Pegawai KPK Nonaktif Bantah Novel Lindungi Anies Baswedan

HUKUM  MINGGU, 29 AGUSTUS 2021 | 21:15 WIB

Pegawai KPK Nonaktif Bantah Novel Lindungi Anies Baswedan

Novel dan Anies/Net

Salah satu pegawai KPK nonaktif, Rieswin Rachwell menepis isu yang menyebut penyidik senior Novel Baswedan melindungi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dalam penyelidikan atau penyidikan kasus korupsi yang sedang ditangani lembaganya.

Menurut Rieswin, pegawai KPK, terutama di bagian penyelidik dan penyidik memiliki kode etik untuk tidak ikut campur dalam kasus yang menjerat atau terkait anggota keluarga mereka.

"Di KPK ada manajemen konflik kepentingan. Di mana, jika ada kerabat yang kasusnya sedang ditangani oleh KPK, maka pegawai tersebut tidak bisa mengikuti perkara tersebut," kata Rieswin dalam diskusi daring YLBHI, Minggu (29/8).

Rieswin merupakan satu dari 57 pegawai KPK yang dinyatakan tidak lulus dalam tes wawasan kebangsaan (TWK) sebagai alih proses menjadi ASN.

Menurut dia, isu yang berkembang dan menghubungkan Novel dengan Anies, hanya gosip yang didengungkan pada buzzer untuk meruntuhkan kepercayaan masyarakat. Dalam perkembangannya, kata dia, isu-isu itu telah berbuntut panjang dan telah berhasil meruntuhkan KPK.

"Jadi memang, hal yang tidak berdasar tapi digoreng terus menerus, sampai akhirnya publik ada yang percaya," kata dia.

Bahkan, lanjut Rieswin, tak sedikit anggota keluarga dan kerabat para pegawai KPK sendiri lebih percaya isu-isu yang didengungkan para buzzer tersebut. Tak terkecuali anggota keluarga dia sendiri.

Isu yang paling masif, kata dia, terutama soal keberadaan Taliban di tubuh komisi antirasuah. Dalam isu yang berkembang, para buzzer menyebut KPK telah disusupi para polisi Taliban. Ujungnya, isu tersebut dibuang untuk menghilangkan kepercayaan masyarakat.

Rieswin berani bertangung jawab dan menjamin isu yang dihembuskan para buzzer tersebut, semuanya hanya omong kosong.

"Ada beberapa saudara yang lebih percaya pada gorengannya pada pendengung dibanding saudara mereka sendiri yang adalah pegawai KPK," ucap Rieswin.

"Semasif itu upaya labaling dan stigmatisasi yang dilakukan. Untuk apa? Bagi saya, ya, untuk meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap KPK. Bagi saya secara profesionalisme, performance, KPK bisa mempertanggungjawabkan semuanya," imbuhnya.[tyo]


Komentar Pembaca