Calon Paskibraka Dianulir karena Covid, BPIP: Selesaikan Secara Kekeluargaan

NASIONAL  RABU, 04 AGUSTUS 2021 | 07:40 WIB | Aldi Rinaldi

Calon Paskibraka Dianulir karena Covid, BPIP: Selesaikan Secara Kekeluargaan

Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi berharap persoalan, Calon Anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) yang dianulir karena positif Covid-19 ini dapat diselesaikan secara musyawarah dan mufakat.

Sudah diberitakan sebelumnya, seorang Calon Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) dari Sulawesi Barat (Sulbar), Christina (16) menjadi persoalan karena tidak jadi dikirim ke Jakarta dengan alasan positif COVID-19.

"Saya sarankan persoalan tersebut dapat diselesaikan secara musyawarah mufakat dan kekeluargaan," kata Yudian dalam keterangan tertulis, Selasa, (3/8/2021).

Yudian menjelaskan, BPIP sendiri diberikan mandat kewenangan melaksanakan pembinaan Ideologi pancasila kepada generasi muda melalui program paskibraka.

Dalam hal ini, BPIP berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olah Raga dan juga Kementerian Dalam Negeri serta Instansi terkait lainnya.

"Hal ini mengacu peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pembinaan Ideologi Pancasila Kepada Generasi Muda Melalui Program Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka), dan Peraturan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Nomor 1 Tahun 2021 tentang Peraturan Pelaksana Peraturan Presiden Nomor 13 Tahun 2021 tentang Pembinaan Ideologi Pancasila Kepada Generasi Muda Melalui Program Pasukan Pengibar Bendera Pusaka," jelas Yudian.

Sementara itu, jika mengacu sejarah, pengibaran bendera pusaka merah putih untuk pertama kali dibentuk oleh Presiden Republik Indonesia Pertama, kata Yudian, Bapak Ir. Sukarno.

"Pada waktu itu, Presiden Sukarno memanggil salah satu ajudan Beliau, yakni Mayor L. Husein Mutahar, untuk mempersiapkan dan memimpin upacara peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1946 di Gedung Agung Yogyakarta," paparnya.

Kemudian, Yudian menegaskan, sejarah itu juga telah dikuatkan oleh putri proklamator yakni Megawati Soekarnoputri yang juga seorang purna paskibraka Indonesia.

“Paskibraka dibentuk oleh Bung Karno, sebagai suatu simbol pasukan pengawal Bendera Pusaka yang dijahit oleh Ibu Fatmawati, sebelum kemerdekaan. Pasukan ini bertugas menaikkan dan menurunkan Bendera Pusaka di hari Kemerdekaan Republik Indonesia," ujar Yudian.

Oleh sebab itulah, lanjut Yudian, mengapa pasukan ini berformasi 17-8-1945 dan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka mencerminkan seluruh warga bangsa Indonesia, dari Sabang sampai Merauke

"Seperti halnya semboyan kita Bhineka Tunggal Ika, berbeda beda tetapi tetap satu. Maka itu pulalah sebabnya dirancang sebuah seragam atau uniform yang melambangkan sebuah kesatuan dan persatuan Indonesia, tanpa membedakan suku, adat dan agama," tambah Yudian

Lanjut, Yudian Menjelaskan, sesuai dengan arti frasa kata “uniform” yakni Uni yang artinya Satu, dan form yang artinya bentuk, atau “bentuk yang menyatukan”. Oleh karena itu, lanjut dia, seharusnya memang tidak ada perbedaan bentuk dan asesoris  seragam antara Paskibraka satu dengan Paskibraka yang lainnya.

"Hal tersebut sejalan dengan Peraturan Menteri Pemuda dan Olah Raga Nomor 65 Tahun 2015 tentang penyelenggaraan Kegiatan Paskibraka, yang melaksanakan Peraturan Presiden Nomor 71 Tahun 2018 tentang Seragam Dinas," pungkas Yudian.

Sebelumnya, keluarga mengamuk karena Christina gagal jadi calon Paskibraka asal Sulbar karena positif COVID-19. Kemudian, Keluarga Christina cekcok dengan pejabat Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mamasa.

Terkait hal ini, Keluarga mempertanyakan keputusan pemerintah daerah mengganti Christina dengan calon lain. Pasalnya, Christina telah dilepas secara resmi oleh Gubernur Sulawesi Barat Ali Baal Masdar.

Christina telah dinyatakan negatif COVID-19 usai tes PCR dua hari setelah gagal berangkat.[ros]

 


Komentar Pembaca