Holding BUMN Pariwisata, Pemain Baru Yang Menebar Ancaman

Ekonomi  SABTU, 15 JANUARI 2022 | 14:13 WIB | Rahmad Romli

 Holding BUMN Pariwisata, Pemain Baru Yang Menebar Ancaman

MoeslimChoice. Pada Kamis (13/1/) lalu, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) meluncurkan Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung. Peluncuran induk usaha yang diberi nama Injourney ini dilakukan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kuta Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

“Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, saya luncurkan Injourney, Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung pada hari ini di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat,” ujar Presiden dalam sambutannya.

Presiden menyampaikan, pembentukan holding ini adalah upaya mengonsolidasikan dan mengintegrasi BUMN-BUMN yang bergerak di bidang pariwisata dan pendukungnya.

“Saya melihat penataan BUMN pariwisata ini adalah keharusan. Karena selama ini saya melihat BUMN dengan anak yang banyak, dengan cucu-cucu yang banyak, bergerak di sektor pariwisata dan pendukungnya yang jumlahnya juga sangat banyak, bergerak dari hulu sampai hilir,” ujarnya.

BUMN-BUMN beserta anak dan cucunya tersebut selama ini berjalan sendiri-sendiri sehingga menjadi lemah. Oleh karena itu, dengan adanya holding Presiden mengharapkan akan membentuk sebuah kekuatan besar. Holding ini akan mengonsolidasikan BUMN sektor pariwisata dan pendukungnya mulai dari penerbangan, pelayanan bandar udara, hotel, atraksi, manajemen kawasan destinasi wisata, retail, dan lain-lainnya.

“Dengan membentuk Holding BUMN Pariwisata dan Pendukung, pengelolaan pariwisata kita akan insyaallah akan bisa dilakukan secara efisien, terintegrasi dari hulu sampai hilir. Mulai penataan rute penerbangan, konten promosi, event, atraksi, kuliner, akomodasi sampai ke penjualan retail-retail suvenir dari para perajin-perajin kita yang tentu saja juga sudah terseleksi dengan baik,” ujarnya.

Selain itu, Kepala Negara menekankan bahwa restrukturisasi harus membuat holding BUMN pariwisata menjadi gesit dan lincah serta profesional.

“Kunci ini, membuat tata kelola menjadi lebih efisien dan lebih simpel dan sederhana. Jangan sampai justru muncul keribetan-keribetan baru, atau memindahkan persoalan-persoalan lama ke bentuk persoalan-persoalan baru,” tandasnya.

Menanggapi pembentukan perusahaan plat merah itu,  Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) merasa khawatir kalau peleburan sejumlah perusahaan pemerintah ini  bakal memonopoli rantai bisnis industri pariwisata.

Seperti dilansir dari Bisnis.com, Wakil Ketua Umum Asita Budijanto mengatakan monopoli bisnis lewat integrasi aset Holding BUMN Pariwisata & Pendukung itu bakal memangkas peluang pendapatan dari aktor industri yang relatif kecil.

Budijanto meminta pemerintah untuk menyiapkan skema agar swasta turut dilibatkan dalam rantai bisnis Holding BUMN Pariwisata itu.

“Jangan sampai kemudian holding pariwisata itu justru mematikan bisnis-bisnis pariwisata yang kecil jadi terjadi monopoli, ini yang harus kita antisipasi yang harus kita siapkan dari awal,” kata Budijanto.

Budijanto mengatakan Holding BUMN Pariwisata itu dapat berperan sebagai distributor peluang usaha lewat integrasi sistem yang dimilikinya. Dia mengatakan pengusaha swasta dapat mengerjakan setiap peluang usaha yang didistribusikan oleh gabungan perusahaan pelat merah tersebut.

“Mereka holding cukup sebagai distributor, mereka tidak deal sendiri kalau ada kegiatan tidak jualan sendiri, yang jualan tetap industri pariwisata yang kecil menengah ini itu yang saya harapkan,” tuturnya.

Nantinya, dia menambahkan bentuk kerja sama itu dapat terjalin lewat sistem komisi atau bagi hasil yang mendukung daya saing pariwisata dalam negeri. Dengan demikian, industri pariwisata dalam negeri dapat pulih seiring dengan terkendalinya pandemi Covid-19 belakangan ini.

Seperti diberitakan sebelumnya, Holding BUMN Pariwisata & Pendukung atau PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) menargetkan untuk mendongkrak kontribusi sektor pariwisata terhadap raihan pendapatan domestik bruto atau PDB mencapai 4,5 persen pada tahun ini.

Rencanannya, Holding BUMN Pariwisata itu bakal mulai mengintegrasikan sejumlah ekosistem pariwisata yang selama ini tidak saling terhubung. Holding ini berisi antara lain PT Angkasa Pura I (Persero), PT Angkasa Pura II (Persero), PT Hotel Indonesia Natour (Persero), PT Taman Wisata Candi Borobudur , Prambanan dan Ratu Boko (Persero) (TWC), dan PT Sarinah (Persero). Holding itu juga mengelola sejumlah hotel dengan menyatukan 122 hotel yang berada di bawah Kementerian BUMN. [rhd]

 


Komentar Pembaca