Beginilah Sosok Rasulullah SAW, Tapi Jangan Dilukis ya..

Kajian  SELASA, 19 OKTOBER 2021 | 22:40 WIB

Beginilah Sosok Rasulullah SAW, Tapi Jangan Dilukis ya..

Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Prof Dr AG Muhammad Quraish Shihab Lc berkisah tentang sosok Rasulullah SAW. Namun cindekiawan Muslim ini berpesan agar umat Islam tidak serta-merta melukiskan ataupun menggambarkan sosok Baginda Nabi Muhammad SAW.

Diingatkannya itu, untuk menghindari penyalahgunaan yang dapat menyebabkan kesalahan. Dikatakan oleh Prof Quraish bahwa penjelasan yang disampaikannya berdasarkan beberapa riwayat yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dilansir  website nu.or.id, Selasa (19/10/2021), Mufasir Kebanggaan Indonesia ini mengungkapkan, Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang lengkap sebagai manusia dan rasul Allah SWT.

“Ciri-ciri Baginda, tinggi badan tidak pendek tidak tinggi, tidak gemuk tidak kurus, mempunyai rambut yang berwarna hitam dengan sedikit bergelombang, rambut tersebut terurus rapi sampai di ujung telinga,” ungkap Prof Quraish dalam tayangan YouTube Najwa Shihab bertajuk Mengenali Sosok dan Pribadi Nabi Muhammad hari ini.

Beliau Baginda Nabi SAW, lanjut dia, mempunyai dahi yang lebar dengan alis tebal yang sangat hitam. Di antara kedua alisnya nampak urat yang akan terlihat jelas ketika sedang tidak berkenan terhadap sesuatu.

Pendiri Pusat Studi Al-Quran (PSQ) itu pun juga menambahkan ciri fisik nabi lainnya yakni memiliki bola mata yang sangat hitam, dan bagian putihnya sangat putih. Bahkan bulu matanya juga sangat hitam seperti memakai celak.

“Nabi Muhammad SAW berhidung mancung tapi tidak panjang. Berjenggot lebat tapi jenggotnya sangat rapih teratur dan berkumis. Baginda juga memiliki gigi yang jarang. Dan ada pula giginya yang patah akibat terkena tombak pada saat perang,” kata penulis Tafsir Al Misbah ini.

 Sementara ciri lainnya, lanjut Prof Quraish, adalah tubuhnya berotot dan selalu tampil segar. Bahkan melihat caranya berjalan dilukiskan seperti jalan di dataran rendah. Kalau berbicara sering kali mengulang pembicarannnya tiga kali.

“Kalau bicara, beliau selalu berusaha untuk menggunakan dialek mitra bicaranya. Kalau berbicara sering kali memukul telapak tangan kiri beliau dengan jari telunjuknya,” terang penulis buku Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW, dalam sorotan Al-Quran dan Hadits Shahih itu.

“Selayaknya manusia biasa, Baginda Nabi juga dapat tertawa dan tersenyum. Namun saat tertawa beliau tidak terbahak-bahak meskipun hal yang disampaikan sangat lucu,” imbuh Profesor berdarah campuran Arab-Bugis ini.

Rasulullah sendiri lahir di Kota Makkah saat Tahun Gajah, dari pasangan Abdullah bin Abdul Muthalib dan Aminah binti Wahab. Namun, sang ayah meninggal dunia sebelum Nabi Muhammad lahir dan ibunya wafat saat Nabi berusia 6 tahun.

 Nabi Muhammad SAW lahir pada 12 Rabiul Awal dari Suku Quraisy yang merupakan kelompok masyarakat terkemuka di Arab. Kelahiran Nabi diperingati kali pertama pada 1207. Kemudian perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW ini menjadi sejarah yang panjang dalam khazanah Islam.

Hari kelahiran Nabi Muhammad SAW menjadi hari perayaan besar yang diselenggarakan di banyak wilayah di seluruh dunia. Di Indonesia perayaannya dilakukan dengan berbagai cara seperti membaca Manakib Nabi Muhammad SAW, Maulid Barzanji, Maulid Simtud Dhurar, Diba Saroful Anam, Burdah, dan lain-lain.

Dalam sejarah Islam perayaan Maulid Nabi SAW sudah berlangsung sejak ribuan tahun lalu. Ada tiga teori asal usul perayaan tersebut. Perayaan Maulid diadakan oleh kalangan Dinasti Ubaid (Fathimi) di Mesir yang berhaluan Syiah Ismaliiyah (Rafidhah). Mereka berkuasa di Mesir pada tahun 362-567 hijriyah. Perayaan dilakukan sebagai salah satu perayaan saja.

Sementara itu, di Indonesia sendiri sejarah Maulid Nabi Muhammad berkembang di tangan Wali Songo atau sekitar tahun 1404 masehi. Perayaan tersebut dilakukan demi menarik hati masyarakat memeluk Agama Islam.[ros]


Komentar Pembaca