Cerita Petugas TPU Padurenan, Tunggu Jenazah Covid-19 Rela Tidur di Atas Kuburan

Daerah  KAMIS, 05 AGUSTUS 2021 | 14:45 WIB | Giri Sasongko

Cerita Petugas TPU Padurenan, Tunggu Jenazah Covid-19 Rela Tidur di Atas Kuburan

Net

Indonesia bahkan dunia masih berduka, virus Covid-19 masih merajalela. Tak sedikit nyawa hilang, keluarga terpisahkan, anak-anak harus hidup sebatang kara karena orang tua kalah oleh virus asal China ini.

Bahkan, petugas pemakaman rela berkerja 24 jam. Setiap saat ada saja jenazah yang datang, menyaksikan tangis keluarga yang pecah. Belum juga usai pemakaman, jenazah lain sudah menunggu.

Kota Bekasi menjadi salah satu daerah di Provinsi Jawa Barat dengan kasus Covid-19 yang cukup tinggi. Melansir pikobar.jabarprov.go.id, data seminggu terakhir per 19-25 Juli 2021, Bekasi berada di kursi pertama sebagai daerah yang terkonfirmasi positif Covid-19 tertinggi di Jawa Barat, yakni sebanyak 6.805 orang.

Sirine ambulance pembawa jenazah bersuara hampir setiap hari di jalan yang memiliki julukan Kota Patriot Ini. Hal itu sebagai tanda petugas pemulasaran tak henti bekerja keras untuk memberikan hak terakhir para korban, yaitu hak untuk dimakamkan. Beragam kisah pun lahir dari petugas pemakaman jenazah pasien Covid-19 di kota tersebut.

Salah satunya berasal dari pekerja di TPU Padurenan, Mustikajaya, Kota Bekasi. Ia bernama Warsim, yang telah bekerja tanpa batas waktu.

Malam sudah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Suara Warsim masih terdengar begitu semangat di ujung telepon.

"Sebentar ya, ada telepon dari rumah sakit, biasanya mau ada jenazah untuk dimakamkan," kata Warsim yang langsung menutup teleponnya.

Warsim, awalnya sehari-hari bertugas sebagai pemakam jenazah di TPU Perwira, Bekasi Utara. Semenjak virus Covid-19 mewabah, para petugas di TPU Padurenan, tempat pemakaman khusus jenazah Covid-19 di Kota Bekasi kewalahan. Sejak saat itu, dirinya ditugaskan piket di lokasi tersebut selama dua hari sekali.

Warsim mengaku, saat pertama diperbantukan piket di TPU Padurenan, selalu merasa ada kekhawatiran saat memakamkan pasien Covid-19. Bahkan, setiap kali hendak berangkat kerja, ia menjadi takut lantaran virus mematikan ini mudah tertular. Apalagi, usianya yang telah menyentuh setengah abad.

Meski begitu, pada akhirnya Warsim tetap berangkat dan terus bertugas hingga saat ini. Bapak lima anak ini kembali sadar bahwa semuanya telah menjadi tugasnya. Manusiawi jika ada rasa takut, khawatir tertular dan sebagainya.

Sesampainya di tempat kerja, Warsim saling sapa bersama 74 petugas lainnya. Mereka semua adalah anggota pemulasaran dari petugas gabungan di tiga pemakaman, yaitu TPU Padurenan, TPU Perwira dan TPU Jatisari, dibantu 10 orang tenaga bantuan dari BPBD Kota Bekasi.

Saat bekerja, mereka terbagi dalam beberapa kelompok yang terdiri dari enam orang. Di antaranya ditugaskan dengan masing-masing tanggungjawab, mulai dari mengangkat peti jenazah, menggali, mengubur, hingga merapikan tanah setelah pemakaman. Dalam 24 jam, para tim bekerja dengan tiga shift, yaitu pagi hingga sore, sore sampai malam serta malam hingga matahari hampir mencapai ufuknya.

"Proses pemakaman jenazah harus berjalan sesuai protokol kesehatan yang ditetapkan. Petugas diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD) mulai pengantaran hingga proses pemakaman selesai," tambahnya.

Selain itu, demi meringankan beban kerja karena tingginya angka kematian, mereka diperbantukan dengan dioperasikannya 2 beko atau ekscavator, alat berat sebagai mesin penggali lahan kubur dan perata tanah.

Setiap harinya, kata Warsim, ia dan tim terbiasa memakamkan puluhan hingga lebih jenazah. Bahkan, jenazah datang tidak dengan waktu yang dapat ditentukan. Tak hanya saat panggilan menuju rumah duka, tetapi juga hingga pemakaman.

Manalagi, saat larut malam, jika rasa katuk tidak tertahan dan jenazah belum datang, ia merebahkan diri disela-sela pusara makam untuk tidur sebentar.

Kini, dukungan keluarga yang diterima jadi motivasi terkuatnya untuk bertahan. Warsim hanya bisa memohon kepada Allah SWT untuk selalu diberikan kesehatan kepada dirinya dan keluarga. Sembari ia beraktivitas menjalankan protokol kesehatan yang ketat dan mengonsumsi vitamin untuk tubuhnya yang tak lagi muda. [Irm]


Komentar Pembaca