Monas itu dulu tempat jin buang anak, BSD, Balai Serpong Damai itu tahun '80-90-an itu tempat jin buang anak, jadi istilah biasa," ucapnya.

Lebih lanjut, Edy Mulyadi menduga memang ada pihak yang sengaja memainkan isu yang diucapkannya itu. Bagaimanapun, dia mengakui tetap meminta maaf terkait pernyataannya.

"Tapi temen-temen saya nggak tahu dengan motif apa segala macam ada yang berusaha memainkan isu ini, tapi meski demikian saya ingin sampaikan bahwa saya minta maaf itu benar-benar bukan masalah, saya akan minta maaf, itu mau dianggap salah atau tidak salah saya minta maaf," ujarnya.

Kemudian, Edy juga meminta maaf atas pernyataannya jika melukai masyarakat, khususnya warga Kalimantan. Dia lalu memberi gambaran maksud pernyataannya tempat jin buang anak seperti bahasa 'jancuk' oleh orang Jawa Timur yang dianggap kasar oleh orang Jawa Tengah.

"Jadi itu tetap gimanapun juga saya tetap minta maaf kalau ternyata ucapan tadi dianggap melukai, buat kami, di sini, di Jakarta khususnya, itu istilah yang sangat umum, sebagaimana ada beberapa daerah yang secara budaya umum," jelasnya

"Mohon maaf, misalnya Jawa Timur, dia biasa berkata-kata yang buat orang Solo 'wih kasar banget lo', gitu ya 'jancuk kon mati kapan', itu kan maaf-maaf artinya 'sialan lu, kapan mati lu?' itu kan buat Jawa Timuran biasa banget, tapi buat orang Solo Jawa Tengah 'ih kasar banget'. Nah pada konteks itu sekali lagi saya ingin tekankan tempat jin buang anak, buat kami, saya khususnya Jakarta itu, bener-bener hanya menggambarkan tempat jauh, nggak ada potensi merendahkan menghina nggak ada," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, pihak yang mengatasnamakan diri Tokoh Pemuda Kalimantan, Sulaiman Halim, menanggapi penjelasan Edy Mulyadi. Dia meminta masyarakat Kalimantan memahami dengan penjelasan Edy terkait tempat jin buang anak.

"Jadi buat teman-teman yang ada di Kalimantan mohon ini dimengerti, pernyataan beliau sebenarnya tidak sejahat yang kita bayangkan, apa lagi di situ ada kata-kata monyet, itu celotehan di belakang aja. Jadi buat Bang Edy juga tetap terus suarakan yang benar itu benar yang salah itu salah," tuturnya.[tyo]


Komentar Pembaca
Tragedi Tersengat Listrik Saat Pengajian

Tragedi Tersengat Listrik Saat Pengajian

Selasa, 09 Agustus 2022 | 13:10

Paylater Haram!!!

Paylater Haram!!!

Selasa, 09 Agustus 2022 | 13:08