Tukang Hipnotis Ini Berkedok Ustaz dan Ponpes Abal-abal

POLKAM  MINGGU, 12 DESEMBER 2021 | 10:10 WIB

Tukang Hipnotis Ini Berkedok Ustaz dan Ponpes Abal-abal

Ini kabar terbaru mengenai pria berkedok ustaz dan mendirikan pondok pesantren abal-abal, Herry Wirawan, yang telah memperkosa belasan muridnya yang ia sebut para santriwati.

Adalah Yudi Kurnia, kuasa hukum santriwati asal Garut korban pemerkosaan, yang mengungkap fakta baru dan mengejutkan itu. Ia menceritakan modus pemerkosaan yang dilakukan Herry Wirawan, oknum guru di Madani Boarding School di Cibiru, Bandung, Jawa Barat.

Menurut Yudi Kurnia, sebelum memperkosa para korban, Herry Wirawan selalu melakukan bisikan halus atau ‘hipnotis’ ke telinga korban. Yudi Kurnia mendapatkan keterangan ini dari sejumlah korban yang menyampaikan pengakuan mereka kepadanya.

Yudi menceritakan penuturan korban berusia belasan tahun, Herry Wirawan kerap membisikan sesuatu ke telinga para korban sebelum melakukan perkosaan. Mulanya, korban menolak. Namun, karena bisikan di telinga ini, korban seperti kena hipnotis sehingga mau saja disetubuhi oleh Herry Wirawan.

“Kalau menurut keterangan dari anak-anak. Mereka itu awalnya menolak, tetapi setelah si pelaku itu membisikkan sesuatu di telinga, korban jadi mau,” jelas Yudi Kurnia kepada wartawan di Kantor LBH Serikat Petani Pasundan seperti dilansir dari pojoksatu.com, Minggu (12/12/2021).

“Ada bisikan ke telinga korban dari pelaku setiap mau melakukan itu,” ujarnya lagi. Selain masalah bisikan hipnotis, ada beberapa kejanggalan lain dari pesantren yang diklaim milik Herry Wirawan ini.

Sekolah berasrama atau boarding school yang berada di bawah pengelolaan Yayasan Pendidikan Sosial Manarul Huda Antapani, ini hanya mempunyai satu guru yaitu Herry sendiri.

Santrinya yang semuanya perempuan berusia 13 tahunan tak pernah belajar. Hal itu dikatakan pengacara sejumlah korban asal Garut, Yudi Kurnia.

Menurut Yudi Kurnia, di lembaga  tersebut Herry bertindak sebagai pengelola dan guru tunggal. Tidak ada pengajar lain di sekolah tersebut.

“Dia pemilik yayasan, sekaligus pengajar. Ini yang saya heran. Pesantren itu, santrinya adalah perempuan semua. Yang mengajarnya satu orang. Si oknum itu laki-laki,” katanya.

Menurut keterangan para korban, kata dia, para santriwati tak benar-benar belajar di sana. Mereka malah sering diminta membuat proposal pesantren.

“Menurut keterangan korban, dia sebetulnya setiap harinya bukan belajar. Mereka itu setiap hari disuruh bikin proposal,” kata Yudi. [ros]


Komentar Pembaca