Hisap Darah Orang Indonesia, Beberapa Pinjol Dimodali Asing

POLKAM  SENIN, 25 OKTOBER 2021 | 23:10 WIB

Hisap Darah Orang Indonesia, Beberapa Pinjol Dimodali Asing

Carut marut bisnis pinjaman online (pinjol) kian terungkap. Selain ratusan yang berbentuk koperasi fiktif, tak sedikit yang dimodali pemodal dari luar negeri. Fakta baru ini terungkap setelah Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menangkap tiga "pemilik" koperasi simpan pinjam (KSP) fiktif yang menaungi pinjol ilegal.

Ketiga pelaku yang ditangkap adalah JS (Julie Sindy), DN (Danu Aditya) dan SR (Samsul Rizal). Selain itu, polisi menyita barang bukti uang Rp21 miliar yang diduga hasil kejahatan pinjol ilegal.

“Kami juga menyita uang diduga hasil kejahatan. Total, ada Rp 21 miliar kurang lebih yang disita dari rekening atas nama koperasi simpan pinjam Solusi Andalan Bersama," kata Dirtipideksus Bareskrim Polri Brigjen Helmy Santika kepada wartawan di Jakarta, Senin (25/10/2021).

Helmy mengatakan pengungkapan ini merupakan pengembangan kasus pinjol ilegal di sejumlah titik beberapa waktu lalu. Menurutnya, berdasar penyelidikan kepolisian, ditemukan beberapa aplikasi pinjol ilegal yang berbadan hukum, berbentuk koperasi simpan pinjam.

"Dari pendalaman ini kami dapati 34 pinjol ilegal atau berbentuk koperasi simpan pinjam yang juga diduga fiktif," kata Helmy

Jenderal bintang satu ini menuturkan penyidik juga mendalami peristiwa seorang perempuan berinisial WI (38) yang bunuh diri di kediamannya Kecamatan Giriwoyo, Kabupaten Wonogori, Jawa Tengah, beberapa waktu lalu.

Belakangan diketahui WI ternyata memiliki utang dan tidak kuat menghadapi teror dari para penagih pinjol.

“Ternyata betul bahwa setidaknya ada 23 pinjol yang terkait dengan korban yang di Wonogiri. Dari korbannya di Wonogiri tadi, akhirnya kami bisa melakukan pendalaman dan penangkapan terhadap tiga pelaku ini,” beber Helmy.

Lebih lanjut Helmy menjelaskan ketiga tersangka memiliki peran berbeda dalam menjalankan bisnis pembuatan KSP-pinjol ilegal itu.

Helmy memerinci tersangka JS berperan mencari, merekrut, memfasilitasi warga negara asing yang diduga pembeli atau pemodal KSP pinjol ilegal bisa masuk ke Indonesia. JS juga mengurus dokumen yang diperlukan untuk proses administrasi pendaftaran perusahaan, sampai pembukaan payment gateway.

“Lalu, untuk dua tersangka yang lainnya digunakan sebagai direktur maupun pembantu-pembantu lainnya," jelasnya.

Selain membuat KSP Solusi Andalan Bersama, kata Helmy, tersangka JS juga membuat sekitar 95 KSP lain yang diduga fiktif.

“Kami akan koordinasi dengan kementerian terkait untuk proses perizinannya, namun informasinya ini adalah fiktif,” papad Helmy.

Dia menambahkan dalam kasus ini pihaknya menyita sejumlah barang bukti, yakni berupa dokumen akta pendirian KSP, dokumen perjanjian kerja sama dengan payment gateway.

Diamankan pula beberapa telepon seluler, kartu ATM, buku tabungan, dan kartu NPWP yang diduga digunakan untuk melengkapi persyaratan untuk bisa mendapatkan payment gateway. [ros]


Komentar Pembaca