Berdampak Positif, Digitalisasi di Bisnis Industri Farmasi Perlu Terus Didorong

BERITA  KAMIS, 18 NOVEMBER 2021 | 06:47 WIB

Berdampak Positif, Digitalisasi di Bisnis Industri Farmasi Perlu Terus Didorong

Foto ilustrasi/ist

 Dunia digitalisasi mengalami kemajuan di berbagai sektor selama satu dekade ke belakang. Tidak hanya di bidang transportasi, komunikasi, dan pertahanan negara, sektor farmasi pun menjadi salah satu bidang yang mengakar kuat perkembangan digitalisasinya, terutama dengan adanya pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia sejak awal 2020 lalu.

"Perubahan di bidang kesehatan dan farmasi ini paling terasa sejak melandanya Covid-19 di seluruh dunia termasuk Indonesia. Layanan digital menjadi penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan berbagai pihak, khususnya selama mejalani isolasi mandiri," kata Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Dr. Hermawan Saputra, dalam seminar Webinar bertajuk “Peran Digitalisasi Dalam Pengembangan Inovasi dan Bisnis di Industri Farmasi” yang digelar PT Kalbe Farma Tbk. melalui anak usahanya KlikDokter, Rabu (17/6/2021). 

Mencemati perkembangan tersebut, ia pun meminta pelaku pelaku bisnis di industri farmasi untuk memaksimalkan penggunaan telemedicine ini. Menurut mereka, pelaku usaha harus mampu membawa transformasi digital yang dapat dirasakan oleh masyarakat secara seamless. 

“Dengan banyaknya masyarakat yang isolasi mandiri kala pandemi melanda, peran telemedicine menjadi andalan untuk mencari informasi, konsultasi dengan dokter, dan membeli obat-obatan yang dibutuhkan,” ungkap Hermawan. 

Tujuan dari digitalisasi bidang kesehatan dan farmasi, lanjutnya, adalah menjaga aksesibel layanan dan biaya yang terjangkau oleh berbagai kalangan. Beberapa upaya dalam komoditi, sumber daya, pelayanan kefarmasian, pengawasan, dan pemberdayaan masyarakat telah dilakukan agar terciptanya kemandirian dalam manajemen dan informasi kesehatan.
 
"Sejauh ini, system rujukan fasilitas kesehatan sudah mengarah ke TIK based yang terpadu," tambahnya. 

Pelayanan kesehatan berbasis telemedicine, paparnya, sudah mencangkup konsultasi komunikasi, informasi dan edukasi (KIE); konsultasi Klinis (Anamnesa, Pemeriksaan fisik tertentu) yang dilakukan melalui audiovisual; pemberian anjuran/nasihat yang dibutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan penunjang dan/atau hasil pemeriksaan fisik tertentu; penegakan diagnosis; penatalaksanaan dan pengobatan pasien; penulisan resep obat dan/atau alat kesehatan, diberikan kepada pasien sesuai dengan diagnosis; dan penerbitan surat rujukan untuk pemeriksaan atau tindakan lebih lanjut ke laboratorium dan/atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya sesuai hasil penatalaksanaan pasien. 

Menyambung penjelasan Dr. Hermawan Saputra, CEO KlikDokter Hendra Heryanto Tjong menjelaskan market di Indonesia merupakan market terbesar di ASEAN. Per tahun 2020, populasi di Indonesia mencakup 25% Generasi Y dan 28% Generasi Z yang mengerti teknologi dan natusias terhadap kesehatan membentuk market size senilai Rp 60 Triliun.

Hendra mengatakan juga perkembangan farmasi digital ditandai dengan tiga hal, yakni perubahan ke digital dimana platform jual-beli online telah banyak digunakan untuk membeli produk farmasi, perubahan perilaku konsumen yang membeli berbagai produk melalui omnichannel, dan komunikasi marketing kini langsung dilakukan oleh brand sendiri.
 
“KlikDokter sebagai penyedia aplikasi yang memungkinkan konsumen untuk membeli produk langsung dari kami melalui partner farmasi yang terpercaya dan sudah sesuai dengan ketentuan SIA/SIPA untuk menjamin kualitas produk.” tutur Heryanto.
 
“Melalui KlikDokter yang bekerja sama dengan lebih dari 1000 farmasi di seluruh Indonesia, Kalbe telah bergerak menuju transformasi online” tutupnya.[fah] 


Komentar Pembaca