PTPN III Holding

Transformasi untuk Kesinambungan Perkebunan Kelas Dunia

Nominasi Economy Business MoeslimChoice Award 2021

Moeslim Choice Award  KAMIS, 25 NOVEMBER 2021 | 13:05 WIB

Transformasi untuk Kesinambungan Perkebunan Kelas Dunia

Moeslimchoice.  MoeslimChoice menominasikan PT  Perkebunan Nusantara (PTPN) III, induk perusahaan (holding) Badan Usaha Milik Negara PTPN Group sebagai penerima penghargaan tahun ini untuk kategori Economy and Business Award. Pertimbangannya ringkas, BUMN ini berhasil mengemban amanat melalui transformasi untuk memulihkan kinerja secara luar biasa.

Secara keseluruhan, kinerja PTPN Group kian membaik seiring langkah transformasi oleh manajemen induk perusahaannya. Bukan hanya terlihat dari raihan kenaikan laba dari sebelumnya merugi, melainkan juga penyelesaian restruktursisasi utang senilai Rp41 trilliun, dan peluncuran brand ritel premium Nusakita.

Toh sisi cemerlang perbaikan kinerja memang harus menyebut kenaikan laba bersih PTPN III per semester I 2021 yang mencapai 227,81 persen senilai Rp1,45 trilliun atau naik dua kali lipat lebih dari periode yang sama tahun lalu yang merugi Rp1,1 trilliun. Sisi pendapatan, juga meningkat mencapai Rp21,26 triliun atau tumbuh 36,37 persen di atas pencapaian periode yang sama tahun lalu.

Mohammad Abdul Ghani, Direktur Utama Holding Perkebunan Nusantara PTPN III (Persero) menyatakan bahwa cemerlangnya kinerja keuangan mendapat dukungan dari beberapa segi. Antara lain restrukturisasi, peningkatan produksi dan produktivitas, serta peningkatan nilai tambah produk melalui hilirisasi.

Menurut dia, di tengah pandemi Covid-19, perusahaan memperlihatkan tren kinerja positif melalui pelaksanaan operational excellence, back to basic, serta penekanan pada culture planters (kebun budidaya). Yang mencolok, peningkatan produksi CPO hingga 19 persen di atas tahun lalu dan penurunan beban biaya produksi sebesar 14 persen dari tahun lalu.

“Revenue kami per Juni 2021, sudah mencapai 120,34 persen dari RKAP tahun 2021. Kenaikan revenue itu juga berpengaruh pada kenaikan margin pendapatan sebelum pajak, bunga, depresiasi dan amortisasi (EBITDA) sebesar 245,34 persen dibandingkan tahun 2020 atau senilai Rp5,46 triliun,” ujarnya, Kamis, 28 Agustus 2021.

Menurut dia, pencapaian tersebut merupakan implementasi dari program EBITDA Transformation, dimana pada tahun pertama PTPN Group membangun fondasi transformasi melalui revenue enhancement, pperations control tower, procurement excellence, logistics optimization, zero based budgeting (ZBB), dan organizational excellence.

Ghani menambahkan, perbaikan kinerja tersebut tidak lepas dari upaya transformasi bisnis yang dijalankan perusahaan. “Sejak akhir 2019 manajemen terus melakukan transformasi bisnis beserta anak perusahaan melalui strategi perusahaan yang tersusun dalam roadmap transformasi perusahaan,” paparnya.

Menurutnya, ada lima strategi yang ditempuh dalam melakukan transformasi, yakni Optimalisasi Portfolio & Operational Excellence, Commercial Excellence & Ekspansi Hilir, Optimalisasi Aset & Kemitraan Strategis, Pengembangan Kapabilitas, serta Budaya & Peningkatan System Teknologi. Hal itu tercermin dalam sejumlah bidang pencapaian, seperti revenue, kinerja, produk unggulan, dan pengembangan sumber daya manusia.

“Program-program itu diterapkan untuk mengoptimalkan kinerja dan efektivitas perusahaan menghadapi tantangan di berbagai aspek termasuk pengelolaan portofolio, operasional, komersial, investasi dan pendanaan, model operasi, merit system, budaya dan kapabilitas.” ungkapya.

PT Perkebunan Nusantara III (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang usaha agro bisnis, terutama komoditas kelapa sawit dan karet. Perseroan didirikan pada 11 Maret 1996 berdasarkan hukum pendirian merujuk pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 8 tahun 1996 tanggal 14 Februari 1996. Pemerintah kemudian mengubah pengelolaan bisnis BUMN Perkebunan dengan menunjuk Perseroan sebagai induk dari seluruh BUMN Perkebunan di Indonesia berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2014 tanggal 17 September 2014.

Sebagai perusahaan induk (holding company) BUMN di sektor perkebunan, Perseroan saat ini menjadi pemegang saham mayoritas 13 perusahaan perkebunan yakni PTPN I sampai dengan PTPN XIV, perusahaan di bidang pemasaran produk perkebunan yaitu PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (PT KPBN), perusahaan di bidang riset dan pengembangan komoditas perkebunan yaitu PT Riset Perkebunan Nusantara (PT RPN) dan perusahaan di bidang pengembangan Human Capital yaitu PT LPP Agro Nusantara.

Saat ini Perseroan secara konsolidasian merupakan salah satu perusahaan perkebunan terbesar di dunia berdasarkan total lahan konsesi perkebunan. Produk komoditas Perseroan mencakup komoditas anak perusahaan cukup terdiversifikasi antara lain kelapa sawit, karet, tebu, teh, kopi, tembakau dan kakao, serta produk hilirnya masing-masing.

Berdasarkan data per 30 Juni 2020, areal tanaman PTPN III (Persero) dan Anak Perusahaan didominasi oleh tanaman kelapa sawit seluas 552.888 ha, tanaman karet seluas 154.737 ha, teh 30.279 ha serta areal tebu sendiri seluas 53.946 ha. Perseroan saat ini tengah melakukan upaya-upaya transformasi bisnis baik di sektor budidaya tanaman perkebunan (on farm), pengolahan tanaman perkebunan (off farm) serta unit-unit pendukungnya guna meningkatkan kinerja maupun produktivitas dan efisiensi bisnis.

Nah, peningkatan kinerja PTPN Group juga didukung oleh penerapan Integrated Procurement System (IPS), merupakan proses pengadaan barang dan jasa secara terintegrasi dengan bantuan aplikasi dan teknologi berbasis internet. IPS memberikan manfaat antara lain mengurangi biaya perusahaan sehingga diperoleh nilai efisiensi sebesar Rp599,18 milyar atau 9,32 persen dari RKAP sampai dengan Semester I 2021.

Ghani menambahkan salah satu bagian penting dari rencana transformasi perusahaan adalah di bidang keuangan. Tujuan utama transformasi keuangan menurut dia, untuk memastikan keberlanjutan PTPN Group ke depannya.

“Dalam hal transformasi keuangan, kami telah berhasil melakukan restrukturisasi hutang PTPN Group senilai Rp41 Triliun, dengan dilakukannya penandatanganan amandemen perjanjian pinjaman dari 39 kreditur pada 19 April 2021. Ini merupakan bentuk kepercayaan kreditur dalam mendukung upaya transformasi PTPN Group sekaligus menandai terpenuhinya persyaratan pencairan dana investasi pemerintah dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN),” ujarnya.*


Komentar Pembaca