Menengok Asysyabab, Pesantren Tahfizh yang Juga Ajarkan Multimedia

Pendidikan  MINGGU, 10 OKTOBER 2021 | 16:25 WIB

Menengok Asysyabab, Pesantren Tahfizh yang Juga Ajarkan Multimedia

Santri Pesantren Asysyabab sedang belajar multimedia/ist

Tidak bisa kita pungkiri, pesantren telah menjadi salah satu pusat peradaban terbesar Islam di Indonesia. Kuat dengan pendidikan karakter, membuat pesantren semakin eksis di kalangan masyarakat khususnya umat Islam. 

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, perkembangan pesantren sangat pesat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan Balitbang Diklat Kemenag, ditemukan dari 14.656 pada tahun 2003-2004 jumlah pesantren menjadi 28.961 pada tahun 2014-2015, dan terus bertambah hingga saat ini.

Pesantren-pesantren baru bermunculan bak jamur di musim penghujan. Berbagai inovasi dan kreasi dilakukan para pendiri pesantren dengan cara mereka masing-masing. Ada yang berbasis tahfizh qur’an, berbasis kitab klasik, hingga jualan kemampuan berbahasa asing.

Salah satu pesantren yang baru saja berdiri dan tahun ini mulai melanjalankan proses belajar mengajar adalah Pesantren Tahfizh Multimedia Asysyabab. Dari namanya, pesantren ini sedikit berbeda dengan pesantren kebanyakan. Selain tahifzh juga menampilkan multimedia. Ada beberapa fakta unik dan menarik mengenai pesantren ini.

Pertama, didirikanoleh dua anak muda yang berbeda latar belakang pendidikan dan profesi. Perbedaan keduanya justru saling menguatkan. Mereka adalah Ustadz Kasif Heer (35 tahun), dai muda nasional yang sudah lama berkecimpung di dunia dakwah dan bisnis, dan Mohammad Muchsin (40 tahun) seorang advokat yang pernah 15 tahun jadi jurnalis televisi nasional. 


Pertemanan keduanya melahirkan ide dan kekuatan besar dalam melahirkan PesantrenTahifzh Multimedia Asssyabab.
 
“Kami berdua saling menguatkan dan melengkapi, sesuai namanya Asysyabab yang berarti Pemuda, pesantren ini akan terus berjiwa muda dan penuh semangat melahirkan pemuda-pemuda pejuang Islam yang hafizh Alqur’an, berakhlak mulia, dan terampil memanfaatkan teknologi, terutama multimedia,” ujar Mohammad Muchsin.

Kedua, berlokasi tidak jauh dari Jakarta namun ketika sudah tiba di pesantren Asysyabab terasa hening, sejuk, dan jauh dari ingar bingar kehidupan kota. Tepatnya berada di Kampung Limus nunggal, Desa Ciherang Pondok, Caringin, Bogor. Sekirahanya 3 kilometer dari pintutol Caringin-Cikreteg. 

Suasana sejuk pegunungan, pemandangan gunung salak yang elok dan menawan tersaji indah membuat para santri betah dan khusyuk belajar dan menghafal Al Quran. Ditambah aliran sungai di bawahnya semakin memperlengkap keasrian pesantren. Santri sewaktu-waktu dapat bermain sepak boa dan berenang sepuasnya di sungai.

“Di sini kami sangat nyaman dan senang dengan suasana yang ada, saya pernah mondok di tempat lain tapi bosan dan akhirya keluar, di sini alhamdulillah betah karena suasananya enak dan ustadz-ustadznya asik-asik masih muda-muda” ucap Rif’an.


Ketiga, memadukan tiga program unggulan yaitu santri ditargetkan Hafal 30 juzz selama tiga tahun dan bersanad hingga Rasululloh, santri mampu berbahasa Arab secara lisan dan tulisan, serta santri memilki keterampilan multimedia. 

“Jadi kami tidak ingin santri hanya menghafal Al Quran, tapi mereka tidak mengerti arti dan maknanya sehingga kami sangat menekankan juga pembelajaran Bahasa Arab lisan maupun tulisan, dan ilmu-lmu keagamaan lainnya. Lalu memberikan keterampilan di bidang multimedia menjadi nilai lebih Asyysabab,” jelas Ustadz Kasif Heer. 

Lebih lanjut untuk pelajaran dan pendidikan formal, Ustadz Kasif Herr menjelaskan santri tetap mendapat pendidikan formal yang porsinya disesuaikan, dan selepas lulus dari pesantren santri tetap mendapatkan ijazah pendidikan formal tingkat SMP/MTs dan tingkat SMA/SMK.

Keempat, pesantren Asysyabab berkomitmen memberikan beasiswa pendidikan kepadapada santri yatim piatu serta dhuafa. Tidak hanya santri yang berbayar, pesantren tahfizh multimedia Asysyabab juga menerima para santri dari kalangan yatim dan dhuafa sebagai bentuk upaya memberikan kesempatan pendidikan seluas-luasnya kepada siapa saja yang ingin nyantri. 

“Lebih dari 50 persen santri kami dari kalangan yatim atau dhuafa, mereka kami gratiskan dan ahamdulillah sejauh ini banyak para dermawan dan muhsinin yang membantu keuangan pesantren Asyabab, semoga lebih banyak lagi yang terpanggil untuk membantu,” jelas Ustadz Kasif Heer.[fah]


Komentar Pembaca