Sebut Karya Seni, Gelora Minta Pemerintah Tak Sensitif dengan Fenomena Maraknya Mural Kritik

POLKAM  KAMIS, 09 SEPTEMBER 2021 | 12:40 WIB

Sebut Karya Seni, Gelora Minta Pemerintah Tak Sensitif dengan Fenomena Maraknya Mural Kritik

Ketum Gelora Anis Matta/Net

Ketua Umum DPN Partai Gelora Indonesia, Anis Matta meminta kepada pemerintah untuk tidak terlalu sensitif dengan fenomena maraknya mural yang bermunculan akhir-akhir ini. Alasannya, karena karya seni tersebut merupakan bentuk ekspresi yang bisa saja berbentuk kritik sosial.

“Selain merupakan karya seni yang bersentuhan dengan realitas kehidupan, mural juga bisa menyampaikan pesan-pesan positif,” kata Anis Matta dalam pengantar diskusi bertajuk “Mural yang Viral, Dihapus di Dinding Menjalar ke Medsos” yang dilaksanakan Gelora TV, Rabu (8/9/2021).

Karena itu, Anis berpendapat supaya pemerintah tidak perlu terlalu sensitif dengan menghapus karya seni tersebut. Sebab semakin dihapus, malah mural-mural baru bertambah dan banyak.

“Kalau pemerintah sensitif, justru akan bermunculan mural-mural lainnya. Bahkan akhir-akhir ini sudah mulai merambah di media sosial (medsos),” sebutnya.

Hanya saja kata mantan Wakil Ketua DPR RI ini meminta masyarakat dalam menyampaikan ekspresi harus ada etika kesopanan, termasuk mengekspresikan dalam bentuk mural. Sebab kebanyakan mural yang selama ini dibuat terkesan kritik, terutama pada pemerintah atau penguasa.

“Bila perlu, mural bisa dikembangkan menjadi produk seni dan masuk dalam program pengembangan ekonomi kratif,” saran Anis Matta.

Merespons hal tersebut, Seniman Iwan Aswan menyayangkan aksi penghapusan mural-mural yang berpotensi menghambat ekspresi para pembuatnya. Ia menegaskan mural tidak perlu ditakuti karena menjadi salah satu bentuk karya seni serta kebebasan berekspresi yang dituangkan dalam suatu media namun tetap berada dalam koridor etika dan moral.

“Tidak perlu ada semacam trauma atau ketakutan. Biarkan saja, orang juga kalau liat [mural] suka ketawa,” kata Iwan.

Iwan juga menekankan pemerintah seharusnya menghargai karya yang ada karena di dalamnya merupakan perwujudan ekspresi anak bangsa dalam mengkritisi realitas yang ada.

Ia juga berharap pemerintah dapat menyediakan wadah baru bagi para seniman untuk menuangkan kreativitasnya secara leluasa.

“Berikanlah di monas, tembok yang besar lalu silahkanlah kalian berekspresi. Ini sangat menarik. Itukan estetik, sebaiknya janganlah dihapus. Justru harus diakomodir,” ia menambahkan.

Sementara itu, Budayawan Ridwan Saidi mengatakan mural merupakan salah satu karya seni tertua yang sudah ada sejak ribuan tahun. Dia mencontohkan di sejumlah goa di Pulau Sumatera dan Sulawesi ditemukan mural dalam bentuk tulisan dan gambar maupun grafis yang memberikan pesan di masa itu.

"Bahkan mural-mural itu juga telah menggambarkan sistem kekuasaan atau pemerintahan di masanya. Dengan mural-mural itu para sejarawan bisa mendapatkan gambaran peradaban masa lalu," jelasnya.

Penghapusan mural-mural bernada kritik memang ramai dilakukan di sejumlah daerah. Di Blitar, mural kritik ditimpa dengan cat merah oleh petugas kelurahan jelang kedatangan Presiden Joko Widodo ke kota itu pada Selasa (7/9).

Mural yang berbunyi ‘Dipaksa sehat di negara sakit’ di Pasuruan juga kini sudah hilang jejaknya. Begitu pula dengan mural-mural lainnya di Solo dan Yogyakarta yang kini sudah dihapus.

Insiden penghapusan mural mulai menyeruak ketika aparat memburu pembuat mural ‘Jokowi 404: Not Found’ di Tangerang. Pembuat mural akhirnya lolos dari jeratan pidana setelah kasusnya disorot banyak pihak.[tyo]


Komentar Pembaca