Dugaan Korupsi Grand Cempaka Resort, PT Jaktour Beri Apresiasi Atas Keseriusan Kejati

HUKUM  KAMIS, 29 JULI 2021 | 17:11 WIB | Aldi Rinaldi

Dugaan Korupsi Grand Cempaka Resort, PT Jaktour Beri Apresiasi Atas Keseriusan Kejati

Ilustrasi

Menanggapi siaran pers Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta, PT Jakarta Tourisindo angkat bicara terkait penetapan tersangka kepada mantan pegawainya dalam kasus dugaan korupsi penyalahgunaan dari pembayaran jasa perhotelan instansi pemerintah pada Grand Cempaka Resort & Convention yang merupakan unit usaha PT. Jakarta Tourisindo, BUMD Provinsi DK Jakarta.

"Kami memberikan apresiasinya terhadap keseriusan Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta dalam mengusut kasus tersebut," kata Corporate Secretary PT Jakarta Tourisindo, A.T Erik Triadi dalam keteranganya, Kamis (29/7).

Diketahui, kasus dugaan korupsi di Grand Cempaka Resort ditemukan pada hasil audit 2015 dan kemudian mengindikasikan terjadinya penyalahgunaan dana yang menyebabkan kerugian negara 2014-2015.

"Kami menghormati dan mengikuti proses hukum yang berlaku,” ucap Erik.

Erik mengatakan, kasus ini sudah terendus jauh sebelum kepemimpinan direksi saat ini dan oknum karyawan tersebut sudah lama diberhentikan serta tidak lagi menjadi bagian dari PT Jakarta Tourisindo sejak Juni 2017.

“Pada prinsipnya, kami tidak menoleransi adanya tindak pidana korupsi di internal perusahaan sehingga perusahaan tidak segan untuk mengakhiri hubungan kerja jika karyawan terbukti bersalah dalam kasus tindak pidana korupsi," tegasnya.

Erik mengungkapkan, dalam menjalankan bisnisnya, PT Jakarta Tourisindo selalu menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (Good Corporate Governance). Dimana prinsip transparansi, akuntabilitas dan independensi harus dijalankan dengan konsisten.

“Oleh karena itu, semua operasional perusahaan selalu patuh dan berada dalam koridor norma dan aturan hukum yang berlaku,” tandas Erik.

Sebelumnya, Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta telah menetapkan 2 orang tersangka terkait kasus korupsi penyalahgunaan yang berasal dari pembayaran jasa perhotelan instansi pemerintah pada Grand Cempaka Resort & Convention, unit usaha PT. Jakarta Tourisindo (BUMD) Provinsi DKI Jakarta.

Kasipenkum Kejati DKI Jakarta, Ashari Syam mengatakan, dua orang itu berinisial SY selaku General Manager dan SY selaku Chief Accounting.

"Dengan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Nomor : Print : 298/ M.1/Fd.1/01/2020 Tanggal 31 Januari 2020 atas nama tersangka Irfan Sudrajat, ditemukan alat bukti yang cukup untuk menetapkan tersangka baru yaitu saudara RI dan saudara SY sebagai pelaku peserta," kata Syam dalam keterangannya, Rabu (28/7).

Kemudian, Ia menjelaskan, penetapan tersangka terhadap RI telah tertuang dalam Surat Penetapan Tersangka Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Nomor : TAP-01/M.1.5/Fd.1/07/2021 tanggal 28 Juli 2021 dan penyidikannya dilakukan berdasarkan Surat Perintah Penyidikan Kepala Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta Nomor : PRIN-1600/M.1/Fd.1/07/2021 tanggal 28 Juli 2021.

Ashari menyebut, atas perbuatan para tersangka yang dilakukan sejak 2014 sampai Juni 2015 telah menyebabkan kerugian keuangan negara sebesar Rp5.194.790.618.

"Atas pertimbangan tim penyidik maka kedua tersangka tersebut tidak dilakukan penahanan, diantaranya karena alasan kedua tersangka tersebut dinilai cukup kooperatif dalam menjalani proses penyidikan selama ini," tutupnya. [Irm]


Komentar Pembaca
Preman Jadi Mualaf

Preman Jadi Mualaf

Ahad, 26 September 2021 | 18:55

Tragis Pensiunan Polisi Ngemis Jadi Manusia Silver