Peringati Hari Pahlawan

PKS Menyayangkan Pembelahan dan Polarisasi Masih Terjadi

Nasional  RABU, 10 NOVEMBER 2021 | 15:20 WIB | Aldi Rinaldi

PKS Menyayangkan Pembelahan dan Polarisasi Masih Terjadi

Foto : Aldi Rinaldi / MoeslimChoice.com

Dalam rangka memperingati Hari Pahlwan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menggelar acara Dialog Kebangsaan yang bertema "Bela Negara Tanggung Jawab Bersama" yang dipaparkan oleh Ketua Majelis Syuro PKS Dr Salim Segaf Al Jufri bersama Mantan Menteri Pertahanan periode 2014-2019 yakni, Jenderal (Purn) Dr. Ryamizard Ryacudu, di aula DPP PKS Jakarta, Tanjung Barat, Jakarta Selatan, Kamis (10/11).

Dalam dialog tersebut, Ketua Majelis Syura PKS Dr. Salim Segaf Al Jufri mengungkapkan rasa keprihatinannya dan menyayangkan atas terjadinya pembelahan dan polariasi yang masih terjadi ditengah-tengah masyarakat.

"Satu hal yang saya cukup pihatin dalam beberapa tahun ini ada satu stigma yang berkembang di masyarakat, terus terang saya prihatin terjadi pembelahan di masyarakat, satu kelompok merasakan paling pancasilais, saya paling cinta NKRI," ujar Dr. Salim dalam dialog tersebut.

"Dan bukan hanya itu mengatakan kelompok lain tidak pancasilais dan tidak NKRI, saya berharap ada dialog yang memanggil mereka, menyadarkan satu sama lain, kalau ini dibiarkan terjadi pembelahan di masyarakat," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, Dr Salim juga menjelaskan semangat kebersamaan dan gotong royong dalam mewujudkan bela negara dan tidak saling memecah belah satu sama lain.

"Salah satu yang kita perlukan dengan bela negara adalah, bangkitkan semangat kebersamaan, gotong royong, munculkan etika berpolitik yang bagus, bukan justru memecah belah satu sama lain," imbuhnya.

Menurutnya, apapun sukunya apapun agamanya cintailah negeri ini. "Kalau kita semua mencintai negeri ini, ia pun yakin tidak lama lagi negeri kita akan mewujudkan cita-cita pendiri bangsa," tandas Dr. Salim

Sementara itu dikesempatan yang sama, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu mengatakan, Bela negara sebagai pondasi kekuatan bangsa yang menjamin tegaknya negara kesatuan Republik Indonesia, dan dalam menghadapi ancaman dari dalam juga luar negeri.

Kemudian, ia menuturkan, bela negara menjadi bagian dari karakter jati diri bangsa untuk membangun daya tangkal menghadapi berbagai ancaman yang mengancam bangsa.

"Bela negara merupakan tekad sikap merupakan perilaku bela negara yang menjadi bagian dari karakter jati diri bangsa, kesadaran bela negara penting menjadi landasan sikap dan perilaku bangsa Indonesia untuk membangun daya tangkal bangsa untuk menghadapi ancaman," tutur Ryamizard.

Eks Menteri Pertahanan itu pun menjelaskan, ancaman yang dihadapi bangsa Indonesia selain ancaman fisik juga ancaman non fisik, dan menurutnya, ideologi komunisme masih terus diwaspadai kebangkitannya.

"Disamping ancaman fisik kita juga mengadapi ancaman non fisik, khususnya kepada ideologi Pancasila yang mengancam keutuhan nasional, ancaman berupa serangan ideologis, diantaranya liberal, komunis, soailis dan radikal agama," tandanya.

Mantan kepala Staf Angkatan Darat itu juga mangatakan, saat ini memang organisasj PKI sudah dibubarkan, tetapi ancaman itu harus diwaspadai.

"Paling tidak mewapsadai balas dendam, saya ketika jadi Menhan terus mewaspadai itu, ancaman ideologis ini yang saya sebut sebagai perang modern,” pungkas Ryamizard. [irm]


Komentar Pembaca