Kembali, Dirut Pertamina Dinobatkan Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Ekonomi  SELASA, 12 OKTOBER 2021 | 16:00 WIB

Kembali, Dirut Pertamina Dinobatkan Wanita Paling Berpengaruh di Dunia

Kerja keras dan cerdas serta sukses Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati mendapat apresiasi dari banyak pihak baik nasional, regional maupun internasional. Yang terbaru adalah pengakuan internasional dari Majalah Fortune International.

Oleh Majalah Fortune International, Nicke dinobatkan dalam The Most Powerful International (Daftar 100 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia). Sangat membanggakan, Nicke menempati posisi Ke-17.

Dalam Daftar 100 Perempuan Paling Berpengaruh di Dunia versi Majalah Fortune International itu, Nicke dikelompokkan bersama para CEO global termasuk:

Emma Walmsley, CEO GlaxoSmithKline (1)
Jessica Tan, CEO Ping An Group (2)
Ana Botin, CEO Banco Santander (3)
Shemara R Wikramanayake CEO Macquarie Group Ltd (4).

Di bawah Nicke antara lain:
Hanneke Faber, President Global Foods & Refreshment Unilever (23)
Hilde Merete Aasheim, CEO Norsk Hydro (24),
 Alexandra Keith, CEO P&G(37)
Helen Wong, CEO OCBC NISP (41).

Majalah Fortune Internasional mengakui bahwa prestasi Nicke Widyawati sebagai pimpinan tertinggi perusahaan energi di Indonesia,  telah terbukti dengan kemampuannya melewati tantangan triple shock yakni jatuhnya harga minyak, penurunan permintaan bahan bakar dan tekanan nilai tukar yang dialami Pertamina selama pandemi tahun 2020.

 Fortune menilai, ketiga faktor tersebut telah menurunkan pendapatan dan laba Pertamina, namun pada paruh pertama 2021, di bawah kepemimpinan Nicke, Pertamina menunjukkan kondisi lebih baik dengan mencapai target produksi Migas.

Majalah prestisius di tingkat global ini juga mengakui, Nicke terus mendukung transisi energi Indonesia dengan membangun portofolio Energi Baru Terbarukan (EBT) untuk memberikan energi  bersih bagi negara di masa depan.

“Pengakuan ini merupakan bukti nyata besarnya kepercayaan internasional terhadap Pertamina yang terus bergerak  mengantisipasi transisi energi,”ujar Nicke.

Menurut Nicke, selama kepemimpinannya di Pertamina, ia telah mencanangkan dan fokus menjalankan transisi energi dan langkah dekarbonisasi  pada operasional  perusahaan dari hulu hingga hilir.

Hal ini sejalan dengan penilaian atas implementasi  aspek Environment, Social & Governance (ESG) Pertamina yang mengalami peningkatan signifikan dari skor  41,6 atau termasuk kategori Several Risk (Februari 2021) menjadi  28,1 (Medium Risk) pada September 2021.

Perbaikan score tersebut telah menempatkan Pertamina di peringkat 15 perusahaan di industri dan peringkat 8 Sub-Industri Migas dunia.

Nicke menuturkan, posisi Pertamina sebagai perusahaan yang termasuk kategori Medium dalam implementasi ESG juga disandang oleh perusahaan global Repsol, ENI, PTT Public Co, dan TotalEnergies.

"Posisi tersebut berada  di atas, Royal DucthShell, BP, Exxon Mobil yang masih terkategori High Risk dan Chevron, Petrobras dan Petronas yang dinilai masuk kategori Severe Risk," katanya.

Peringkat tersebut meningkat dengan adanya langkah-langkah terencana Pertamina dalam aksi penyelamatan iklim dan transisi energi menuju net zero, yakni dekarbonisasi operasional, bentuk portofolio untuk investasi  pertumbuhan hijau, serta percepatan inovasi dan pertumbuhan hijau.

“Bersama seluruh manajemen dan pekerja Pertamina, saya akan memastikan seluruh inisiatif strategis untuk mewujudkan greentransition terus berlanjut dan mampu mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca antara 29 – 41 persen pada tahun 2030,” pungkasnya.[ros]


Komentar Pembaca