Pertamina Bantah Kebakaran Kilang Balongan Jadi Momentum Penambahan Kuota Impor BBM

Ekonomi  KAMIS, 30 SEPTEMBER 2021 | 07:45 WIB

Pertamina Bantah Kebakaran Kilang Balongan Jadi Momentum Penambahan Kuota Impor BBM

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati/Net

Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Nicke Widyawati memastikan pihaknya tidak menambah kuota impor usai insiden kebakaran di Kilang Balongan, Indramayu, Jawa Barat pada Maret lalu.

Ia sekaligus menepis isu yang sampai ke telinganya bahwa kebakaran terjadi agar perseroan bisa menambah kuota impor BBM. Menurut Nicke, kilang hanya ditutup sehari usai kejadian dan berproduksi kembali keesokan harinya setelah dipastikan aman beroperasi.

"Hari berikutnya kami pastikan tidak ada masalah kami on-kan sehingga tidak ada tambahan impor. Waktu itu kami sampaikan ke publik bahwa tidak ada tambahan impor karena kejadian ini, sehingga ini menepis isu kebakaran terjadi hanya untuk tambah impor, tidak," jelas Nicke pada Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VII DPR RI, Rabu (29/9).

Nicke menyebut hilangnya produksi sehari tersebut dapat ditutupi oleh Kilang Cilacap sehingga tidak dibutuhkan pasokan tambahan dari luar negeri. "Kami bisa pastikan dengan data dan fakta, kami bisa back up dari Kilang Cilacap," kata dia.

Pada awal April lalu selepas terjadi kebakaran di Pertamina RU VI Balongan, beberapa pihak memprediksikan perusahaan minyak negara tersebut bakal mengimpor BBM.

Misalnya eks sekretaris Kementerian BUMN Said Didu menyebut setidaknya Pertamina harus mengimpor 125 ribu barel minyak per hari guna menutupi hilangnya produksi minyak Balongan. Asumsi diambil dari kapasitas produksi Balongan yang mencapai 125 ribu barel per hari.

"Kelangkaan di masyarakat bisa diatasi tapi dipastikan Pertamina harus mengimpor dan menghabiskan devisa sebesar 125 ribu barel per hari dan Pertamina kehilangan keuntungan," jelasnya pada diskusi Narasi Institute, Jumat (21/4).

Sepaham, Pengamat Center for Petroleum and Energy Economics Studies (CPEES) Kurtubi menilai terhentinya produksi di kilang Pertamina bakal berimbas pada menipisnya stok BBM Pertamina.

Selain dipasok dari kilang Pertamina lainnya, ia menyebut tambahan lain akan dipenuhi lewat impor. Tak ada kebakaran pun, menurut dia, pemerintah masih bergantung pada impor, apalagi bila ada kebakaran kilang.

"Tambahannya ya impor karena sebelum ada kecelakaan kebakaran ini kita amat sangat tergantung BBM impor. BBM impor luar biasa gedenya karena kapasitas kilang terbatas banget," terang dia.[tyo]

 


Komentar Pembaca