Jual Foto di OnlyFans, Titus Low Ditangkap Polisi

Internasional  MINGGU, 23 JANUARI 2022 | 08:30 WIB

 Jual Foto di OnlyFans, Titus Low Ditangkap Polisi

Di usianya 22 tahun sekarang, Titus Low sudah menjadi salah satu kreator OnlyFans paling sukses di Singapura. Ia memiliki ribuan pelanggan di platform online yang bisa digunakan penggunanya untuk menjual atau membeli konten.

Dilansir BBC, Minggu (23/1/2022), Titus Low menggunakan situs yang terkenal dengan konten vulgar dewasa ini, untuk mengunggah foto dan video bugil dirinya.

Tapi Desember tahun lalu, dia ditangkap dan ditahan dengan tuduhan "mendistribusikan materi cabul". Penangkapan itu menjadikan Titus Low konten kreator OnlyFans pertama yang menghadapi jerat hukum di Singapura.

Dia terancam dipenjara berbulan-bulan jika pengadilan memutusnya bersalah. Dia belum diminta untuk mengajukan pembelaan.

Di bawah KUHP Singapura, mengirim materi cabul merupakan tindakan ilegal. Begitu pula dengan mengambil bagian atau memperoleh keuntungan dari bisnis apa pun terkait dengan materi cabul yang dikirimkan.

"Secara teknis, [itu artinya] melanggar hukum dengan mengirimkan foto telanjang dirimu sendiri, bahkan kalau itu sudah mendapat persetujuanmu," kata Mark Teng, direktur eksekutif di firma hukum That Legal.

Kasus ini telah menghebohkan warga Singapura, dan membuahkan pertanyaan apa arti penahanan Low bagi kreator lokal Onlyfans lainnya di sana. Ini juga juga memicu perbincangan yang lebih luas, kenapa konten semacam itu harus dipidana di Singapura.

Perjalanan Low di OnlyFans dimulai enam bulan lalu.

Sebelum berkecimpung di situs itu, ia mengaku sudah berusaha untuk mencari penghasilan, tapi situs tersebut memungkinkannya untuk memperoleh uang.

"Dalam kasus saya, ini merupakan kesepakatan antara orang dewasa. Jadi saat itu saya pikir tidak ada masalah [bergabung di OnlyFans]," katanya kepada BBC.

Tapi pada Oktober tahun lalu, lima petugas kepolisian mendatangi rumahnya, menyita telepon genggamnya, iPad, dan rincian terkait dengan akunnya di OnlyFans, katanya.

Polisi mengatakan, mereka mendapatkan laporan yang menyatakan bahwa Low diduga mendistribusikan materi cabul melalui akun OnlyFansnya.

Dia diperingatkan untuk tidak mengakses akun tersebut, dan diperingatkan pelanggaran ini bisa membawanya ke meja hijau.

Tapi menurut kepolisian, Low kembali mengakses akun tersebut, melanjutkan mengunggah "materi-materi cabul" di OnlyFans, dan juga membuat akun kedua.

Low mengatakan kepada BBC bahwa dia melakukan itu karena adanya desakan kebutuhan hidup - platform ini telah menjadi sumber utama pendapatannya.

Pada 2 November, polisi kembali ke rumahnya, dan menyita telepon termasuk akun OnlyFansnya lagi, katanya.

Lebih dari sebulan kemudian, pada 29 Desember, dia diminta untuk menyerahkan diri ke kantor kepolisian.

"Mereka bilang, saya akan ditangkap dan ditahan... [dan] memborgol saya, dan memasukkan saya ke dalam sel," katanya kepada BBC.

"Saya sangat ketakutan, dengan cara mereka mengancam saya, ini seperti saya telah melakukan sesuatu yang sangat jahat."

Dia menghadapi dua sangkaan - dugaan mendistribusikan materi cabul melalui dua akun OnlyFans, dan melanggar perintah polisi untuk tidak kembali mengakses akun tersebut.

Ancaman pidana atas tuduhan pertama yaitu tiga bulan penjara, dan tuduhan kedua lebih dari enam bulan penjara serta denda sebesar 5.000 dolar Singapura atau sekira Rp53 juta.

Penggerebekan terhadap Low telah memicu kekhawatiran komunitas kecil kreator OnlyFans di sana.

Salah satu pembuat konten yang punya nama pengguna LucyToday memperkirakan ada 100 kreator lokal di sana, dan mengatakan mereka khawatir akan ditangkap juga.

