Woow! Per Juli 2021 Aset Perbankan Syariah Sentuh Rp 631.58 Triliun

Ekonomi Syariah  JUMAT, 15 OKTOBER 2021 | 21:10 WIB

Woow! Per Juli 2021 Aset Perbankan Syariah Sentuh Rp 631.58 Triliun

Ilustrasi

Perbankan syariah sukses mencatatkan kinerja positif ditengah pandemi Covid-19.  Hal ini terlihat peningkatan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan pembiayaan yang disalurkan kepada masyarakat.

Direktur Pengaturan dan Perizinan Perbankan Syariah OJK, Nyimas Rohmah menyebutkan, pangsa pasar keuangan syariah hampir mencapai Rp 2.000 triliun pada Juli 2021. Nilai itu di luar saham syariah. 

"Angka itu market share sebesar 10,11% dari total industri keuangan nasional. Sementara itu jika dilihat dari sisi industri perbankan sendiri maka angka market share-nya baru mencapai 6,59%," kata Nyimas, dalam Virtual Seminar Perbankan Syariah yang digelar LPPI, Kamis (14/10).

Dari total aset perbankan nasional, Rp 631.58 triliun merupakan aset perbankan Syariah. DPK yang berhasil dihimpun perbankan syariah mencapai Rp 504 triliun dan disalurkan dalam bentuk pembiayaan sebesar Rp 405 triliun. 

“Perkembangan aset dan DPK dan pembiayaan perbankan syariah meningkat tiap tahun dan tumbuh positif di tengah pandemi,” ungkap Nyimas.

Secara komposisi angka itu masih didominasi oleh 12 bank umum syariah sebesar 65,73%. Sementara itu, jumlah rekening bank syariah meningkat, tercermin dari rekening DPK per Juli 2021 mencapai 40 juta rekening, dan rekening pembiayaan mencapai 6 juta rekening.

Kendati demikian, perkembangan bank syariah menghadapi berbagai tantangan. Antara lain perubahan ekosistem keuangan yang cepat karena perubahan teknologi diikuti perubahan ekspektasi masyarakat yang menginginkan produk dan layanan yang lebih mudah diakses serta sesuai kebutuhan. 

“Tantangannya dari skala usaha, daya saing, kapasitas modal, risiko digital, cyber security, dan sistem failure risk,” tegasnya.

Untuk itu, OJK menerbitkan Roadmap Pengembangan Perbankan Syariah Indonesia (RPS2SI) 2020- 2025 (RP2SI) sebagai langkah strategis untuk selaraskan arah pengembangan perbankan syariah Indonesia serta menjadi katalisator akselerasi pengembangan Syariah.

“Pada 2018, kami sudah lakukan kajian transformasi perbankan syariah dan berdasarkan hasil survei, FGD dan wawancara mendalam dengan orang ahli di perbankan syariah, " ungkapnya. 

Dari kajian tersebut, perbankan syariah masih punya kelemahan seperti model bisnis, indeks literasi dan inklusi, kuantitas dan kualitas SDM dan teknologi yang belum memadai. Sehingga diperlukan transformasi agar jadi perbankan syariah yang berdaya saing tinggi.

Dengan roadmap tersebut, OJK berharap perbankan syariah akan unggul dan memberi dampak secara sosial dan ekonomi.  RP2SI juga membawa visi mewujudkan perbankan syariah yang resilien, berdaya saing tinggi dan kontribusi signifikan tidak hanya ekonomi nasional tetapi juga pembangunan sosial. 

Untuk mencapai visi tersebut, OJK dalam roadmap meletakkan tiga pilar arah pengembangan dengan beberapa inisiatif strategis di dalamnya. Terdiri dari penguatan identitas perbankan syariah, sinergi ekosistem ekonomi syariah, penguatan perizinan, pengaturan dan pengawasan. [Irm]


Komentar Pembaca