Menikah Dapat Lima Hikmah

Kajian  SENIN, 22 NOVEMBER 2021 | 20:10 WIB

Menikah Dapat Lima Hikmah

Allah SWT dan Rasul-Nya telah menurunkan aturan dan anjuran tentang pernikahan. Tak hanya perintah, Al Quran dan hadist memberi penjelasan tentang hikmah yang diperoleh oleh orang-orang yang menikah.

Al Quran menjelaskan manfaat menikah:

وَأَنكِحُوا الْأَيَامَى مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاء يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (Qs. An-Nur [24]: 32).

Lewat lisan Nabi Muhammad Rasulullah SAW anjuran menikah:
 “Nikah itu sunnahku, siapa yang tidak suka sunnahku dia bukan dari golonganku.” (HR. Abu Ya`la)

Dari Imam Ahmad bin Hanbal, kita peroleh kisah yang membawa semangat untuk menikah. Dua hari lepas kemangkatan sang istri, beliau melangsungkan pernikahan yang berikutnya. Oleh orang-orang di sekitarnya beliau ditanya tentang hal tersebut. Dengan tenang beliau memberikan jawaban sederhana, “Aku tidak ingin dikatakan duda tanpa istri karena hal itu berarti telah meninggalkan sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassallam.”

Dilansir dari hidayatullah.com, Senin (22/11/2021), setidaknya ada lima hikmah di balik perintah menikah dalam Islam:

PERTAMA: Wadah Birahi yang Halal
Pernikahan adalah sarana mewadahi aspirasi nulari normal seorang anak keturunan Adam. Hubungan biologis antara laki dan perempuan dalam ikatan suci pernikahan terhitung sebagai sedekah.

Diungkap oleh Rasul dalam haditsnya, “Dan persetubuhan salah seorang di antara kamu (dengan istrinya) adalah sedekah.” “Wahai Rasulullah, apakah (jika) salah seorang di antara kami memenuhi syahwatnya, ia mendapat pahala?” Rasulullah menjawab, “Tahukah engkau jika seseorang memenuhi syahwatnya pada yang haram, dia berdosa, demikian pula jika ia memenuhi syahwatnya itu pada yang halal, ia mendapat pahala.” (HR. Muslim)

KEDUA: Meneguhkan Moralitas yang Luhur
Dengan menikah sepasang anak manusia yang berlawanan jenis senantiasa menjaga harkat dan martabat mereka sebagai hamba Allah. Akhlak dalam Islam sangatlah penting.  Lenyapnya akhlak dari diri seseorang merupakan lonceng kebinasaan, bukan saja bagi dirinya bahkan bagi suatu bangsa.

Pernikahan mencegah terjadinya hubungan intim di luar nikah, yang lalu melahirkan bayi-bayi yang tidak berdosa tanpa diinginkan oleh mereka yang melahirkan.

Dalam satu hadits, Nabi menganjurkan para pemuda untuk menikah:
“Wahai para pemuda, barangsiapa sudah memiliki kemampuan untuk menafkahi, maka hendaknya ia menikah, karena menikah dapat meredam keliaran pandangan, pemelihara kemaluan. Barangsiapa yang belum mampu, hendaknya ia berpuasa, sebab puasa adalah sebaik-baik benteng diri.” (HR. Bukhari-Muslim)

KETIGA: Membangun Rumah Tangga Islami
Takkan ada rumah tangga “sakinah, mawaddah, wa rahmah” tanpa melalui proses pernikahan. Tidak ada kisah menawan dari insan-insan terdahulu mapun sekarang, hingga mereka sukses mendidik putra-putri dan keturunan bila tanpa menikah yang diteruskan dengan membangun biduk rumah tangga Islami.

Layaknya perahu, rumah tangga kadang terombang-ambing oleh ombak di lautan. Ada aral melintang. Ada kesulitan yang datang menghadang. Semuanya adalah tantangan dan riak-riak yang berbanding lurus dengan keteguhan sikap dan komitmen membangun rumah tangga ala Rasul dan sahabatnya. Sabar dan syukur adalah kunci meraih hikmah ketiga ini.

Diriwayatkan, Sayidina Umar bin Khatab Ra pernah memperoleh cobaan dalam membangun rumah tangga. Sementara itu suatu hari ada seorang laki-laki berjalan tergesa-gesa menuju kediaman Khalifah Umar bin Khatab Ra. Ia ingin mengadu pada Khalifah, karena tak tahan dengan kecerewetan istrinya.

Begitu sampai di depan rumah Khalifah, laki-laki itu tertegun. Dari dalam rumah terdengar istri Khalifah Umar bin Khatab sedang ngomel, marah-marah. Cerewetnya melebihi istri yang hendak diadukannya pada Khalifah Umar. Tapi, tak sepatah kata pun terdengar keluar dari mulut sang Khalifah agung ini.

Ya. Khalifah Umar bin Khatab diam saja, mendengarkan istrinya yang sedang marah itu. Akhirnya lelaki ini mengurungkan niatnya untuk melaporkan sang istri kepada Khalifah Umar.

Saat ia hendak pergi, Khalifah Umar melihatnya lalu meminta pria itu untuk kembali. Lalu pria itu bertanya, apa yang membuat  Khalifah Umar bin Khatab yang disegani kawan maupun lawan itu  berdiam diri saat istrinya ngomel?

Khalifah Umar bin Khatab berkata, “Wahai saudaraku, istriku adalah yang memasak masakan untukku, mencuci pakaian-pakaianku, menunaikan hajat-hajatku, menyusui anak-anakku. Jika beberapa kali ia berbuat tidak baik kepada kita, janganlah kita hanya mengingat keburukannya dan melupakan kebaikannya.”

Oleh karena itu, pasangan yang ingin membangun rumah tangga Islami mesti menyertakan prinsip kesalehan dalam hari-hari mereka.

KEEMPAT: Memotivasi Semangat Beribadah

Risalah Islam tegas memberikan keterangan pada umat manusia, bahwa tidaklah mereka diciptakan oleh Allah kecuali untuk bersembah sujud, beribadah kepada-Nya. Dengan menikah, diharapkan pasangan saling mengingatkan kesalahan dan kealpaan masing-masing. Dengan menikah satu sama lain memberi nasihat untuk menunaikan hak Allah dan Rasul-Nya, shalat, mengajarkan Al Quran, dan sebagainya.

KELIMA: Melahirkan Gnerasi yang Baik

Hikmah menikah adalah melahirkan anak-anak yang shalih, berkualitas dalam iman dan takwa, cerdas secara spiritual, emosianal, maupun intelektual. Sehingga dengan menikah, orangtua bertanggung jawab dalam mendidik anak-anaknya sebagai generasi yang bertakwa dan beriman kepada Allah. Tanpa pendidikan yang baik tentulah tak akan mampu melahirkan generasi yang baik.

Saat muda-mudi berpikir keras mencari jodoh yang baik, bermusyawarah dengan Allah SWT dan keluarga. Cari dan temukan pasangan yang beriman, berperangai mulia. Lalu menikahlah dan nikmati hikmah-hikmahnya. [ros]


Komentar Pembaca