PINDAH MAZHAB, BUAT APA?

Kajian  SABTU, 09 OKTOBER 2021 | 13:25 WIB

PINDAH MAZHAB, BUAT APA?

Ustadz Ahmad Sarwat/ist

Bisakah kita pindah Mazhab, ustadz? Secara teori bisa-bisa aja sih, tapi buat apa? Sebab secara praktek urusan pindah mazhab sulit dilakukan. Tidak semudah yang kita pikirkan.

Sebab bermazhab itu kan ibarat orang hidup di suatu lingkungan dan seluruh kehidupan kita pastinya dipengaruhi dengan lingkungan itu. Tidak bisa dengan mudah tiba-tiba kita berubah sendirian dan jadi bertentangan dengan lingkungan kita.
 
Contoh sederhananya adalah masalah bahasa. Kenapa Anda bicara dalam bahasa Indonesia dan bukan berbahasa Inggris atau Arab?

Jawabannya karena kita tinggal di Indonesia. Semua orang bicara pakai bahasa Indonesia. Tidak ada orang yang bicara pakai bahasa Arab atau Inggris, kecuali seuprit. 

Nggak mungkin dong kalau tiba-tiba kita langsung pindah jadi berbahasa Inggris atau bahasa Arab. Dan buat apa sih ngomong bahasa asing di negeri sendiri? 

Emangnya situ sudah pernah kursus bahasa asing? Terus kursus bahasa asing itu tujuannya buat apa?

Dari mana ceritanya kok tiba-tiba pindah ke bahasa Inggris atau bahasa Arab? Dan buat apa juga kok pakai acara ganti bahasa. Buat apa?

Begitu juga dalam urusan bermazhab. Selama kita tinggal di negeri yang mazhabnya Syafi'i, tidak mudah ujug-ujug pindah ke mazhab lain. Dan buat apa juga? Toh tidak ada kepentingannya juga.

Sebaliknya, saudara kita orang Pakistan yang sejak kecil terdidik dalam frame Mazhab Hanafi. Tidak mudah bagi mereka tiba-tiba jadi bermazhab Syafi'i. Buat apa? Toh tidak ada kepentingannya juga. 

Ustadz, bukankah semua mazhab itu benar dan kita boleh pilih yang mana saja? Kenapa terkesan tidak boleh memilih mazhab?

Pastilah semua mazhab itu benar. Makanya buat apa capek-capek pindah Mazhab? Asal tahu aja, bermazhab itu bukan urusan pilihan. Sebab bermazhab itu tidak sama dengan pemilu, tinggal coblos salah satu. 

Bermazhab itu lebih mirip dengan berbahasa. Siapa saja yang tinggal di suatu negara, maka dia cenderung pandai menguasai bahasa negeri itu. Maka tidak mudah kita ujug-ujug pindah ke bahasa lain, kecuali kita kursus bahas asing dulu. Jadi berbahasa itu bukan masalah pilihan, berbahasa itu faktor taqdir. 

Kita ditaqdirkan lahir di Indonesia, ya sudah lah kita jadi berbahasa Indonesia. Teman kita ditaqdirkan lahir di Saudi, ya sudah lah dia jadi berbahasa Arab.

Sebelas dua belas dengan beragama. Kita lahir di keluarga muslim, maka kita pun dididik secara agama Islam. Pindah ke agama lain bukan hal sepele. 

Tekan kita lahir di keluarga Kristen, Hindu, Budha atau Konghuchu. Wajar kalau dididik dengan keyakinan agama orang tua dan lingkungan.

Pindah ke agama lain termasuk ke Islam jelas bukan perkara sederhana. Lagian pasti akan ditanya: ngapain ujug-ujug pindah agama?

Ustadz, jadi maksud ustadz kita ditaqdirkan terpenjara dalam Mazhab Syafi'i dan tidak boleh pindah Mazhab?

Bukan terpenjara tapi justru dapat karunia. Sebab tahukah anda bahwa mazhab Syafi'i itu justru mazhab yang paling keren?

Pertama, Mazhab Syafi'i boleh dibilang menggabungkan dua kekuatan Mazhab Hanafi dan Maliki. Semacam edisi penyempurnaan dari produk sebelumnya.

Kedua, Mazhab Syafi'i paling banyak mengalami penyebaran di banyak negeri. Sehingga dimanapun kita berapa, nyaris ketemu dengan Mazhab Syafi'i. 

Ketiga, khusus di Indonesia dan beberapa negara lain, justru yang tersedia hanya Mazhab Syafi'i.
 
Keempat, literatur Mazhab Syafi'i termasuk yang paling banyak ditulis sepanjang sejarah. Sehingga kita tidak akan kehabisan bahan rujukan. 

Kelima, Mazhab Syafi'i paling banyak varian ulamanya dengan beragam perbedaan pendapat secara internal.

Jadi kita tidak terpenjara di dalam Mazhab Syafi'i, tapi dapat anugerah ditaqdirkan hidup di negeri bermazhab Syafi'i.

Maka secara bahasa, kita tidak pernah mengatakan: 'terpenjara di surga'. Yang kita katakan bahwa kita dikaruniai masuk surga.

Sebegitu rendah kah Mazhab Syafi'i dalam pandangan kita, sehingga kita harus meninggalkannya dan kudu dicampur dengan mazhab lain?

Sebegitu keren kah mazhab lain sehingga kita kudu mentalifqnya dengan mazhab kita?
Kok bisa-bisanya menyangka mazhab lain lebih keren? Siapa yang ngajarin? Memangnya pernah kuliah di jurusan perbandingan Mazhab?[***]


OLEH: USTADZ AHMAD SARWAT, LC., MA
Pendiri Rumah Fiqih Indonesia (RFI), Direktur Sekolah Fiqih, 3. Penulis 18 Seri Fiqih Kehidupan, Ketua Umum di Yayasan Daarul-Uluum Al-Islamiyah.



Komentar Pembaca