Safar Bulan Sial? Ini Penjelasan Rasulullah SAW

Kajian  SELASA, 14 SEPTEMBER 2021 | 19:10 WIB | Rosy Idah

Safar Bulan Sial? Ini Penjelasan Rasulullah SAW

Safar merupakan bulan kedua dalam Kalender Hijriyah. Oleh sebagian masyarakat di Indonesia, Safar dianggap sebagai bulan sial. Karena itu tidak sedikit orang menghindari melaksanakan pernikahan atau pembukaan bisnis di Bulan Safar.

Mitos itu, diktup dari mui.or.id pada Selasa (14/9/2021), berasal dari masyarakat Arab Jahiliyyah, yang  mempercayai Safar sebagai bulan penuh kesialan, kemalangan dan hal-hal buruk lainnya. Kepercayaan tersebut bahkan tetap ada sampai masa Rasulullah SAW.

Dalam Bahasa Arab SAFAR berarti Kosong. Ada juga orang Arab dulu mengartikan Safar sebagai penyakit dalam perut  berbentuk ulat besar yang mematikan. Karena itu ada anggapan Safar sebagai bulan sial atau naas.

Mengutip dari buku karangan HA Zahri berjudul “Pokok-Pokok Akidah yang Benar”, kepercayaan bahwa Safar mendatangkan kesialan adalah Khurafat atau mitos.

Bahwa Safar disebut sebagai bulan sial adalah khurafat atau cerita rekaan. Dan itu sudah dibantah oleh Nabi Muhammad Rasulullah SAW dalam sebuah hadits yang berbunyi:
لا عدوى ولا طيرة ولا هامَة ولا صَفَر
“Tidak ada kesialan karena ‘adwa (keyakinan adanya penularan penyakit), tidak ada thiyarah (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak ada hammah (keyakinan jahiliyah tentang rengkarnasi) dan tidak pula Safar (menganggap bulan Safar sebagai bulan haram atau keramat).” (HR Bukhari)

Muhammad Khoirul Huda dalam bukunya Ilmu Matan Hadis, menyitir Abu ‘Ubaid bahwa melalui hadits di atas, Rasulullah SAW sedang berupaya mengkritik keyakinan khurafat kaum jahiliyyah.

Yaitu keyakinan bahwa kesialan, keburukan nasib, dan mara bahaya disebabkan sesuatu di luar takdir Allah seperti karena pengaruh hama/wabah (‘adwa), maupun musim atau waktu tertentu seperti Safar.

Kepercayaan semacam itu bukanlah bagian dari ciri orang beriman, yakni orang yang memahami bahwa segala rahasia dari peristiwa-peristiwa itu hanya ada dalam genggaman Allah SWT, dan tidaklah suatu peristiwa itu terjadi melainkan karena rencana-Nya.

Bukanlah keyakinan seorang mukmin pula untuk membenci Safar, ataupun enggan menyambutnya, ataupun menahan diri dari urusan hidup seperti pada hari-hari dan bulan lain biasanya.[ros]


Komentar Pembaca
Preman Jadi Mualaf

Preman Jadi Mualaf

Ahad, 26 September 2021 | 18:55

Tragis Pensiunan Polisi Ngemis Jadi Manusia Silver