"Sangat frustasi untuk memikirkan bahwa pemerintah mengkriminalisasi apa yang kami lakukan terkait dengan seksualitas kami, ketika tak seorang pun dirugikan. Rasanya seperti kita ini dianiaya karena 'kejahatan' tanpa korban."

Dia menambahkan, bahwa tak seorang pun dari OnlyFans telah memperingatkannya, mengenai kemungkinan risiko menggunakan platform tersebut di Singapura.

LucyToday mengatakan, ia berniat untuk tetap melanjutkan menggunakan platform tersebut, seraya berharap "polisi jangan datangi saya".

Kreator OnlyFans di Singapura sebagian besar tampaknya sudah mampu menghasilkan konten, sampai akhirnya ada keluhan terhadap mereka, menurut seorang profesor hukum di Universitas Manajemen Singapura. Ia menambahkan, polisi tidak "terlibat dalam pengawasan yang mengganggu platform media sosial tersebut."

"[Tapi] mereka yang menggunakan platform untuk memproduksi konten dan mendistribusikan materi cabul, berisiko menjadi sasaran [pihak berwenang]. Ini hanyalah pertanyaan kapan waktunya, hukum akan menjerat mereka."

OnlyFans dikenal sebagai platform dewasa untuk berbagi konten.

Aturan ini bukan hanya menjangkau konten yang berada di dalam sebuah situs, seperti OnlyFans, tapi materi cabul apa pun yang dibagikan melalui media elektronik.

"Apakah seseorang [membaginya] melalui SnapChat, OnlyFans, apakah lewat situs, itu semua masih dalam jangkauan KUHP yang berlaku," kata Teng.

Bagaimana pun, Prof Tan menambahkan, bahwa kecil kemungkinan Singapura akan akan mengadili masalah seperti berbagi foto telanjang atas suka sama suka.

"Tidak ada kepentingan kebijakan publik untuk menuntut transmisi materi telanjang, khususnya bagi pasangan dalam hubungan intim, di mana gambar itu hanya untuk pasangan tersebut."

OnlyFans di Singapura

"Kami berharap dalam kajian KUHP selanjutnya, hukum yang berkaitan pada aktivitas seksual dalam bentuk apa pun, harus dikaji untuk menyelaraskan perkembangan masyarakat dan teknologi, dengan prinsip persetujuan pihak terkait sebagai dasar untuk menentukan legalitasnya" kata Kelly Leow, Manajer Komunikasi di lembaga nirlaba AWARE.

Tapi Prof Tan mengatakan itu kemungkinannya kecil.

"Dalam sejumlah yuridiksi seperti Inggris dan Amerika Serikat, memproduksi dan mendistribusikan materi cabul bukanlah pelanggaran hukum... [dan] sering dihubungkan dengan kebebasan berekspresi."

"Singapura memiliki pandangan yang hampir berlawanan. Kebebasan berbicara dan berekspresi tidak meliputi pembatasan yang dianggap parlemen sebagai 'perlu'... demi kepentingan 'ketertiban umum atau moralitas'."

Bahasan mengenai seks masih menjadi sesuatu yang tabu secara luas Singapura yang konservatif - negara di mana gay secara teknis masih menjadi kejahatan, dan ada undang undang yang ketat terhadap pekerja seks.

"Membuat, mentransmisi, dan membagikan materi cabul secara luas dianggap sebagai tidak sesuai dengan standar dan norma di Singapura," kata Prof Tan.

Kapan pertanyaan jika ada rencana apa pun untuk aturan direvisi di masa depan, seorang juru bicara dari Kementerian Dalam Negeri mengatakan: "Pemerintah secara rutin mengkaji undang-undang untuk memastikan mereka bisa memenuhi kebutuhan masyarakat."


Menatap Masa Depan

Kembali ke rumah Low. Ia mengatakan sementara waktu akan fokus mengunggah konten di media sosial lainnya, seperti YouTube, sampai ia mendapat putusan hukum.

Jika ia dinyatakan bersalah, katanya, ini kemungkinan akan menjadi titik balik bagi kreator lokal.

"Jika pemerintah memutuskan untuk [memenjarakan] saya, menurut saya pembuat konten OnlyFans di sini juga akan mundur... [dan] pergi bersembunyi," katanya.

Ia juga berencana untuk hengkang dari negaranya, jika benar-benar dinyatakan bersalah.

"Tetapi jika tidak, ya, mungkin, akan ada masa depan bagi kreator OnlyFans di Singapura," tambahnya.[ros]


Komentar Pembaca