Mengenal Ikat dan Penutup Kepala Laki-laki, Tanjak Identitas Melayu Sejati!

Tentang Sumsel  KAMIS, 23 SEPTEMBER 2021 | 13:45 WIB | Irmayani

Mengenal Ikat dan Penutup Kepala Laki-laki, Tanjak Identitas Melayu Sejati!

Budayawan Sumatera Selatan, Ali Hanafiah MM saat memberikan contoh pembuatan tanjak / MoeslimChoice.com

Tanjak merupakan salah satu aksesoris pakaian untuk laki-laki di Melayu, tanjak memiliki lambang kewibawaan di kalangan masyarakat Melayu, semakin tinggi dan kompleks bentunya akan menunjukkan semakin tinggi pula status sosial sipemakainya.

Tanjak biasanya dipakai masyarakat Melayu seluruh lapisan kelas sosial, baik dilingkungan kerajaan sebagai kalangan bangsawan maupun lapisan masyarakat kelas bawah.

Muhammad Idris, Budayawan Sumatera Selatan (Sumsel) mengatakan, dalam budaya Melayu, pemakaian tanjak berkaitan dengan adab dan adat. Selain tanjak, dunia Melayu juga mengenal beragam ikat dan penutup kepala seperti Kepudang, Tengkuluk dan sebagainya.

"Tradisi menggunakan ikat kepala ini sudah dikenal hampir di seluruh nusantara, tanjak Melayu Sumatera dan Semenanjung sedikinya ada 25 jenis," katanya, saat menjadi narasumber dalam seminar sehari Hasil Kajian Koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan dengan tema "Ikat dan Penutup Kepala Laki-laki Berdasarkan Pengaruh Islam, Kolonialisme Belanda dan Penduduk Jepang".

Palembang memiliki sedikitnya tiga jenis tanjak, yakni Meler, Kepundang dan Bela Mumbang. Tanjak Palembang  memiliki makna layar atau layar yang dipasang untuk siap berlayar, pemakaian tanjak merupakan identitas orang Melayu sejati. “ Dulu jika tidak memakai tanjak dianggap melanggar adat,” tambahnya.

Hadir juga Budayawan Sumatera Selatan, Ali Hanafiah MM menceritakan terkait keberadaan tanjak di Museum Negeri Sumatera Selatan, yang mana koleksi tanjak bisa didapat dari membeli dengan melibatkan tim pengkaji khusus dan bisa juga hibah dari masyarakat.

“Tanjak dan iket- iket batik banyak ragamnya, misal tanjak Bela Mumbang yang didapat dari hibah, biasanya dilengkapi dengan atribut, identik dengan kebaya landung, sewet setengah tiang,” jelasnya.

Ada lagi tanjak Kepudang, biasa dipakai para Sultan dengan perbedaan pada bahan dan hiasan pada tanjak serta ada tanjak  Meler. “Ukuran standar tanjak adalah 90 cm x 90 cm, dengan berbagai bentuk,  ada tinggi dan miring,”tambahnya.

Tak hanya tanjak, koleksi lain yang dimiliki Museum Negeri Sumatera Selatan adalah pakaian pengantin, penutup kepala laki-laki yang terdiri dari Kesuhun (mahkota), biasanya dipakai dengan sundul, cempako, ada sunting. Biasanya untuk hiasan gede laki-laki, biasanya untuk kelas bangsawan.

Ada juga Ketu, aesan selendang menteri atau Pak Santo. Awalnya dari kopcah alpiah (kopcah beludru, songket) serta ada Kopcah Tempurung (Kopcah Pesirah, Kopcah Pembarab).

Kepala Museum Negeri Sumatera Selatan, H Chandra Amprayadi menambahkan  bahwa Museum Negeri Sumatera Selatan mempunya koleksi tutup kepala, semua yang bisa kaji adalah koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan, mulai dari zaman Prasejarah dan Masa peralihan Kerajaan Sriwijaya, Hindu dan Kesultanan Palembang, Kolenial, Pemerintahan Jepang dan Kemerdekaan .

“Dalam pembahasan ini, bukan khusus tanjak saja, tapi semua ikat dan penutup kepala laki-laki koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan seperti yang dipakai oleh arca-arca yang ada di Museum dengan tujuan mempopulerkan dan akan melakukan pelestarian,” ulasnya.

Tanjak koleksi Museum Negeri Sumatera Selatan sebagaian adalah hibah dari masyarakat, pengrajin, kolektor hingga budayawan yang memiliki tanjak dengan nilai sejarah,”pungkasnya. [irm]


Komentar Pembaca