Sumur Resapan di DKI Jakarta Dibuat di Jalan dan Trotoar, Pengamat: Ada Muatan Politis

BERITA  JUMAT, 10 SEPTEMBER 2021 | 19:30 WIB | Deman

Sumur Resapan di DKI Jakarta Dibuat di Jalan dan Trotoar, Pengamat: Ada Muatan Politis

foto/net

Realisasi pembangunan sumur resapan di Jakarta mencapai 2.974 titik pada tahun 2020. Jumlah itu terbilang jauh dari target yang dicanangkan Pemprov pada 2020-2022 yakni sebanyak satu juta lebih sumur resapan.

Namun di tahun 2021, Pemprov DKI Jakarta, melanjutkan pembangunan lebih dari satu juta sumur resapan atau drainase vertikal, yang menjadi salah satu pengendalian banjir Jakarta.

Pemprov DKI Jakarta merencanakan pembangunan 300 ribu sumur resapan (drainase vertikal) dengan anggaran senilai Rp 400 Miliar, yang telah dialokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2021.

Pekerjaan yang dilakukan para vendor pada penentuan titik capaian tidak terinventarisir secara baik oleh Kasatpel Kecamatan dan Sudin, pada daerah atau kawasan banjir dan genangan, sehingga merusak jalan utama warga dan lingkungan pemukiman yang pada akhirnya dapat menimbulkan persoalan baru yang berdampak seperti kembalinya banjir.

Untuk menanggulangi banjir, upaya ini tentu masih sangat dipertanyakan efektifitasnya. Bila belum jenuh air, angka perkolasi cuma 4,5 mm/jam dikali luasan sumur merupakan angka yang sangat kecil, sehingga aliran air permukaan run off tetap merajalela.

"Lebih 'konyol' lagi, banyak sumur resapan yang dibuat di jalan. Bukan sekedar bahu jalan tetapi di perkerasannya. Lah, bukankah badan jalan dan pondasi jalan harus 'dibebaskan' dari air. Alih-alih menyelesaikan masalah tetapi malah menimbulkan masalah lain. Penyerapan banjir lain dengan penyerapan dana," Kata Muhanto (53), warga Cipinang besar selatan Jakarta Timur.

Proyek kegiatan sumur resapan tahun 2021 di semester 1 ini, merupakan kegiatan yang langsung ditangani Dinas Sumber Daya Air (SDA), Kasatpel Kecamatan dan sudin tidak dilibatkan, dan semester 2 tahun 2021, baru mereka dilibatkan sebatas monitoring bukan pengawasan dan pengendalian kegiatan.

"Itu bukan kegiatan kami. Kegiatan yang kami lakukan hanya sebatas pengawasan dan jika pun ada, hanya perbaikan saluran dengan membuat turap serta penutup saluran," jelas Puryanto, Kasi Pemeliharaan Sudin SDA Jakarta Timur, Jumat (10/9).

Menanggapi kegiatan ini, Pengamat Kebijakan, Victor Irianto (Ketua Lp2AD) mengatakan, kuat dugaan merupakan kolaborasi antara anggota DPRD DKI Jakarta dan para pengembang, agar kegiatan sumur resapan yang menamakan pencegahan banjir harus bisa dilakukan sampai ke Pemukiman, Sekolah, Puskesmas dan Pasar, agar anggaran APBD dapat terserap dengan baik.

"Kenapa mereka menempatkan titik tersebut di badan jalan dan trotoar, untuk mengurai genangan. Karena, genangan ada di badan jalan dan trotoar dan kenapa juga pihak Dinas SDA mau sebagai pelaksana. Saya mencurigai ada muatan politis dibalik kegiatan ini, Kita lihat saja nanti siapa yang bersuara keras," pungkas Victor Irianto, Jumat (10/9). [mt]


Komentar Pembaca